9.28.2015

Namanya Topin

Dia adalah anak pertama di Kepayang yang membuatku menangis. Anak empat belas tahun, yang belum pernah mencicipi bagaimana rasanya menjadi “anak sekolah”. Saat itu, hari ketiga mengaji bersama anak-anak. Ada seorang anak yang paling tinggi dari semua anak. Ah paling anak SMP nih, pikirku.
Aku heran, mengapa dia begitu grogi ketika mau membaca iqro di depanku. Suaranya seperti terisak dan sedikit tersengal-sengal nafasnya. Aku seketika berpikir mungkin ini semacam sakit atau kebiasaan. Aku melihat matanya yang bening, sudah berair dan merah. Sepertinya dia menangis.
Delvin, yang menemaninya datang tadi pun berkata, “Bu, kasian bu, sayang banget Topin ini dak sekolah...”
Aku saat itu hanya berfikir bahwa anak ini pasti putus sekolah seperti banyak anak di Kepayang yang berhenti sekolah karena banyak sekali alasan.
Ternyata tidak. Dia bahkan belum pernah merasakan sekolah. Sebuah tempat yang begitu dicintai sekaligus dihindari oleh anak-anak. Dicintai karena disana mereka mendapat banyak sekali kebahagian, petualangan, teman-teman yang seru dan penuh cerita, dan juga (tentu saja) ilmu yang bermanfaat. Dihindari karena tabiat anak-anak yang lebih suka bebas dibandingkan harus menjalani hari-hari dengan berbagai aturan. Topin, anak empat belas tahun itu berarti belum pernah merasakan itu semua?

Fakta itulah yang membuatku menangis di sujud sholat isya’ku. Di zaman yang serba sudah maju ini, masih ada anak yang belum pernah mencicipi bangku sekolah... Dan yang lebih membuat sedih lagi adalah kenyataan bahwa ia harus bekerja, ketika teman-temannya seumuran asyik belajar di sekolah dan bermain. Anak sekecil itu. Hidup memang sesulit itu, tapi selalu ada jalan untuk membuatnya mudah... 

Bangun Tidur Rasa Rumah

Bukankah kenangan adalah sesuatu yang sangat kita ingat?

Tesimpan rapi di memori?

Dan, bukankah apa-apa saja yang paling kita ingat adalah apa-apa saja yang paling kita rasakan?
Itulah gambaran perasaan. Di masa lalu kita merasakan suatu hal saat suasana tertentu. Maka, di masa depan kita dapat dengan mudah merasakannya lagi ketika hadir suasana yang sama seperti di masa lalu kita itu. Aku pun demikian...
Berbagai bentuk perasaan pasti pernah kita alami pada sesuatu yang kita sebut rumah. Senang, sedih, bahagia, marah, terpuruk, bangkit... Semuanya ada. Salah satunya adalah perasaan nyaman ketika bangun tidur. Entah bagaimana, perasaan nyaman yang sama bisa hadir bahkan ketika kita berada jauuuuh sekali dari rumah. Perasaan seperti di rumah. Feeling like home.
Akhirnya aku merasakannya disini, di rumah kayu tempat orang-orang baik hati tinggal—merekalah keluarga baruku. Ada umak, abak, Dea, Ayuk Mila, Yadi, Ari, dan Kak Dede yang lebih banyak di tempat kerjanya. Awalnya aku sedikit khawatir, apakah keluarga ini dapat menerimaku sebagai orang baru di rumah ini. Aku sedikit kikuk, tidak berani makan jika belum disuruh. Oh, ya, abak adalah seorang kepala dusun III di Kepayang. Hei, senyuman abak selalu bisa menghangatkan suasana, pun suara tertawa ibu. Aku sudah mulai terbiasa sekarang.
Hari-hari berlalu, aku sudah merasa tinggal di rumah sendiri sekarang. Keluarga ini berisi orang-orang yang begitu tulus, meskipun tidak dikatakan. Namun, aku tau. Kami biasanya tidur bersama di depan televisi yang hanya menyala ketika listrik genset hidup di malam hari. Berbagi kasur, bantal, guling, hingga selimut. Aku, Ayuk Mila, dan Dea. Kadang juga bersama ibu. Ahh, apalagi waktu mati lampu kemarin. Ada perasaan yang lebih hidup disana. Pun perasaan yang sama hadir ketika bangun tidur seperti ketika di rumah. Sulit menuliskannya lewat kata-kata. Yang jelas aku bersyukur, meskipun rumah selalu memiliki tempat spesial yang tak bisa tergantikan oleh apapun di dalam hati.
Terimakasih keluarga baik hati. Suatu saat ketika aku pulang ke rumah, aku akan menceritakan semuanya. Aku akan menceritakan kisah perjuangan abak melawan penyakitnya dan bagaimana abak mengajakku makan atau sekadar tersenyum ketika melihat kami berangkat ke sekolah, juga bagaimana abak begitu bersemangat mengendarai motor untuk pertama kali semenjak sakit—bagian ini selalu membuatku ingat kepada bapak di rumah.
Aku juga akan menceritakan tentang umak yang suara tawanya begitu renyah, juga tentang masakan-masakan umak yang enaaaak dan tak bisa jauh-jauh dari ikan atau sambal embem yang menandingi sambal bawang kesukaanku, serta keperkasaan umak mengerjakan banyaaak sekali pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh laki-laki.
Tak lupa, aku juga akan menceritakan tentang ayuk Mila, yang sudah seperti mbak sendiri. Aku akan menceritkan betapa bersyukurnya aku dipertemukan dengan ayuk Mila di rumah ini, juga tentang waktu-waktuku di rumah yang banyak aku habiskan untuk bercerita panjang lebar dengan ayuk saat makan atau duduk-duduk di beranda atas.
Dea, pasti aku akan menceritakan tentangnya. Anak terakhir umak yang menjadi sohib berangkat ke sekolah, kebetulan Dea adalah murid kelas lima di sekolah. Aku selalu menggodanya dengan menirukan gayanya memanggil-manggil umak atau menirukan suaranya saat bilang “aedaaaah, ibu ini...”, tapi yang jelas diam-diam aku begitu bangga kepada gadis tomboy ini. Dea adalah salah satu yang selalu rajin datang mengaji meskipun seharian ia bersekolah dan bermain.
Yadi dan Ari. Dua laki-laki di rumah ini yang jaraaang sekali di rumah. Yadi bekerja di pabrik yang cukup jauh dari rumah. Harus naik motor, menyeberangi laut, dan berjalan darat lagi. Meskipun terlihat cuek, tapi Yadi selalu menunjukkan perhatian dan penerimaannya kepadaku. Ketika di rumah dia seringkali nimbrung ketika ayuk dan aku sedang ngobrol atau sering memanggil “Mbak” bahkan hanya sekadar menanyaiku basa-basi. Ari pun demikian. Meskipun dia adalah yang paliiiiing pendiam di rumah ini, tapi dia juga bisa menunjukkan perhatian. Yang aku tak akan lupa adalah ketika Ari memanggilku yang kebetulan sedang di kamar bawah. “Bu...” aku belum menjawab. Dia memanggil lagi, “Bu... Oooh, ibu...” dengan nada suara seperti di upin-ipin. “Makan bu...”
Yaaa, hanya sesederhana itu memang. Namun, dari sanalah rasa nyaman itu hadir.
Sekali lagi terimakasih atas rasa nyaman ini...
 

 

Anak-Anak yang Datang Selepas Maghrib

Sayangnya aku lupa kapan tepatnya anak-anak ini mulai rajin menjemputku di rumah untuk belajar mengaji di masjid. Awalnya aku agak ragu mengajar ngaji di mushola dusun ini dan di hari pertama kami membuat rencana untuk memulai, aku justru tidak datang karena aku pun berpikir “Ah, apa iya ada anak yang mau datang?”.
Keesokan harinya, mereka bercerita bahwa mereka menungguku semalam. Duh, aku jadi merasa bersalah. Aku pun bilang untuk menjemput ketika aku belum disana.
Alhasil, sejak minggu pertama sekolah dimulai hingga sekarang sudah hampir sebulan anak-anak ini selalu bertanya, “Ngaji dak buk?”
Dan aku lebih sering menjawabnya dengan pertanyaan balik, “Ngaji dak? Kalau nak ngaji, payooo...”.
Mereka menjawab lagi, “Payolah ngaji buuuu”.
Semenjak aku juga mengajar ngaji di mushola POLAIR yang letaknya di dusun sabrang dekat sekolah, aku sering pulang mendekati maghrib. Pada akhirnya aku sampai di rumah kadang sudah ada yang ngebang (adzan). Masih harus mandi dll. Anak-anak selalu siap lebih dulu dari aku. Mereka menunggu di depan rumah dengan setia. Bercerita banyak hal, tertawa, hingga beradu mulut.
Pernah satu hari aku bilang untuk libur karena aku akan menginap di simpang (darat), yang jaraknya lumayan jauh dan harus melewati kebun sawit dan karet untuk menuju kesana. Setelah shoat maghrib dan aku sedang makan di rumah warga (ibunya Nova), anak-anak itu datang bermotor. Egit, Adam, Delvin, dan Nando. Mau mengaji katanya. Ahhh, kaliaaaan...
Pernah aku meminta mereka berangkat dulu ke masjid, namun mereka tak mau. Mereka lebih memilih menunggu dan berangkat bersama-sama ke masjid. How sweet you are, kids. Ada saja yang mereka ceritakan ketika perjalanan ke masjid.
Minggu ini aku minta agar mereka menunggu di masjid saja agar bisa sekalian sholat maghrib dan tidak kelamaan menunggu. Mari kita lihat hasilnya...
Hei, anak-anak baik, terimakasih. Kalian adalah alasan ibu merasa nyaman, berbahagia, dan dipenuhi energi penyemangat. Suatu saat nanti, ibu akan menceritakan ke anak-anak ibu bahwa ibu pernah bertemu dengan anak-anak pemberani yang tak kenal lelah seperti kalian. Anak-anak yang suaranya sangat lantang tapi hatinya selembut awan. Anak-anak yang begitu meneduhkan mata dan selalu membuat ibu ingin tersenyum tanpa membutuhkan alasan untuk tersenyum. Ibu mencintai kalian karena Allah, anak-anak. Jujur saja, bahkan sekarang ibu sudah berpikir bagaimana rasanya nanti jika harus berpisah dengan kalian. Hihihi J