9.28.2015

Bangun Tidur Rasa Rumah

Bukankah kenangan adalah sesuatu yang sangat kita ingat?

Tesimpan rapi di memori?

Dan, bukankah apa-apa saja yang paling kita ingat adalah apa-apa saja yang paling kita rasakan?
Itulah gambaran perasaan. Di masa lalu kita merasakan suatu hal saat suasana tertentu. Maka, di masa depan kita dapat dengan mudah merasakannya lagi ketika hadir suasana yang sama seperti di masa lalu kita itu. Aku pun demikian...
Berbagai bentuk perasaan pasti pernah kita alami pada sesuatu yang kita sebut rumah. Senang, sedih, bahagia, marah, terpuruk, bangkit... Semuanya ada. Salah satunya adalah perasaan nyaman ketika bangun tidur. Entah bagaimana, perasaan nyaman yang sama bisa hadir bahkan ketika kita berada jauuuuh sekali dari rumah. Perasaan seperti di rumah. Feeling like home.
Akhirnya aku merasakannya disini, di rumah kayu tempat orang-orang baik hati tinggal—merekalah keluarga baruku. Ada umak, abak, Dea, Ayuk Mila, Yadi, Ari, dan Kak Dede yang lebih banyak di tempat kerjanya. Awalnya aku sedikit khawatir, apakah keluarga ini dapat menerimaku sebagai orang baru di rumah ini. Aku sedikit kikuk, tidak berani makan jika belum disuruh. Oh, ya, abak adalah seorang kepala dusun III di Kepayang. Hei, senyuman abak selalu bisa menghangatkan suasana, pun suara tertawa ibu. Aku sudah mulai terbiasa sekarang.
Hari-hari berlalu, aku sudah merasa tinggal di rumah sendiri sekarang. Keluarga ini berisi orang-orang yang begitu tulus, meskipun tidak dikatakan. Namun, aku tau. Kami biasanya tidur bersama di depan televisi yang hanya menyala ketika listrik genset hidup di malam hari. Berbagi kasur, bantal, guling, hingga selimut. Aku, Ayuk Mila, dan Dea. Kadang juga bersama ibu. Ahh, apalagi waktu mati lampu kemarin. Ada perasaan yang lebih hidup disana. Pun perasaan yang sama hadir ketika bangun tidur seperti ketika di rumah. Sulit menuliskannya lewat kata-kata. Yang jelas aku bersyukur, meskipun rumah selalu memiliki tempat spesial yang tak bisa tergantikan oleh apapun di dalam hati.
Terimakasih keluarga baik hati. Suatu saat ketika aku pulang ke rumah, aku akan menceritakan semuanya. Aku akan menceritakan kisah perjuangan abak melawan penyakitnya dan bagaimana abak mengajakku makan atau sekadar tersenyum ketika melihat kami berangkat ke sekolah, juga bagaimana abak begitu bersemangat mengendarai motor untuk pertama kali semenjak sakit—bagian ini selalu membuatku ingat kepada bapak di rumah.
Aku juga akan menceritakan tentang umak yang suara tawanya begitu renyah, juga tentang masakan-masakan umak yang enaaaak dan tak bisa jauh-jauh dari ikan atau sambal embem yang menandingi sambal bawang kesukaanku, serta keperkasaan umak mengerjakan banyaaak sekali pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh laki-laki.
Tak lupa, aku juga akan menceritakan tentang ayuk Mila, yang sudah seperti mbak sendiri. Aku akan menceritkan betapa bersyukurnya aku dipertemukan dengan ayuk Mila di rumah ini, juga tentang waktu-waktuku di rumah yang banyak aku habiskan untuk bercerita panjang lebar dengan ayuk saat makan atau duduk-duduk di beranda atas.
Dea, pasti aku akan menceritakan tentangnya. Anak terakhir umak yang menjadi sohib berangkat ke sekolah, kebetulan Dea adalah murid kelas lima di sekolah. Aku selalu menggodanya dengan menirukan gayanya memanggil-manggil umak atau menirukan suaranya saat bilang “aedaaaah, ibu ini...”, tapi yang jelas diam-diam aku begitu bangga kepada gadis tomboy ini. Dea adalah salah satu yang selalu rajin datang mengaji meskipun seharian ia bersekolah dan bermain.
Yadi dan Ari. Dua laki-laki di rumah ini yang jaraaang sekali di rumah. Yadi bekerja di pabrik yang cukup jauh dari rumah. Harus naik motor, menyeberangi laut, dan berjalan darat lagi. Meskipun terlihat cuek, tapi Yadi selalu menunjukkan perhatian dan penerimaannya kepadaku. Ketika di rumah dia seringkali nimbrung ketika ayuk dan aku sedang ngobrol atau sering memanggil “Mbak” bahkan hanya sekadar menanyaiku basa-basi. Ari pun demikian. Meskipun dia adalah yang paliiiiing pendiam di rumah ini, tapi dia juga bisa menunjukkan perhatian. Yang aku tak akan lupa adalah ketika Ari memanggilku yang kebetulan sedang di kamar bawah. “Bu...” aku belum menjawab. Dia memanggil lagi, “Bu... Oooh, ibu...” dengan nada suara seperti di upin-ipin. “Makan bu...”
Yaaa, hanya sesederhana itu memang. Namun, dari sanalah rasa nyaman itu hadir.
Sekali lagi terimakasih atas rasa nyaman ini...
 

 

2 komentar:

silvi landa mengatakan...

988Bet | Agen Sbobet | Agen Judi | Agen Bola
Agen Sbobet
Agen Bola
Agen Judi
Bandar Judi
Bandar Bola Bonus
Bandar Asia77
Agen Poker
Agen Asia8
Agen 1sCasino
Agen Casino
Agen Bola IBCBET
Agen Bola Sbobet
Prediksi Bola

asri mengatakan...

hai Ras.. seneng deh baca ceritamu di sini.. semangat terus ya bu guru. semoga apa-apa yang raras ajarkan bernilai amal jariyah nentinya.. miss u