2.22.2014

Tentang Cangkul

Dulu, aku hanya sesekali mendengar nama beliau lewat selebaran-selebaran kajian khusus perempuan. Bahkan aku lupa apakah pernah mengikuti kajian yang diisi beliau atau tidak. Apalagi untuk tau bagaimana kehidupan beliau--yang seorang ustadzah. Kini aku mengenal beliau lebih dari sekedar tau bahwa beliau adalah ustadzah yang sering mengisi kajian-kajian khusus perempuan, beliau yang merupakan istri salah satu caleg partai politik, atau beliau yang menjadi salah satu yang merintis sebuah sekolah dan memperjuangkan pembangunan gedungnya. 
Aku ingin menceritakan sisi lain beliau yang membuatku--wow. Oh iya, akan aku sebut beliau sebagai ummi, panggilan akrab kami kepada beliau.

Suatu pagi, wanita paruh baya yang telah dikaruniai 4 orang anak itu sudah terlihat sibuk. Belum berdandan seperti akan pergi mengisi kajian--ah iya, ummi tidak pernah memakai makeup yang aneh-aneh, setauku hanya bedak tipis yang menghias wajah teduhnya. Pagi itu, beliau masih mengenakan daster dan jilbab lebarnya, serta sebuah cangkul di tangannya. Apa yang beliau kerjakan sepagi itu sendirian dan membawa-bawa cangkul? 

Ternyata beliau mencangkuli tanah untuk dibalik, agar abu vulkanik yang masih sangat tebal itu bercampur dengan tanah asli yang keras. Halaman samping rumah beliau juga sekaligus halaman samping dan halaman depan sekolah kami memang masih sangat berdebu ketika ada angin. Hei, sudah setengah halaman beliau kerjakan, artinya beliau sudah mencangkuli tanah seluas ini. Dan itu juga berarti debu yang bisa mengganggu anak-anak ketika di sekolah sudah akan sangat bekurang. 

Itulah yang membuatku kagum, pekerjaan sederhana itu pasti beliau lakukan karena cinta. Cinta kepada anak-anak yang belalu lalang pagi hari di sekolah dan sore hari di TPA dan cinta kepada segala aktivitas 'memberi manfaat'.

Ah, tetaplah menebar cinta dan tetaplah bekerja karena cinta ummi... :)

2.21.2014

Harus Serumit Inikah?

Bagaimana kehidupan manusia bisa serumit ini sekarang? Semua orang seolah hidup hanya untuk mengejar deadline ini itu, menjadi seperti ini itu, harus begini begitu. Semua orang seolah hidup hanya untuk mematuhi aturan yang mereka buat sendiri. Semua orang seolah sedang sibuk menunjukkan ke-keren-annya dalam suatu hal, sibuk memasang-masang atribut ini itu, sibuk saling mencaci maki sesama saudara, dan sibuk dalam semua agenda rumit yang kita buat sendiri.
Lalu, apa yang manusia dapatkan setelahnya? Apakah semua deadline yang kita buat sendiri itu dapat mendekatkan kepada Tuhannya? Apakah semua aturan yang kita rancang sendiri itu semakin membuat kita pantas memasuki syurga-Nya yang indah? Apakah semua atribut yang kita unggul-unggulkan itu benar-benar membuat kita benar-benar menjadi manusia yang baik? Atau hanya untuk popularitas atau semacamnya? 

Ah benar, kadang (lebih tepatnya sering) kita merasa telah melakukan banyak hal, padahal kita tidak memberikan manfaat apapun untuk sekitar dan bahkan untuk diri kita sendiri. Jadi, apa yang telah kamu lakukan selama 22 tahun ini mbul? Rasanya kamu harus lebih banyak belajar dan berbenah dan melihat kembali setiap langkah yang kamu ambil dalam hidupmu, mbul!

#NtMS

Dua Puluh Hari (part 7) - selesai!

Masih di hari yang sama. 4 Januari 2014. Setelah perjalanan panjang ke chemix selesai dan setelah perut kenyang, kita menuju lab. Spektro untuk terakhir kalinya insyaAllah. Sholat dan mari kita ke cafe! Gaya tenan. Di kedai kopi Jakal, rekomendasinya dindud yang paling paham tentang tempat enak buat 'semedi'. Sudah hampir jam 5 sore dan aku belum sholat. Astaghfirullah... Kita pun mencari masjid. Sekalian menyelesaikan BAB V dan menanti maghrib. Setelah maghrib, kita berdua memantapkan hati untuk ke rumah babe--yang notabene ada guguknya. Akkk maaakkk... Dan benar, motor baru aja nyampe di depan gerbang rumabhnya babe, si guguk udah menggonggong aja kayak kita mau masuk tanpa ijin. Ah, bisa batal ini... Oke, aku memutuskan untuk menjauh, mengirim pesan singkat ke nomor babe, dan berharap cemas barangkali sebentar lagi datang. Nihil. Belum ada balasan dan bapaknya belum juga terlihat. Aku harus balik malam ini juga ke rumah sakit. Diputuskan, draft dititipkan uneng dan aku segera ke stasiun. Tetiba bapaknya sms, "aku lagi di luar kota, titipkan teman wae". Alhamdulillah.... :)
Oh iya, tadi pagi bapak belajar berdiri dan suksessss alhamdulillah...


5 Januari 2014. Ahad. Banyak sekali tam hari iniii... Daaan, hari ini bapak belajar jalaaan... Rasanyaaaaaa, ahhh indaaaaaaah sekaliiiii.... Kata dokter juga, besok kalau stabil udah boleh pulang... Eh tapi, malem harinya, bapak sakit perut lagi, berasa pengen BAB tapi ga bisa. Semacam sembelit gitu. Para perawat nyoba telpon dokter berkali-kali, nanya gimana penanganannya, soalnya dikasih dulcola* udah ngga mempan. Alhasil, dipakailah metode lain yang tanpa obat. Alhamdulillah sukseeeeesss... Selamat tidur dengan nyenyak orang kesayangaaaan :*

6 Januari 2014. Senin. Markipuuuuul! Mari kita pulaaaaang! Finally, alhamdulillah tiba juga waktunya untuk kembali ke rumah.... Terimakasih ya Allah... InsyaAllah kami akan selalu bersabar menjaga dan merawat bapak dengan sebaik-baiknya.... :)))


Ahhh, itulah dua puluh hari yang sangat-sangat sarat pelajaran bagi kami, hamba-hamba Allah yang lemah, yang kecil, yang tak berdaya, yang hanya bisa menyerahkan segala urusan kepada-Nya, yang insyaAllah akan selalu percaya bahwa Allah akan selalu memberikan yang terbaik menurut takaran-Nya... :)


Dua Puluh Hari (part 6)

31 Desember 2013. Selasa. Pagi-pagi. Bapak sudah segar dan ditemani budhe bernostalgia kenangan masa lalu. Aku putar lagu-lagu koesplus di handphone bapak. Pagi itu benar-benar ceria. Jauh dibanding dua hari lalu. Aku diminta pulang, mengambil baju-baju lagi. Hari itu, harusnya bapak mulai fisioterapi, eh tapi karena pas embak imut sang fisioterapist dateng, bapak masih tidur nyenyak... Batal deh terapinya...

1 Januari 2014. Rabu. Ah ini tahun baru ya? Awal tahun hanya diiringi do'a "Semoga akan selalu datang hari-hari cerah setelah ini". Bapak memulai terapinya hari ini. Dan, ada yang membuat kita selalu tertawa, pas si embak imut selalu memanggil bapak dengan sebutan "Kuuung"...
"Kung, ampun sare riyen nggih kuung..." atau "Kung, nggo diangkat astonipun..." dst.
Oh ya, mungkin karena lama di tempat tidur dan belum memungkinkan ke belakang, perut bapak agak sakit karena sembelit. Jadilah dikasih obat anti sembelit sama dokter. Tamu-tamu masih sangat ramai berdatangan, semua ingin bapak segera sehat. :)
Oh ya, aku sempet sms dosbing yang sangat super itu, intinya nanya kalau misal draft skripsiku dikirim lewat email gimana karena masih nunggu bapak di rumah sakit?
Eh, si babe bales, "trus saya disuruh mentelengin komputer terus? itu sama aja mlonco aku"
Aaaaakkk tidaaaaaakkkkk!!!!
Langsung bales "Baik pak kalau begitu draftnya saya serahkan setelah bapak pulang dr RS saja. Terimakasih".


2 Januari 2014. Kamis. Bapak sudah disuruh latihan duduk sama dokter. Tapi ya karena masih agak lemes karena sakit perut, si embak terapist belum berani mengajak bapak latihan duduk. Oh ya, hari ini ibuk kumat vertigonya--yah semacam pusing banget dan rasanya kayak muter-muter gitu kata ibuk. Ibuk ngga berani buka mata selama beberapa jam. Tapi alhamdulillah, sore hari sudah mendingan. Dan malemnya dianter ke UGD buat diperiksa dan minta obat... Kamu masih harus belajar sabar dan tenang lebih banyak, mbul!


3 Januari 2014. Jum'at. Yeee, alhamdulillah akhirnya bapak latihan duduk. Makan juga udah sambil duduk, selera makan juga baguusss dan sakit perut sudah berkuraaaang... Ibuk juga udah ngga pusing muter-muter lagi... Besok mau ke jogja rencananya, nyelesaiin kerjaan lab dan draft skripsi, langsung cuss ke babe.


4 Januari 2014. Sabtu. Mbak Tika hari ini libur, jadi aku bisa ke jogja buat menemui babe. Dindud udah siap nganter kemana-mana. Tujuan hari ini adalah: 1. Chemix, toko bahan kimia langganan di belakang UIN; 2. Laboratorium; 3. Cafe, gaya banget mau nyelesaiin data tambahan, BAB IV, dan BAB V; 4. Cuss ke rumah babe.
Oke, karena kesiangan, aku minta tolong dindud ngambilin bahan di chemix sekalian jemput di lempuyangan. Tararararam, ternyata bahan yang aku pesen ngga kebawa! Harus ngambil di lab-nya, yang katanya di daerah banguntapan masih masuk. Baiklah, kita kesanaaa... Jauh!!!

bersambung... *maghrib dulu*