1.24.2014

Dua Puluh Hari (part 5)

Masih di hari yang sama, 29 Desember 2013. Setelah kami semua ditunjukkan kebesaran Allah yang maha dahsyat, bapak sudah bisa tenang. Yang membuat kami terkejut adalah ketika seorang kawan lama bapak datang, bapak bercerita, "Aku mau ki mengalami peristiwa, mengerikan. Makane yo bener nek sing jenenge kematian ki ngeri...". Intinya seperti itu. Pagi, hingga siang, hingga malam, bapak selalu menceritakan kembali apa yang dialami tadi pagi. "Dek, mau ki ana peristiwa mengerikan, background e ngono i ngeri banget..."

Dan, yang membuat terkejut, saat sedang ngobrol dengan ibuk tercinta... "Buk, iki masalahku ki piye? Ana gosip-gosip ora neng tonggo-tonggo perumahan, nek pak Joko Purwanto ki wis meninggal?". Ibuk yang saat itu duduk sambil terus menemani bapak bersama mushaf besarnya terkejut. Sesekali ibuk melirik ke arahku... Kami pun mencoba menenangkan dengan nasihat-nasihat yang jujur--memang mengerikan bicara tentang kematian itu. "Bapak, kan kematian seseorang niku rahasia Allah, mboten wonten sing ngertos. Sing penting sabar, tawakal, terus berdo'a. Gih to?". Bapak pun tersenyum. 

Sampai malam hari, sebelum tidur pun bapak masih menanyakan 'peristiwa' tadi. Oh iya, sore hari wimbo, tante, om has dateng dari Jogja. Bapak ngobrol banyak sama tante, kata tante termasuk ngomongin soal tim rekreasi. :3 

30 Desember 2013. Hari Senin. Jujur, kami sedikit trauma dengan kejadian kemarin. Kami berusaha untuk selalu bergantian menemani bapak (gantian ngga tidur gitu maksudnya). Apalagi di jam-jam menjelang subuh, rasanya mata ini sama sekali tidak ingin beranjak dari memperhatikan bapak, entah sedang tertidur pulas atau tidak. Pagi hingga sore, topik pembicaraan bapak berubah menjadi 'permainan'. Serriiiing sekali bertanya kepada kami, "Dik, wingi ki bapak perasaan e koyo melu permainan neng malang. Ngopo to emang dek?". Kami pun selalu menjawab pertanyaan bapak itu dengan jawaban yang sama "Oh, ndek wingi niku CT scan bapak, ruangan e kan kados terowongan."

Hingga pada sore harinya, semua seolah tergambar jelas. Bapak tetiba berbinar-binar, tidak seperti dua hari kemarin yang seperti kosong. Bapak menceritakan semua yang dialami dari hari Sabtu hingga Minggu lalu. Tentang bapak yang merasa ada bisikan-bisikan bahwa waktu bapak telah habis, hingga membuat bapak gelisah akut, kata bapak "Dadi aku ki ndek Sabtu ki koyo stress ngono. Nah, terus minggu ana peristiwa mengerikan kui.". 
Betapa kami sangat bersyukur, bahwa bapak kami telah benar-benar kembali. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah... Tak ada kata yang dapat mengungkapkan semua kebahagiaan dan rasa syukur ini. Yang jelas, kami memang harus semakin mendekat kepada Allah, semakin baik ibadahnya, semakin banyak amak sholehnya... 

bersambung.


*ditulis setelah revisi skripsi berkepanjangan (cuma dua hari doank padahal)* :)

1.21.2014

Dua Puluh Hari (part 4)

27 Desember 2013. Hari Jum'at. Kata dokter, bapak bisa mulai dilatih untuk merasakan 'kebelet pipis' lagi. Caranya adalah dengan menyumbat selang pipisnya. Kalau berhasil, bisa dilepas. Ternyata belum, jadilah selang masih tetap dipasang. Oksigen juga boleh dilepas. Ah, lega... Hari ini anak-anak (dindud, uneng, ica, amri, sama ian) dateng dari Jogja. Ga kebayang aja sih, karena mereka harus naik kereta, ganti bus, trus naik taksi. Ah, mereka selalu bisa bikin terharuuu... Seperti biasa, anak-anak ngobrol banyak sama bapak.
Dan, siang harinya, pakdhe Udin, sohib kenthelnya bapak jaman dulu, dateng. Lamaaaa banget... Siang hari sekitar jam 14.00, jam yang sama dengan kemarin, bapak kedinginan lagi, menggigil. Dikasih obat sanmol lewat infus. Oh ya, ada cerita lucu dibalik sanmol ini.

Begini ceritanya. Budhe, mbak kandung bapak, saat mau ke rumah sakit, pamit dulu sama dua cucunya (Fatah dan Farah).

Budhe : Dek, yangti nengok eyang joko dulu ya...
Farah : Emangnya eyang joko sakit apa to yangti? Sakit panas ya?
Budhe : Iya deeek, sakit panas...
Farah : Ya udah, disuruh minum sanmol aja, kayak aku. Nanti lak sembuh...
Fatah : Eyang joko disuruh makan yang banyak aja yangti, biar gendut. Nanti aku do'ain biar eyang joko cepet sembuh...

28 Desember 2013. Hari Sabtu. Dari pagi, bapak menggigil kedinginan (lagi). Tidak kunjung usai hingga sore hari. Bapak lebih banyak diam dan sedikit susah bicara karena gemeteran. Bapak meminta kami untuk menghubungi Om Edi, sahabat sekaligus tetangga kami, memintanya untuk dateng ke rumah sakit, dan siang hari pun datang. Lalu, bapak meminta kami untuk menghubungi teman-teman lama bapak saat bapak masih bertugas di BKKBN, pakdhe Joko (namanya sama dengan bapak) pun dateng. Lalu, bapak meminta kami menghubungi budhe, budhe pun datang. Meskipun sudah berdatangan semua, bapak tetap tidak banyak bicara. Hari ini ada yang bikin terharu lagi, sore hari, Amalia (sohibku yang kenthel banget sejak SMA). Tujuan utama selain menjenguk bapak sih sebenernya pengen curhat sebelum balik Bandung. Ah, you grow up faster maaal. Haha. Bapak masih mau tersenyum ketika Amal dateng. Alhamdulillah.

Oh ya, hari ini selang pipis dilepas karena dimungkinkan penyebab demam adalah selang itu. Malam hari, bapak susah tidur. Oksigen dipasang lagi. Tensinya tinggi, 180/90. Ngga kebayang rasanya... :( Aku menemani bapak sambil sesekali mengelus-elus tangan kirinya, berharap bapak segera tidur pulas. Ternyata sulit, bapak tidak bisa tertidur pulas, bahkan kelopak mata tidak bisa tertutup sempurna. Seperti ada gurat kegelisahan di wajahnya. Aku menemani bapak hingga jam 23.00 (meskipun aku kadang ketiduran), saatnya bergantian tugas dengan ibuk. Ibuk bangun, duduk sambil bersandar di tempat tidur bapak...

29 Desember 2013. Hari Minggu. Dini hari. Sekitar jam 3.00, ibuk memutuskan tidur di bawah dan lupa menutup palang pembatas tempat tidur. Sejam kemudian, ibuk terbangun karena gulingnya bapak jatuh mengenai ibuk. Betapa kagetnya ibuk waktu itu, bapak menggigil banget. Bisa dibilang kejang. Ibuk membangunkan aku dan budhe. Kami semua terkejut, kami semua tak percaya. Beberapa perawat datang. Bapak tegang dan terus menggigil, seperti ketakutan. Pandangan mata menerawang tak tentu arah. Pikiran kami kacau. Hanya tangisan dan suara parau ibuk yang saat itu aku dengan jelas. Salah satu ibu yang menunggu pasien sebelah menyuruh kami menutup mata bapak, aku tak mau. Oksigen lebih besar dipasang dan bapak mulai tenang. Denyut nadi stabil. Badan bapak juga hangat. Setelah beberapa saat, perawat mencoba membangunkan bapak, tidak berhasil. Ibuk lalu berbicara setengah teriak di dekat telinga bapak, "mas, kulo kalih anak-anak taksih butuh panjenengan mas..." "astaghfirullah..." "mas....".

Tak berapa lama, bapak membuka mata, tapi justru berontak lebih kacau. Kesakitan sekali. Pikiran kami semakin kacau. Dokter jaga pun datang, mengusahakan banyak hal agar bapak stabil. Sebuah alat yang membantu melonggarkan pernafasan bapak dipasang, beberapa ml cairan 'penenang' disuntikkan, dan kami yang hanya bisa menyaksikan bapak kesakitan terus berdo'a. Bapak tenang dan dapat tidur. Aku masih kacau dan memilih untuk berbicara kepada Allah, memohon kepada Allah dengan sholat. Dalam do'a aku lebih banyak bilang kepada Allah, bahwa kami masih sangat membutuhkannya, bahwa bapak orang baik, bahwa masyarakat dan keluarga masih menanti peran-peran bapak. Saat itu, aku sangat yakin bahwa bapak tidak kenapa-kenapa.

Sekitar jam 5.00, bapak dibawa ke ruang CT-scan, kita terus berdo'a, membaca al-qur'an sebanyak mungkin. Hasilnya keluar, dan alhamdulillah tidak memburuk... Keluar dari ruangan, bapak tersadar. Kami terus bilang "Bapak sabar gih, bapak kuat..."

Hari itu, hari yang akan sangat aku ingat selalu. Hari dimana segala perasaan dan pikiran bercampur aduk.

Alhamdulillah, Allah memberi kesempatan kedua bagi bapak dan bagi kami untuk lebih mendekat kepada-Nya. Puji syukur yang tak terhingga untuk-Mu ya Allah...

Dua Puluh Hari (part 3)

25 Desember 2013. Hari Rabu, entahlah, di rumah sakit aku justru sangat memperhatikan 'ini hari apa' 'besok hari apa'. Sekitar pukul 3.00, bapak terbangun, pandangannya liar memperhatikan sekeliling. Aku pun juga terbangun. Mendekatinya, penasaran, bapak masih mengenaliku atau tidak. Hehe. Ah, ternyata bapak benar-benar mengenaliku. Alhamdulillah. Kita ngobrol banyak, sangat banyak.
Bapak (B): Dek, iki mau critane piye? Kok bapak isoh tekan kene? Iki lak koyok neng bengkel.
Aku (A): Niki ten dokter Oen bapak... Wau mrikine nitih ambulan...
B: Koyok neng tirtomoyo...
A: Kok saget ten tirtomoyo?
B: Lha iki uadem banget, koyok pas ba'do nginep nan tirtomoyo kae lho.
A: Oh enggiih, hehehe... *aku lega*
B: Saiki jam piro dek?
A: Jam 3 bapak, mpun sare meleh mawon...
B: Wis ra isoh turu no nek yahmene, biasane kan nonton bal, terus ngko subuhan nan nurul huda.
A: Oh enggiiih... *makin lega*
B: Tapi kok perasaan e bapak iki ki neng bengkel... Mau mampir omah e Mas Heri...
A: Oh enggiiih, wau kan nitih ambulans, lewat dalam celak e mas Heri... Tuullll... 
*lalu hening*
B: Dik, lha iki tanggal piro?
A: Tanggal 25 desember bapak...
B: Oh, iki berarti Wimbo ra isoh metu iki... (Wimbo adalah salah satu sepupu, keluarga dari om ipar kebanyakan non muslim). *ah, terharu*

Pagi-siang-sore-malam, bapak lebih banyak tidur sangat pulas. Saat terbangun, sudah bisa diajak bercerita banyak hal. Bapak masih makan bubur, bahkan lebih sering tanpa lauk, biar mualnya tidak datang dulu kata ibuk. Tetangga, saudara, dan teman-teman bapak yang sangat baik masih sering menjenguk. Alhamdulillah. Banyak sekali yang mencintai bapak, banyak pula do'a mengangkasa.

26 Desember 2013. Hari Kamis. Pagi-pagi, kami bercerita banyak. Tentang masa kecil ibuk yang sosweet banget perjuangannya mencari uang (kapan-kapan juga harus ditulis). Tentang temannya bapak yang ini, yang itu, yang selalu datang menjenguk dan mendo'akan bapak agar segera sembuh. Tentang kebaikan ibuk, yang serrriiiing sekali ngasih jajanan ke mbak-mbak perawat atau mas-mas cleaning service (dan bapak selalu tersenyum ketika diceritakan tentang ibuk). Tentang rencana setelah lulus, mau keja dimana atau mau sekolah lagi. Daaaan, tentang nasihat bapak yang tak pernah berubah "sopo sing nandur kebecikan, yo bakal ngunduh kebecikan". Pagi itu, sangat sosweeeeeet dan memberi penerangan 'akan kemana dan mau jadi apa aku nanti?'.
Siang hari sekitar pukul 14.00, bapak kedinginan, sedikit menggigil. Dan setelahnya, badannya jadi panas. Tapi, itu tidak terlalu mengganggu, hanya mungkin membuat bapak lebih banyak diam di siang hingga sore hari... Tugas kami saat itu adalah membuat bapak selalu optimis dan yakin untuk sembuh, serta banyak berdo'a dan berserah diri kepada Allah, Penguasa hidup dan mati manusia.
Oh iyaaaa, bapak udah mulai mau diajak sholat, termasuk diajak sholat berjama'ah, meskipun bapak hanya mengikuti dengan kedipan mata. Alhamdulillah... :)

Dua Puluh Hari (part 2)

Karena setiap detail tentang orang-orang tercinta harus selalu diingat, maka menulis banyak-banyak hal tentang mereka adalah caraku mengingat. 

24 Desember 2013. Hari Selasa. Pagi itu langit tidak terlalu cerah, tidak juga terlalu mendung. Kami sudah bersiap untuk memindahkan perawatan bapak ke sebuah rumah sakit swasta di Solobaru, Dr. Oen. Sekitar pukul 9.00, setelah aku mengemasi beberapa baju dari rumah, aku menuju rumah sakit. CT Scan sudah keluar ternyata, positif ada penyumbatan di pembuluh darah otak kecil bapak bagian kanan. Kata dokter, masih bisa ditangani dengan obat. Ah, jujur aku tidak peduli. Aku hanya ingin membersamai bapak, mendekap tangannya lebih erat, memperhatikan setiap gerakan mulut bapak, membaca ayat-ayat al-qur'an apa saja yang bisa aku baca. Bapak masih cegukan, bahkan sampai bagian perut ikut bergetar ketika cegukan. Bisa dibilang, bapak sudah di tengah-tengah, antara sadar dan tidak. Bagaimana semua ini bisa terjadi pada bapak? Tapi, aku tidak boleh kehilangan keyakinan. Keyakinan bahwa bapak akan sembuh, bapak akan benar-benar sembuh.
Sekitar pukul 10.00, kondisi bapak cukup stabil untuk dibawa ke Dr. oen dengan ambulance. Aku menyusul menggunakan motor. Sampai di depan UGD, bapak sudah di dalam. Menunggu dokter untuk memeriksa. Keluarga harus menunggu di luar, kata budhe. Oh ya, waktu itu ada budhe, mbah putri, mas heri, mba tika, dan tentu saja ibuk (yang selalu kuat). Aku sudah tidak tahan, tidak tega melihat bapak sendirian. Aku pun masuk, menemani bapak sambil membisiki "Sabar gih Bapak" terus menerus. Bapak hanya mengangguk. Aku tidak pernah melihat bapak setidak berdaya ini. Laa haulaa wa laa quwata illa billaah... Perawat pun datang. Kali ini tugasku adalah menenangkan ibuk, menciuminya sampai menguap semua kekhawatirannya.
Tengah hari, bapak pun dibawa ke bangsal, lengkap dengan kateter (selang untuk membuang air pipis), selang oksigen, dan infus. Sebelumnya, karena bapak sering sekali cegukan dan seperti berdengkur, bapak harus di-rontgen bagian dada. Ternyata ada pembengkakan jantung, mungkin karena harus bekerja lebih memompa darah ke otak. Bangsal pertama yang digunakan bapak adalah bangsal dengan 8 tempat tidur, biasanya bapak susah tidur kalau terlalu ramai seperti itu. Ah, semoga saja tidak, ini hanya sementara waktu. Siang itu, bapak masih mual dan beberapa kali masih bilang pingin pipis. Alhamdulillah, setelah makan dan minum obat bapak bisa tidur dengan nyenyak.
Saat maghrib, bapak masih tertidur nyenyak. Ibuk masih mengurus untuk pindah bangsal, ke kamar yang diisi 3 tempat tidur. Sudah jam makan sore, jadi mau tidak mau, bapak harus dibangunkan. Sambil disuapi ibuk dan aku tunggui di sampingnya, bapak sesekali berkomentar, "iki neng ngendi?" atau "iki sragam e podo" sambil menunjuk ke arahku dan ke arah tabung oksigen berwarna toska. Dan yang paling aku ingat adalah saat terjadi percakapan antara bapak dan ibuk,
bapak : iki lho koyok mbak e iki... *menunjuk ke arahku*
ibuk : lha niku sinten cobi?
bapak : genah Citra Sari no...


Bagaimana penjelasan semua itu? Bapak bahkan tidak ingat siapa namaku. Aku hanya tersenyum dan berdoa dalam hati, hanya itu yang bisa kulakukan.

Tak lama kemudian, bapak dipindahkan. Lebih tenang, karena hanya diisi 3 pasien. Beberapa orang yang datang (mbak Tika, mas Heri, dan beberapa tetangga) pun juga tidak dikenali bapak. Saat tetangga datang, bapak sudah mulai 'memperkenalkanku' kepada mereka, "iki anakku iki.". Kesedihan masih belum ingin pergi ternyata. Ah, tapi kami harus tetap yakin seyakin-yakinnya bahwa bapak akan sembuh.

1.13.2014

Dua Puluh Hari (part 1)

Selama perjalanan, dedaunan tak pernah tau, kemana arah angin akan membawanya terbang.

Itu pula hikmah yang dapat aku ambil di masa-masa menjelang usia dua puluh dua tahunku, masa-masa yang seharusnya aku habiskan untuk memperjuangkan 'foto bareng keluarga di GSP pake TOGA'. Jika aku serupa dedaunan, takdir serupa angin, dan wisuda Februari 2014 adalah arah yang ingin dituju, maka ternyata angin lebih memilih menerbangkan dedaunan ke arah yang tidak ingin dituju. Maka, bukan dedaunan namanya jika ia tidak ahli dalam urusan berserah diri. Setidaknya, dedaunan harus memahami betul ilmu berserah diri, meskipun itu sulit. Dedaunan hanya perlu memahami bahwa angin tak pernah membawanya ke arah yang salah.

----------------------------------------------

19 Desember 2013, adalah hari Kamis, dimana banyak dateline berdesak-desakan harus dikerjakan. Harus nyerahin draft, harus nemenin anak-anak Tsabita main di maskam, harus bantu ngurusin rencana ke nikahannya Sila di Tegal, harus beli kado nikahannya Asri, daaaaan harus nyelesaiin raport yang bakal dibagiin besok. Semua (seolah) runyam sekali hari-hari di pekan itu. Hingga siang hari, ketika masih saja harus nungguin raport anak-anak yang belum dikumpul, telpon berdering. Kata Mbak Tika, bapak masuk rumah sakit udah dari semalem. Bapak emang udah agak kurang sehat beberapa pekan terakhir ini (yang bikin jadi sering pulang), dimulai dari pegal-pegal di tangan sebelah kiri, muncul penyakit kulit semacam herpes gitu, dan sampai mual muntah. Ah, bapaaaaak...

20 Desember 2014. Hari Jum'at. Saatnya pembagian raport ke wali murid Tsabita (aku sedang kurang tertarik menceritakannya). Singkat cerita, selesai pembagian raport dan menghubungi jasa transport beberapa kali, aku pun menuju stasiun. Pulang, ke rumah sakit dimana bapak dirawat, RSUD Sukoharjo. Di tempat ini, perawatan bapak lebih fokus terhadap lambungnya, karena memang yang dikeluhkan adalah mual. Aku buka pintu, sudah siap melihat senyuman bapak (seperti biasanya ketika bapak diopname dan aku datang, bapak selaluuu tersenyum). Kali ini tidak, bahkan kekuatan senyum pun harus mengalah dari rasa mual yang tak kunjung usai. Dan, melihat bapak mual dan muntah itu adalah salah satu dari hal paling menyedihkan. Sore menjelang malam, aku menyuapi bapak sambil sesekali aku ajak ngobrol. Malam itu, bapak mulai cegukan dan susah tidur. Oh, ya, pipisnya masih ke kamar mandi.

21 Desember 2013. Hari Sabtu. Bapak tidur terus dari pagi sampai sore. Masih cegukan kalau pas bangun. Tamu-tamu masih ramai berdatangan. Badan lebih lemes, tapi mual sudah sedikit berkurang. Bicaranya sedikit sekali, apalagi tersenyum. Kami (yang merupakan orang awam) berpikir kalau sedikitnya bapak bicara itu karena pengaruh obat tidur. Pipisnya mulai pakai pispot.

22 Desember 2013. Hari Ahad, hari dimana salah satu sahabat akan mengakhiri masa lajangnya. Ya, Fatonah Winiasri akan menikah hari ini. Dari duluuu, udah berencanaaa banget pengen dateng ke akad nikahnya. Aku pun bilang ke ibuk untuk ke Jogja bentar buat dateng ke nikahan temen. Berangkatlah aku ke Jogja, nyampe sana jam 13.00 dan resepsi udah selesai. Aku dan uneng pun memilih untuk langsung ke rumahnya Asri, denger langsung cerita mendebarkan saat dia resmi jadi istri orang. Sampai lagi di rumah sakit jam 20.00. Bapak terbangun. Pipisnya ganti pake pampers. Susah BAB, jadi harus dikasih dulcola* yang dimasukin lewat dubur. Waktu bangun, pandangan bapak udah kayak ga 100%, bicaranya udah lebih sedikit, dan mulai tidak terlalu jelas. Aku sungguh mulai khawatir.

23 Desember 2013. Hari Senin.Sesekali bapak menunjuk-nunjuk jam dinding, nanya 'itu foto siapa?', bilang 'aku wedi karo kae', dan lain-lain. Dokter yang selama ini menangani bapak cuti, jadi diganti dokter lain untuk sementara. Ibuk menceritakan semuanya ke pak dokter, termasuk tentang bicaranya yang mulai tak jelas. Si dokter bilang, mungkin aja ini gejala stroke. Langsung disuruh CT-Scan. Aaaah, air mata kami sudah tidak ada yang terbendung. Kami semua menangis, tidak membayangkan bahwa sakit bapak akan jadi serumit ini...


bersambung