3.29.2014

Aku hanya soktau!

Baiklah, banyak sekali yang mengganjal di pikiranku akhir-akhir ini. Salah satunya adalah tentang ramainya kampanye pemilu di berbagai daerah dan ramai pula komentar orang-orang di sosial media. Orang-orang di sosial media sudah mulai menunjukkan kesukaan dan ketidaksukaannya pada golongan ini lah, golongan itulah, partai inilah, partai itulah. Ada juga yang mulai sering share tentang partai paling korup-lah, kejelekan partai-lah, kebaikan partai-lah, jangan golput-lah, daaaaan macem-macem. Tak jarang, beberapa di antara kita, mungkin termasuk aku juga, yang bahkan terlibat perang opini atau bahkan perang status di sosmed. Wajarkah itu? Wajar pastinya...
Kita hidup di  sebuah dunia, yang mana setiap orang diberi akal, kemampuan berpikir, dan kecerdasan sendiri-sendiri oleh Sang Pencipta bukan? Jadi, kita pasti mempunyai sudut pandang tersendiri tentang suatu hal, entah baik atau buruk. Tapi kadang aku juga muak, melihat orang-orang yang dengan santainya menghujat seseorang/sebuah golongan karena kesalahan yang dilakukan  padahal belum tentu kebenarannya. Mungkin aku juga begitu dan aku juga muak dengan kelakuanku sendiri. 

Tapi, bukankah kita masih punya etika untuk urusan sederhana seperti bermain sosmed ini? 
Dan ini adalah catatan untuk diriku sendiri, yang mungkin saja sudah lupa etika bersosialmedia...

Apakah benar bahwa kebencian akan susuatu/seseorang harus kita tebar kepada semua orang, hingga semua orang ikut membenci? Mungkinkah kita telah lupa bahwa bisa saja apa yang kita katakan akan menyakiti dan meninggalkan bekas luka yang mendalam bagi mereka yang kita benci? Eh iya, bahkan mungkin kita telah lupa untuk apa kita sibuk membenci dan lalu menebar kebencian itu? 

Apakah sosmed tidak bisa diisi dengan perkataan yang baik-baik saja? Sekalipun itu sebuah kesalahan dari sesuatu/seseorang,  bukankah akan lebih indah jika kita menyampaikannya dengan perkataan yang baik? Tidak dengan menghujat sesuka hati, seolah yang menghujat tidak lebih baik dari yang dihujat. Seolah yang disalahkan tidak pernah melakukan sesuatu yang benar. 

Apalagi sebuah kebaikan dan kebenaran. Bukankah sangat indah jika sosmed diisi dengan pesan-pesan kebaikan atau dengan berbagi kebaikan-kebaikan apa yang telah dikerjakan oleh sesuatu/seseorang? Mungkin sekarang bukan lagi jamannya berbagi tentang kebaikan-kebaikan kecil  yang tercecer ya? 
Mungkin sekarang kita sedang hidup di jaman yang penuh caci maki ya?
Jika berbagi tentang hal-hal baik yang dilakukan seseorang atau segolongan orang itu dirasa terlalu berlebihan atau bahkan terlalu menyombongkan diri, mungkin kita hanya perlu diam. Tapi, semoga Allah tetap menjaga lisan kita dari mencaci maki. 

Ah ya, lagi-lagi, kita hidup di dunia yang serba membingungkan. Aku hanya sok tau! 

Hei, Kalian Masih Mau Bersekolah kan?

Hai Rani, Lukman, dan Dani... Entahlah, akhir-akhir ini aku merasa tidak bisa menjadi pengajar yang baik bagi kalian. Kalian bosan ya belajar denganku? Kalian merasa "ih, mbaknya bisa ngajar ga sih" ya? Atau bahkan kalian sudah benar-benar merasa ingin ganti pengajar dengan selain aku? 
Aku sangat takut, kalian jadi tidak bisa lulus ujian kejar paket A karena aku yang tidak bisa mengajar dengan baik. Aku sangat takut, kalian semakin tidak menyukai belajar karena aku yang tidak bisa membawa suasana menyenangkan selama belajar. Aku sangat takut, kalian semakin tidak ingin bersekolah karena sudah menerka-nerka bahwa 'sekolah itu membosankan' atau 'sekolah itu melelahkan' atau bahkan 'untuk apa sekolah, ga penting ah' karena saat kalian belajar bersamaku kalian merasa belajar itu membosankan, melelahkan, dan ga penting. Kalian tau, aku sangat takut jika itu semua terjadi karenaku...

Tadi pagi, tak sengaja aku bertemu dengan Rani sedang menuju suatu tempat bersama ibu dan adiknya. Aku menghentikan motorku, bertanya kepadamu apakah mau ikut belajar pagi ini? Kamu sambil malu-malu menggelengkan kepala dan melihat wajah ibumu. Ibumu pun sedikit bercerita bahwa keluarga kalian sedang sedikit punya masalah. Ah, maafkan aku, aku bahkan tak bisa melakukan apapun untuk membantu kalian. Maafkan aku yang belum bisa meminjamkan pundak untukmu ketika kamu ingin menangis... Maafkan aku yang belum bisa meminjamkan telinga untukmu ketika kamu ingin bercerita... Maafkan aku yang belum bisa memberimu segenggam semangat untuk semakin giat belajar. Maaf... 
Hai Rani, gadis yang begitu lembut perasaan, perkataan, hingga gerak-geriknya, aku hanya berharap kamu mau bersekolah lagi. Sungguh, apa yang bisa aku lakukan agar itu tercapai?

Setelah aku bertemu Rani, aku pun melaju ke rumah kalian. Lukman ternyata sudah pergi dari pagi tadi karena dia memang pernah bilang mau beli anakan ayam hari ini. Hai Lukman, calon pengusaha ayam yang cerdas dan hebat. Aku sangat tau bahwa kamu menyimpan banyak sekali kemampuan dan keunikan yang orang lain tak punya. Aku sangat tau bahwa kamu anak yang cerdas dan lucu (ah ya, benar, kamu memang lucu). Aku sangat tau bahwa kamu begitu tidak suka dengan pelajaran matematika dan begitu suka pelajaran sosial. Kamu memang hebat, bahkan mungkin tanpa bersekolahpun kamu bisa sukses. Tapi, maukah kamu tetap bersekolah? Kamu tau kan kita hidup di negara macam apa? Ah ya, membingungkan memang...

Akhirnya, aku hanya belajar bersama Dani. Kami hari ini bahkan menumpang di tempat tetangga kalian karena di rumah simbah Dani sedang dipakai untuk menyimpan gabah hasil panen kemarin. Hai Dani, si penyuka matematika dan si anak yang 'ga neko-neko'... Maafkan aku, jika terpaksa harus sering membuatmu seperti belajar privat karena Lukman dan Rani sering absen... Maafkan aku, jika kamu mulai bosan belajar denganku saja tanpa kedua temanmu itu... 
Aku sudah mencoba banyak cara agar membuatmu tidak bosan ketika harus belajar sendirian, tapi sepertinya aku lebih sering gagal ya? Maaf ya Dan... Meski demikian, tolong jangan pernah menyerah untuk terus belajar dan menggapai cita-citamu menjadi polisi atau guru atau teknisi atau apapun itu... Aku sangat tau bahwa kamu bisa. Oh ya, kamu tau, hari ini aku hampir saja menyerah karena aku melihat cahaya yang meredup di matamu. Cahaya yang selama ini memberiku semangat untuk terus bersama kalian. Aku tadi sempat bertanya, "Dek, lagi bosen belajar ya?". Dan kamu pun menjawab "Iya mba, sendirian soalnya". Ah ya, aku berterimakasih karena kamu mau jujur dan maaf untuk semua kebosanan ini. Film yang aku putarkan tadi pun sepertinya hanya menghiburmu 'sedikit' tanpa bisa membuat cahaya mata itu benderang lagi. Apa yang bisa aku lakukan untukmu dek?

Sekali lagi, maafkan aku yang belum bisa menjadi pengajar yang baik bagi kalian. Aku sungguh ingin kalian bersekolah lagi, semembosankan apapun sekolah itu. Untuk kalian, untuk keluarga kalian, dan untuk bangsa kalian. Semoga Allah tidak akan membiarkanku menyerah saat ini tau kapanpun itu. 


Jogja, 29 Maret 2014 --di tengah keputusasaan yang mendera

3.12.2014

Celoteh Celoteh

Beberapa percakapan yang harus dicatat akhir-akhir ini...

A : Dek, kalo sore-sore gini, pas ga belajar di sanggar ngapain biasanya?
F : Cari duit mbak... *pasti maksudnya ngamen*
A : Oh, nyanyi apa sukanya?
F : Nyebar amplop mbak...
A : *njuk speechless* *aku kudu piye?*


A : Ayoook, berdo'a duluuu, berdo'anya ga boleh sambil tengak-tengok, bla bla bla...
R : Bu guru... *lalu hening*
R : Kemarin Mardani meninggal tapi ga jadi, trus kenthut...
A : *mikir* *mardani?* *apaaah? si bocah ini bahkan inget adegan di Tukang Bubur Naik Haji semalem?*
A : Oh iyaa to? *bingung gimana nanggepinnya* *ngakak dalam hati*


A : Jadi, jaman dulu itu ada seorang pengemis bla bla bla *lagi mulai cerita tentang kisah nabi Muhammad dan pengemis yahudi*
B : Bu guruuu, kemarin aku ketemu nenek-nenek kelaperan, trus aku kasih uang...
A : Iya to? Dikasih makan aja yaa naaak, biar neneknya ga laper lagiii...
B : Iya, nanti jadi seneng...
A : *udah siap mau lanjutin cerita*
B dan kawan-kawannya yang lain: Apalagi dikasih daging, pasti jadi seneng... Apalagi dikasih mobil... Apalagi dikasih rumah yaa bu guruuu?
A :  *senyum aja deeeh*


A dan B : *lagi mulai nonton Tareezamenpaar*
B : Itu kayak aku ya mbaak?
A : Iya poooo? *aku tau kamu bisa bro!*

3.06.2014

Di Tangan Anak-Anak

Di tangan anak-anak, kertas menjelma perahu sinbad, yang tak takluk kepada gelombang. 
Menjelma burung yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga di hutan. 
Di mulut anak-anak, kata menjelma kitab suci. 
"Tuan, jangan ganggu permainanku ini." 


Sapardi Djoko Pramono (1981)


-------------------

Hei, itu puisi untuk kalian, anak-anak yang hebaaaaat :)