9.28.2015

Anak-Anak yang Datang Selepas Maghrib

Sayangnya aku lupa kapan tepatnya anak-anak ini mulai rajin menjemputku di rumah untuk belajar mengaji di masjid. Awalnya aku agak ragu mengajar ngaji di mushola dusun ini dan di hari pertama kami membuat rencana untuk memulai, aku justru tidak datang karena aku pun berpikir “Ah, apa iya ada anak yang mau datang?”.
Keesokan harinya, mereka bercerita bahwa mereka menungguku semalam. Duh, aku jadi merasa bersalah. Aku pun bilang untuk menjemput ketika aku belum disana.
Alhasil, sejak minggu pertama sekolah dimulai hingga sekarang sudah hampir sebulan anak-anak ini selalu bertanya, “Ngaji dak buk?”
Dan aku lebih sering menjawabnya dengan pertanyaan balik, “Ngaji dak? Kalau nak ngaji, payooo...”.
Mereka menjawab lagi, “Payolah ngaji buuuu”.
Semenjak aku juga mengajar ngaji di mushola POLAIR yang letaknya di dusun sabrang dekat sekolah, aku sering pulang mendekati maghrib. Pada akhirnya aku sampai di rumah kadang sudah ada yang ngebang (adzan). Masih harus mandi dll. Anak-anak selalu siap lebih dulu dari aku. Mereka menunggu di depan rumah dengan setia. Bercerita banyak hal, tertawa, hingga beradu mulut.
Pernah satu hari aku bilang untuk libur karena aku akan menginap di simpang (darat), yang jaraknya lumayan jauh dan harus melewati kebun sawit dan karet untuk menuju kesana. Setelah shoat maghrib dan aku sedang makan di rumah warga (ibunya Nova), anak-anak itu datang bermotor. Egit, Adam, Delvin, dan Nando. Mau mengaji katanya. Ahhh, kaliaaaan...
Pernah aku meminta mereka berangkat dulu ke masjid, namun mereka tak mau. Mereka lebih memilih menunggu dan berangkat bersama-sama ke masjid. How sweet you are, kids. Ada saja yang mereka ceritakan ketika perjalanan ke masjid.
Minggu ini aku minta agar mereka menunggu di masjid saja agar bisa sekalian sholat maghrib dan tidak kelamaan menunggu. Mari kita lihat hasilnya...
Hei, anak-anak baik, terimakasih. Kalian adalah alasan ibu merasa nyaman, berbahagia, dan dipenuhi energi penyemangat. Suatu saat nanti, ibu akan menceritakan ke anak-anak ibu bahwa ibu pernah bertemu dengan anak-anak pemberani yang tak kenal lelah seperti kalian. Anak-anak yang suaranya sangat lantang tapi hatinya selembut awan. Anak-anak yang begitu meneduhkan mata dan selalu membuat ibu ingin tersenyum tanpa membutuhkan alasan untuk tersenyum. Ibu mencintai kalian karena Allah, anak-anak. Jujur saja, bahkan sekarang ibu sudah berpikir bagaimana rasanya nanti jika harus berpisah dengan kalian. Hihihi J



   

Tidak ada komentar: