8.28.2014

saat nunggu makan siang anak-anak

Hampir tiap hari bareng anak-anak itu ngebikin benar-benar sadar, jadi ibu yang baik itu ga mudah pake bangeeeet. Akan selalu ada hal-hal yang bikin geregetan, ga sabaran, pengen teriak-teriak, pengen 'tetiba mewek', atau bahkan bosen dan cepet laper (hahaha :p). Tapiiii, bareng mereka juga selalu banyak hal-hal yang mengaharukan yang membuatmu belajar. yah begitulah. Hahahaha 

*ini ga penting sih, lagi nungguin makan siangnya anak-anak yang belum dateng2

8.19.2014

Pengamen Terkece I've Ever Met

Ah iya, ada satu hari spesial yang harus aku ingat. Hari dimana untuk kedua kalinya aku ketemu sama bapak pengamen yang super kereeen. Namanya sebut saja pak Agus. Waktu aku ketemu pertama kali dengan si bapak di bus solo-jogja, si bapak ini emang udah keren. Pengamen eksklusif yang nyanyiin lagu mulai dari tembang kenangan indonesia, jawa, ampe lagu barat (waktu itu lagunya George Benson-Nothing's gonna change my love for you). Suaranya itu bagusssss... Waktu itu aku sangat berharap untuk bisa ketemu si bapak lagi suatu hari.
Dan, pertemuan kedua kemarin itu, kekerenannya ga berkurang. Lagu terakhir yang dinyanyikan teuteup--nothing's gonna change my love for youuuuu... Hahaha. Aku sudah sangat tidak bisa menutupi ke-excited-an ku. Habis bapaknya keren. Bapaknya selalu mengulang-ngulang kalimat yang sama "Kula niki wong ngamen empun lemu, mboten sah mesakne, menawi ajeng maringi gih alhamdulillah nek mboten gih mboten napa-napa." COOL! Dan, bapak yang berusia sekitar 50 tahunan itu selaluuuu banget senyum. Selalu banget. Itulah kenapa suasana di bus pagi itu jadi caiirrr banget. Thanks bapak kece! 

Dan, tibalah saat untuk mengedarkan bungkus 'kopiko' itu. Waktu nyampe di bangkuku di baris belakang, si bapak--yang katanya bupatinya pengamen klaten--ngajak ngobrol. Begini kira-kira obrolan antara aku (A) dan si bapak (B)...

B : Nglaju terus nopo mba?
A : Mboten pak, paling seminggu sekali....
B : Kuliah ten pundi? Jurusan nopo?
A : Mikrobiologi pak, (ngeh ga ya bapaknya?). Biologi pak... Pertanian... 
B : Oooh, mikrobiologi (mikir dulu), diajar pak Joedoro ya?
A : Waa enggih pak, kok njenengan tepang? (alm. pak joedoro itu dosen favoritku bangettttt)
B : Kenal pak ini pak itu (si bapak mulai nyebutin nama dosen-dosen di kampusku)
A : Waa enggih paaaak... (mulai makin penasaran, kok bisa kenal yaaa?)
B : Wingi aku yo bar teko reunian e plantagama karo agrina.
A : Waaaa (cuma bisa waa waa waa doank, masih 'wow' banget)
B : Aku biyen angkatan e bu iki...
A : Owalahhhh, sakniki dekan e pak niku pak, bla bla blaaa

Perbincangan masih terus berlangsung hingga si bapak nunjukin kartu namanya dulu waktu masih jadi wartawan. Ternyata si bapak juga pernah kerja di primagama. *amazing bingit* Beliau katanya juga pernah menyanyi di depan menteri pertanian. Si bapak juga bilang kalo sekarang lagi ngumpulin duit buat nguliahin anaknya di jurusan akuntansi. *makin wow*
Pagi itu, aku berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak akan pernah meremehkan profesi apapun, asalkan itu dibolehkan--halal. Termasuk profesi pengamen--atau sebut saja musisi jalanan--yang mereka pasti punya alasan mengapa memilih itu dengan background apapun yang mereka punya. 

8.18.2014

Di Atas Kapal Kertas



Di Atas Kapal Kertas (Banda Neira)
Bersembunyi di balik tirai
Memandang jalan
Gadis kecil ingin ke luar
Menantang alam 
Tapi di sana hujan
Tiada berkesudahan
Tapi di sana hujan turun membasahi semua sudut kota
Hapus tiap jejak jalan pulang
Berangkat di atas kapal kertas
Menggantungkan haluan
Menambal, menyulam, menghindari karam
Berangkat di atas kapal kertas
Bersandar ke layarnya
Di antara suka, di antara duka
Bersembunyi ia di dalam
Mengintai ruang
Gadis kecil merangkai kapal
Melipat jarak
Tapi di sana hujan
Tiada berkesudahan
Tapi di sana hujan turun membasahi semua sudut kota
Hapus tiap jejak jalan pulang
Berangkat di atas kapal kertas
Menggantungkan haluan
Menambal, menyulam, menghindari karam
Berangkat di atas kapal kertas
Bersandar ke layarnya
Di antara suka, di antara duka 

*the most played song in this week* hahaha
termasuk juga momen main-main kapal kertas bareng merekaaa... 

8.06.2014

First Time Bingit Coy!

Hari ini unexpected experience banget dah. Jadi, salah satu hal yang ga pernah ada di 'to do list' adalah belajar nyetir mobil. Dan, karena tuntutan dari banyak pihak 6 bulanan terakhir ini, aku akhirnya memutuskan untuk belajar nyetir. Itu pun akhirnya fix karena si penyokong dana kursus (embak bumil red) udah ngasih duitnya, mau ga mau kaaaan ya harus mauuu... Setelah 1,5 bulanan duitnya disimpenin sama ibuk (soalnya ntar kalo aku yang bawa, bisa abis buat nananina ahahaha) dan setelah maju mundur maju mundur buat ngedaftar di tempat kursusnya (baru ngedaftar lho), akhirnya tadi ituuu dimulai juga latihannyaa... Apaaa? 
Awalnya grogi, setengah hati, deg-degan, dan males berangkat. Tapiii, wis mbayar jeee, masa' iyaa mau mundur lagiii... Yaudah deh, hayuk aja. Bismillah...

Karena ini bakal jadi first time ngejalanin mobil, aku sih berbaik sangka, latihan pertama pasti di lapangan lah yaaa, selooow... Eh ternyataaa, latihan pertama langsung disuruh nyetir di jalan umum, kampung sih, tapi banyak juga sepeda-motor-mobil-truk-sampe pejalan kaki yang lewat. Wah, bercanda banget ni bapak mentornya. -,- Oke, mau ga mau, wis hayuk aja. Bismillah... 

Si bapak udah tinggal nyuruh-nyuruh gitu. "Yo, kopling, masuk satu, lepas kopling pelan-pelan, tahan, gas, tenang-tenang, ojo tegang, setir lurusin, kiri dikit, lurus, kanan dikit, gas tambah, kopling, masuk dua, setir, lurusin, ojo kengananen, dan sebagainya dan seterusnyaaa." Hahahaha XD 

Seruuuuuu!!!

Dan, setelah jalan sejaman, eh kok enak yaa. Semoga lancar dehh ampe bisaa! Aamiin :')
good morning, evening :)

Agar di setiap pergantian waktu--dari pagi ke siang, siang ke sore, sore ke malam, malam ke pagi lagi--kita selalu memastikan bahwa hidup telah kita jalani dengan penuh makna.

8.05.2014

Karena Barbie di RCT*

Karena masih edisi liburan dan sekolah baru masuk minggu depan. Pagi-pagi ini masih sempet nonton barbie di rcti dan fix bikin kangen luna sama aisy... Hahaha. Anak-anak sholihah yang sekarang udah SD ituuuu...
Hei nak, bagaimana sekolah kaliaaan?

Aisyah Naufa Zahra, inget banget waktu ayahmu menceritakan tentang kebiasaanmu di rumah nak. Tentang kebiasaanmu bersepeda di sekitar kompleks tentara selepas subuh, sendirian. Atau kebiasaanmu berdo'a sebelum masuk kamar mandi, dengan menengadahkan tangan--selayaknya orang khusyu' berdo'a. Atau juga, kebiasaanmu di rumah sendirian saat ayah masih tugas, ummi masih bekerja, dek Haidar dan dek Sena di tempat embah. Atau tentang keberhasilanmu sholat 5 waktu selama sepekan--dan ternyata itu saat mau dapet hadiah dari bu guru--lalu setelah itu balik belum genap 5 lagi yaa? Hehehe, kamu pasti bisa nak! Atau waktu di sekolah, kamu yang selalu paling rajin dan paling dewasa. Ah, ummi dan ayahmu emang keren bingit nak. Oh ya, bu guru masih simpen lho hadiah dari ummi untuk bu guru-bu guru beserta tulisan tanganmu...

Sabiluna Kamila. Hei, bu guru lagi ngebayangin wajahmu pas lagi ngambek nak... Jangan ngambek-ngambek lagi yaak, ntar cantiknya ilang lhoh. Ah iya, tapi kamu selalu apa adanya, selalu tulus, dan selalu bersemangat. Apalagi denger cerita ibuk tentang kebiasaanmu di rumah nak. Kata ibuk, mba Luna tuu suka teriak-teriak gitu yaa waktu panik--semacam air kran yang belum dimatiin atau apa lah. Hehehe, wah bu guru belum sempet godain niih... Atau tentang kebiasaanmu menjaga sholat 5 waktu, yaa meskipun--kata ibuk--masih buru-buru gituuu. Lalu, waktu ditanya ibuk, "Kok belum berdo'a Lun?" dan dengan sangat spontan kamu menjawab, "Udah berdo'a kan, berdo'a biar Allah ngasih apa aja."

Duh naaaak, kangen e...

8.03.2014

Jogja, Lewat Tengah Malam

Angin segar sudah mulai berhembus menggantikan polusi yang menyesakkan itu. Udara kembali jernih sebagaimana seharusnya. Lampu-lampu kota tampak wajah aslinya—benar-benar merebut kembali tahtanya dari lampu-lampu kendaraan. Tetokoan sudah banyak yang memilih untuk tutup dan menyisakan beberapa kedai-kedai kopi, burjo, dan beberapa pusat oleh-oleh. Inilah Jogja, di lewat tengah malamnya.
Jogja saat setengah malam telah berlalu ternyata masih menyimpan cerita. Adalah cerita di balik tetokoan yang telah tutup. Laki-laki maupun wanita paruh baya, kakek nenek usia lanjut, remaja, bahkan anak-anak banyak yang memilih untuk beristirahat di emperan-emperan toko, bukan karena salah memilih tempat istirahat tapi karena mereka tidak punya pilihan lain. Di emperan tetokoan itu pun bahkan masih banyak orang-orang yang menjajakan nasi demi sesuap nasi. Asap-asap sisa memasak bakmi jawa juga masih ‘enak dicium’ ketika didekati.  Jogja, di lewat tengah malamnya, di emperan tetokoannya, ternyata masih ada nafas-nafas berhembus—tanda hidup memang tak selalu dilalui di waktu cahaya masih benderang.  
Udara dingin di lewat tengah malam tak akan diragukan lagi. Jika kita berjalan menantang dingin tanpa jaket atau pakaian hangat lainnya, kita mungkin akan merasakan bahwa dingin begitu menusuk tulang. Di udara sedingin ini, di jalanan yang hanya diterangi lampu-lampu kuning perkotaan, di saat banyak orang terlelap, masih saja ada mereka yang berjalan kaki—entah mau kemana—menyusuri jalan-jalan kota Jogja. Tengoklah sebentar Jalan Parangtritis, Jalan Malioboro, Jalan Mataram, jalanan di sekitar Lempuyangan, hingga Jalan Kaliurang, ketika lewat tengah malam, maka akan banyak kita temui kaki-kaki yang masih sanggup berjalan di saat kaki-kaki lain memilih untuk bersantai ria di atas ranjang.
Siapa pemilik kaki-kaki itu? Sebagian adalah milik bapak atau (bahkan) ibu paruh baya dengan membawa tas gendong di lengan kanannya—seperti sedang mencari sebuah tempat di kota ini. Sebagian lain adalah milik kakek atau (bahkan) nenek yang masih asyik mengayun sepeda tuanya, kadang dengan barang bawaan di kanan kiri sepeda. Dan sebagian lain adalah milik anak-anak remaja dengan kaos hitam-hitam, tas gendong diturunkan sampai di bawah pantat, telefon genggam dibawa di tangan kanan dan (kadang) rokok di tangan kiri, sebagian ada yang rambutnya dicat warna-warna norak atau diberi jambul—agar gaul, menurut mereka mungkin. Mereka sering disebut anak-anak punk. Cerita mereka tentu tidak sesederhana dan seringan langkah kaki mereka. 
Benar, terkadang kita tidak perlu bepergian terlalu jauh untuk menikmati banyak hal. Kita mungkin hanya perlu bepergian beberapa kilometer dari tempat tinggal kita dan menikmati sekeliling. Kita--pasti--akan banyak belajar dari sekitar. 

---------tulisan ini hanya repost dari tulisan dulu dengan penambahan sedikit---------

Kenangan Ramadhan (1)

Seperti kenangan, akankah bertahan, ataukah perlahan, menjadi lautan... -banda neira-

Apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita alami, dan apa yang kita rasakan hari ini adalah kenangan--yang suatu saat akan kita kenang. Termasuk ramadhan tahun ini, adakah kenangan-kenangan manis yang bertahan untuk kita nikmati dan kita ambil hikmahnya? Ataukah perlahan hanya akan menjadi seperti lautan? 

Di hari entah ke berapa ramadhan, saat aku harus kembali ke Jogja sore hari menjelang berbuka. Jika dilihat sepintas, ah tidak menyenangkan sekali berbuka di bus wonogiri-solo ini. Akan tetapi, hei, lihatlah sekitar, perhatikan sekitar, lalu maknai... Adzan berkumandang. Ada seseorang yang sudah sangat siap dengan menu berbuka puasa seadanya, ada seseorang yang memilih menunda berbuka puasa hingga bus berhenti. Ada yang sudah siap dengan es cappucino-nya. Dan, ada pula yang memilih membatalkan puasa dengan merokok. 
Yang membuatku belajar banyak saat itu adalah orang terakhir, yang memilih berbuka puasa dengan merokok. Sederhana sekali. Kita bisa saja nyinyir dengan asap rokok yang mengganggu itu, tapi lihatlah kesungguhannya. Begini, berpuasa bagi kita mungkin pekerjaan mudah, tapi bagi si bapak? Belum tentu. Semua itu atas nama kesungguhan. 

Ah yaa, inilah kehidupan. Seseorang memiliki caranya sendiri untuk menunjukkan kesungguhannya mendekat kepada Tuhannya. Bukankah Allah akan menolong dan membimbing hamba-Nya yang bersungguh-sungguh mendekat kepada-Nya? 

Pertanggungjawaban

   “Setiap kalian adalah penggembala dan setiap kalian bertanggungjawab atas gembalaannya. Seorang pemimpin adalah penggembala dan dia bertanggungjawab atas gembalaannya. Seorang laki-laki adalah penggembala di keluarganya dan dia bertanggungjawab atas gembalaannya. Seorang wanita adalah penggembala di rumah suaminya dan dia bertanggungjawab atas gembalaannya. Seorang pelayan adalah penggembala pada harta majikannya dan dia bertanggungjawab atas gembalaannya. Setiap kalian adalah penggembala dan setiap kalian bertanggungjawab atas gembalaannya.“ (Muttafaq ‘Alaih)

Jadi sudah sangat jelas, akhir dari kehidupanmu ini adalah tentang sebuah pertanggungjawaban. Pertanggungjawaban atas apapun yang kamu kerjakan dalam hidup, atas semua pilihan-pilihan yang telah kamu pilih, atas semua perkataanmu-perbuatanmu-tulisanmu-pandangan matamu,  atas semua amarahmu-kesabaranmu-ketidaksabaranmu-kemauanmu, atas semua hartamu-keluargamu-tetanggamu-sahabatmu-muridmu-dan suatu saat insyaAllah anak-anakmu. 
Sudah siap untuk mempertanggungjawabkan semuanya? Jika belum, maka tugas kita adalah belajar, belajar, dan terus belajar memperbaiki diri dan bertanggungjawab atas kehidupan yang sedang kita jalani. Agar nanti, saat masa pertanggungjawaban itu tiba, kita telah siap, benar-benar siap.

#SELFTALK

ORIENTASI

Apa yang sebenarnya benar-benar kamu inginkan dalam hidup?
Apa yang sebenarnya benar-benar ingin kamu kejar dalam hidup?
Apa tempat yang sebenarnya akan kamu tuju?
Kemana kamu akan melangkah setelah ini dan seterusnya?
Untuk siapa kamu melakukan ini itu?
Bagaimana kamu harus bersikap?
Sudah benarkah apa yang kamu jalani selama ini?
Kepada siapa kamu akan kembali?

HEI, SUDAH BENARKAH ORIENTASI DALAM HIDUPMU?