11.20.2014

One Day Nekat Traveler #1

There we gooooo.... Perjalanan yang sedikit nekat, demi mendaki gunung api purba dan lanjut menyusuri pantai-pantai gunung kidul selama sehari. Karena katanya, good traveler always have no fixed plans. Nah, jadilah kita pergi tanpa perancanaan yang matang. Aku dan Nina, sohib banget dari jaman SMP ini dan tentu ditemani motor beat merah yang ban belakangnya udah tipis itu sudah bersiap sejak subuh. Nin, kita harus bikin lagi #onedaynekattraveler. Kita pun cussss sekitar jam 5.00. Tujuan pertama kita adalah bukit bintang, berharap dapet sunrise disana aja, karena mau ngejar di Gunung Api ngga mungkin. Eh ternyata kita salah arah, sunrise-nya kan dari timur, artinya di belakang kita. Haha, waguuu... Tapi, yang spesial adalah banyaknya koloni laron sepanjang perjalanan.
Bukit Bintang. Kalo dizoom dan kameranya bagus, bisa keliatan tuuh laron-laron beterbangannya :)

Dari bukit bintang, kita awalnya pengen ke Embung Nglanggeran dulu, eh tapi ga usah deh, udah mulai keliatan mataharinya. Pengen cepet ke puncaaaaak! Dan, tolong catet, kalo ke gunung di musim penghujan, jangan pake sepatu macem crocs, kalo ada yang lain, pake yang lain aja. Kalo aku sih emang adanya cuma itu, jadi ya udah sih. Hahaha
   

Sebut saja puncak pertama, belum apa-apa ini. Gunung Bagong namanya.



Ini di celah sempit yang kece itu :)
Pose ne Nina yang satu itu emang keren deh, doi jadi kayak pendaki gunung profesional gitu. Daaaan, disini ada momen-momen yang ga banget. Hahaha. Oh ya, sebelum nyampe sini sempet ketemu sama seorang ayah yang mengajak anak-anaknya yang masih kecil-kecil itu hiking disini. So sweeet!

foto di tempat yang sama kayak jaman kesini pertama bareng sohib-sohib mikro, pas milad ke 20. iki kedawan caption e
Setelah ini jalan menuju puncak semakin dekat. Dan yang paling bikin deg-degan adalah saat naik tangga menuju ke puncaknya. Alhamdulillah sampai puncak jugaaaaa :)
sepatunya embak yang ga dipake dan baru aja disol :3
TOSSSS!!! NINAAAAAA, TEKAAAAN!!!!
Di puncak, rasanyaaaa, ga mau turuuuuun! Tapi, kita harus turun, pantai sudah menantiiiii :))))

11.04.2014

Mereka yang Berhati Permata

Ada hal-hal tak terduga yang membuat kita bahagia entah karena apa. Ada waktu-waktu terbaik yang dikirimkan Allah untuk kita agar kita mau sebentar saja merenungi waktu. Ada orang-orang spesial yang kita temui dan kata-katanya membuat kita menyadari betapa beruntungnya kita bertemu mereka.

Here i am...
Pada hari-hari yang kita anggap hanya berisi kesibukan ini itu, ternyata ada banyak pelajaran berharga--yang membuat hati meleleh--di dalamnya. Kemarin ini salah satunya...

Cerita pertama...
Saat di sekolah, jam pelajaran anak-anak... Saat anak-anak diceritain kisahnya nabi Musa-nabi Daud dan kaum, tiba-tiba Nia nyeletuk, "Bu guru, aku ngga mau kaya, nanti aku ndak ngga sholat...". Hah? Kok Nia tiba-tiba banget gitu? Hahaha. Aku pun menimpali, "Lhoh, ngga papa dong jadi kaya, yang penting kan mau shodaqoh...". Doi menimpali lagi, "Iya, aku maunya shodaqoh aja..."
Entah angin apa yang mendatangkan pemikiran itu di benaknya, dia emang unpredictable banget. :3

Cerita kedua...
Saat ngelesin si Bayu. Oh ya, Bayu ini adalah salah satu anak les yang super duper spesial. Meskipun dia ini nilai akademisnya agak kurang di sekolah, tapi dia itu super jenius menurutku. Gimana engga, waktu pertemuan pertama kita, dia bilang cita-citanya pengen jadi NINJA. Kura-kura Ninja. Biar bisa nangkepin maling, katanya. DIa jago banget bikin komik yang sangat imajinatif untuk selevel anak kelas 6 SD. Pertemuan kedua, aku makin kagum bingit, dia ternyata juga jago bikin mainan sendiri. Mulai dari pistol-pistolan model polisi, senapan laras panjang, kapak, gergaji mesin, dsb. Semuanya handmade. Cerdas kan? 

Nah, di pertemuan ketiga kemarin ini, kita belajar matematika. Aku ngasih dia soal karena emang tampaknya butuh banyak latihan. Berpura-puralah aku menjadi kura-kura orange dan dia kura-kura merah. Hahaha
"Soal cerita. Bayu punya 35 pensil. Lalu ibu membelikan lagi 45. Di jalan, pensil Bayu jatuh 30. Berapakah sisa pensil Bayu?" 
Udah tuh ya, selesai nulis soal, eh dia nya protes, "Itu jangan jatuh, kan kasihan mama kalo pensilnya jatuh, harus beliin lagi. Bujel aja, bujel.
Hahahaha, booooy you are so so soooo coooool :')) 


Kalian-kalian itu, anak-anak yang selalu menginspirasi itu, ahhh kalian memang berhati permata.... 

11.02.2014

Wiwara Gundul Lhoh Tante!


dek wiwaraaa, tante suka terharu lhoh dek liat fotomuuu... Apalagi pas weekend ga pulang kayak gini :3

10.27.2014

Scrapbook Pertama

Ini adalah scrapbook pertamaku.... Dipersembahkan untuk Mbak Kiki tersayaaaang, yang baru aja mengakhiri masa lajangnya dengan cerita yang sangat so sweeet... :))) Mba Kiki ini adalah sohib dari jaman SMP yang juga temen sebangku pas kelas 2 dan 3...
Barakallah mbaaaa, semoga jadi keluarga sakinah mawaddah warohmah... 
WE LOVE YOUUU!
niatnya ini mau dibikin kayak di film Up, tapi jadinya up-up-an banget. haha

bagian pohon itu adalah bagian kesukaanku

*seru kali yaaa bisa punya usaha scrapbook gituuuu :3 haha

10.23.2014

Cerita Punti

Gambarnya Punti. Saat ditanya itu gambar apa? Dia bilang, "ini anak perempuan yang lagi marah sama ibu bapaknya soalnya ditinggal pergi terus" dengan sangat spontan.

Namanya Punti. Dia adalah salah satu murid di Tsabita yang rumahnya deket banget dari sekolah. Dia sebenarnya sudah lama bersekolah disini, tapi kedatangannya bisa dihitung dengan jari. Mulai semester ini, sekolah mengusahakan dia agar mulai rajin sekolah karena usianya yang udah masuk TK. Daaan, jadilah dia salah satu dari empat murid kelasku yang tersisa. 

Usaha pertama kita adalah melakukan home visit ke rumahnya sambil bawain kado, yah meskipun bocahnya malah pergi main entah kemana. Oh ya, jadi, selama dia ngga sekolah, dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk main kesana kemari sendirian atau menonton TV di rumah. Alhasil, agar rajin masuk sekolah, kita berusaha untuk menjemputnya karena beberapa kali dia bilang 'ngga ada yang nganter'. Banyak cerita dan pelajaran yang aku dapet saat ngejemput anak perempuan yang punya tiga saudara ini. Misalnya niiiih...

Suatu hari....
Aku dateng pas dianya belum ngapa-ngapain. Masih ada bekas tidur di wajahnya yang cantik. 
A : Ayo sekolah mba punti...
P : Aku ngga mau sekolah...
A : Kan sekolah enak, banyak temennya. Main-main sama semua temennya... 
P : Ngga mau... 
A : Ayo sayang, mba punti kan katanya mau jadi dokter to...
P : Tapi aku ngga mau sekolah...
A : Kalau mau dokter harus sekolah dong...
P : Aku tu takut sama si itu e...
A : Kenapa takut nak? Kan semuanya sayang sama mba Punti.
Sampai akhirnya ibunya keluar dari dalam rumah, memaksanya untuk mandi dan dia pun berangkat mandi. Aku nunggu di depan rumahnya yang sederhana. 
Sekitar lima menit kemudian, dia keluar dengan sudah mandi bersama ibunya. Dia tetap tidak mau berangkat. Nangis-nangis (and you know, the crying child is always breaking your heart!). Aku harus membujuknya lagi.
A : Ayo sayang, kan mba punti sayang ibu to, ibu kan pengen mba punti sekolah...
P : Ngga...
A : Mba punti kan sayang mas, adek, sama bapak to...
P : Engga...
A : Ayo sayang, semuanya sayang lho sama mba punti, bu guru, temen-temen, semuanya pengen mba punti sekolah...
Sampe ibunya agak tinggi nadanya dan embah kakungnya di dalem juga ikut marah-marah. Dan, episode setelah itu--yang agak ga menyenangkan--dia menangis sejadi-jadinya dan datang ke arahku, memeluk ketakutan. Begitu agak lama dan akhirnya dia mau berangkat. 

Suatu hari yang lain...
Pas aku dateng, dia udah mandi. Tapi tetep ngga mau sekolah. Nangis-nangis. Ada ibunya juga waktu itu. Kita bujuk terus. Nangis terus. Sampe akhirnya dia hampir mau dan mbahkungnya dateng lagi. Dia makin mau (haha). Kita pun berangkat. Oh ya, ada satu kebiasaan yang coba aku biasakan ke dia, yaitu berpamitan kepada ibunya sambil mencium tangan dan pipinya. Paling tidak, aku pengen ngeliat hubungan ibu dan anak itu lebih sedikit romantisss... :))
Saat pertama duduk di motor, sikapnya berubah banyak. Dia ceria kembali. Dan saat masih di pelataran rumah, sebelum sampai di jalan, dia menyeletuk, "Bu guru, kan belum berdo'a...".

*******
Hei, kamu tau nak, pagi itu aku sangat bersyukur kepada Allah. Bahwa Allah telah menunjukkan harapan yang terang benderang itu. Bahwa seburuk apapun keadaan kita saat ini, kita tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah berupa kebaikan-kebaikan di hari mendatang. Karena Allah yang menanamkan kebaikan--sekecil apapun--di hati kita. Termasuk di hatimu sayang... Tetap rajin ke sekolah ya naaaak... :))

10.05.2014

Bahagia itu Sederhana

Bahagia itu sederhana, ketika kita menyadari bahwa kehidupan kita adalah bukti ke-Maha Besar-an Allah subhanahu wata'ala...

jadi, pandai-pandailah bersyukur mbul :)
tubuh yang sehat, panca indra yang semua berfungsi dengan baik, makanan minuman yang tak pernah tak ada, keluarga yang hangat, sahabat-sahabat yang baik, guru-guru yang penuh kelembutan, teknologi yang memudahkan, hujan yang turun dari langit, sinar matahari, pekerjaan yang menyenangkan, murid-murid yang tak henti tersenyum menentramkan hati, kendaraan yang juga memudahkan, angin semilir, dedaunan yang meneduhkan, air bersih, iman islam, dan tak akan pernah selesai sampai kapanpun menuliskan semua nikmat yang telah, selalu, dan akan terus Allah anugerahkan kepada hamba-Nya.

10.01.2014

Mbak Tika Jadi Ibu :)

Peristiwa bersejarah itu akhirnya hadir hari Ahad, 28 September 2014, jam 9.30 di Rumah Sakit Dr. Oen Solobaru. Iya, peristiwa bersejarah itu aku beri judul 'Mbak Tika Jadi Ibu'. Mungkin tulisan ini adalah caraku untuk mengingat betapa besarnya kekuasaan Allah pada hamba-hamba-Nya, betapa nikmat(sakit-degdegan-bahagia)nya perjuangan apa yang kita semua tau sebagai melahirkan, dan betapa suci-murni-indah-dan tak bisa diuangkapkan lagi ketika seorang bayi mungil akhirya lahir ke dunia. 
*aduh, aku sedikit melankolis dan belibet deh jadinya nulis ini. heheuuu

Itu artinya, melahirkan itu adalah sebuah peristiwa yang sangat menunjukkan ke-Maha Besar-an Allah. Dan, menunggu orang melahirkan itu bisa jadi pengalaman spiritual yang tak akan bisa dilupakan (catet, baru nungguin lho belum yang ngejalanin sendiri). 

Singkat cerita, sore itu hari Sabtu, 27 September 2014, sekitar maghrib, mba Tika sama mas Heri cek ke RS, soalnya kemarinnya udah mulai bukaan 2. Secara mba Tika hpl-nya udah sejak 24 September kemarin. Naaah, nyampe rumah sakit ternyata udah bukaan 3,5. Akhirnya, mereka memilih untuk langsung standby di RS. Aku-ibu-bapak yang baru siap-siap ke RS, dapet kabar dari mas Heri kalo mba Tika udah bukaan 4,5 setelah isya'. Kita pun meluncuuuuur... Do'a-do'a mengangkasa... Sampai di RS di ruang bersalin, si mba mukanya udah pucet bingit gitu--tandanya mulai panik. Ternyata gegara ada pasien lain yang lagi teriak-teriak banget setelah dipacu, jadilah mereka nunggu agak jauh dari ruang bersalin. Katanya, sakitnya mba Tika udah tiap lima menit dan tugas para penunggu adalah 'ngelus-elus punggung'. 

Menit demi menit berlalu, bukaan tak kunjung nambah. Akhirnya dokter menganjurkan untuk dipacu aja buat mbantu nambah bukaan. Jam 11-an mba Tika mulai dipacu lewat infus. Mas Heri nungguin terus di deketnya, aku sama ibuk giliran. Dua jam kemudian dicek lagi sama perawatnya, ternyata baru bukaan 5. Ampe doi ngantuk dan tertidur. Kita para penunggu setia juga tidur-tidur-ayam gitu deh di ruang tunggu. Oh ya, pas lagi dipacu, di perut si ibu dipasangin alat pendeteksi detak jantung buat ngeliat detak jantung si dedek. Aduuuh itu suara bikin mmmm mmmm mmmm melting. 

Sekitar jam 7, kontraksinya makin kenceng, makin sakit kayaknya. Setelah di cek ternyata masih aja bukaan 5. Daaan baru setelah jam 8-an dicek udah deh bukaan 7. Kita disuruh siapin kebutuhan si ibu sama si dedek. Macem-macem dan yang ngerti cuma orang yang pernah ngelahirin. Heheu... 
Itu tuuuh, deg-degannyaaaaa.... Awalnya aku cuma disuruh nunggu di ruang tunggu, tapi karena penasaran banget, akhirnya aku masuk. Ngeliat mba Tika kayak yang sakit banget gitu, mulai deh ga tega, mulai deh mewek. Hahaha itu ga cool! Tapi emang deh ya, bener kata orang, seseorang akan mengerti bagaimana perjuangan seorang ibu ketika ia telah benar-benar jadi ibu. 

Yang lebih waw, adalah ketika mba Tika ngeremes-remes tanganku, kayak yang sering diliat di sinetron-sinetron itu lhoooo. Dan, ketika udah suakit banget, kita akhirnya diminta keluar sama perawatnya, cuma suaminya doank yang boleh nungguin. Aku sama ibu keluar. Ibu tetep nunggu di deket ruang bersalin. Daaaaaaaaaan finally, jam 9.30, lahirnya seorang anak laki-laki dengan berat 3,6 kg dan panjang 49 cm. 

Welcome to the world dek Kawiwara Alilan Priyatmoko, ponakan pertama yang sholih ganteng dan sehat terussss... Kata bunda sama bapaknya yang sama-sama penulis, Kawiwara itu artinya penyair yang besar, Alilan itu artinya orang yang suci, dan Priyatmoko itu dari nama bapaknya. Sehat sehat terusss yaa deeek, ga sabar liat kamu gedhe trus tante ajakin maiiiinnnnn.... :)))

9.25.2014

Begadang

Ini ceritanya lagi nemenin mba riri begadang ngerjain PR-nya pak dosbing tesis. Jurnal-jurnal berserakaaaan, benar-benar ngingetin jaman dulu masih berkutat dengan jurnal-jurnal yang berbahasa planet itu.. Hahaha

semangat mba riii, cepetan ke riau, cepetan lulus, cepetan nikah deeeeh (dibalik juga boleeeh dink). :*

9.15.2014

Serambi Masjid

Hari ini anak-anak so sweet deh. Waktu jam sholat dzuhur mereka seperti biasa ikutan sholat di masjid deket sekolah. Pas udah selesai sholatnya, ada dua hingga tiga orang yang teriak-teriak, "Berdo'a duluu, do'anya di depan sini lhooo, nanti dulu do'a duluu..."
Padahal, bu gurunya anteng aja, mereka udah langsung ngumpul di serambi masjid terus do'a--seperti do'a yang dibiasakan kepada mereka setelah sholat.
Aiiih naaak, kalian kok so sweet siiih...

Suatu saat, kalian akan menyadari satu hal bahwa kalian harus bersyukur kepada Allah, yang mengilhamkan kebaikan di hati-hati kalian... 

9.08.2014

Father and Son (Yusuf Islam/Cat Stevens)

FATHER AND SON (Yusuf Islam/Cat Stevens)
It's not time to make a change
Just relax, take it easy
You're still young, that's your fault
There's so much you have to know
Find a girl, settle down
If you want you can marry
Look at me, I am old, but I'm happy

I was once like you are now
And I know that it's not easy
To be calm when you've found
Something going on
But take your time, think a lot
Think of everything you've got
For you will still be here tomorrow
But your dreams may not

How can I try to explain?
When I do he turns away again
It's always been the same, same old story
From the moment I could talk
I was ordered to listen
Now there's a way
And I know that I have to go away
I know I have to go

It's not time to make a change
Just sit down, take it slowly
You're still young, that's your fault
There's so much you have to go through
Find a girl, settle down
If you want you can marry
Look at me, I am old, but I'm happy

All the times that I've cried
Keeping all the things I knew inside
It's hard, but it's harder to ignore it
If they were right I'd agree
But it's them they know, not me
Now there's a way
And I know that I have to go away
I know I have to go
  Songwriters: YUSUF ISLAM, CAT STEVENS
*bikin terharuu bingit*

Kasetnya Eric Clapton

Foto: oleh-oleh dari fky :') #ericclapton
Ini salah satu oleh-oleh dari FKY 2014. Kaset pita albumnya Eric Clapton seharga limabelas ribu. Mungkin aku udah ketularan hobinya bapak yang suka beli kaset-kaset jadul gitu, soalnya ditunggangannya bapak masih ada tuh tape buat ngedengerin lagu-lagu dari kaset. Daaan, pas FKY kemarin ada eric clapton ituuu... Meskipun aku ga banyak tau lagunya, hahaha paling yang aku tau cuma Tears in Heaven sama Wonderfull Tonight doank. Disana ternyata ada lagu-lagu lain yang ga kalah keren, semacam Changes the World.

Kapan-kapan kalo pas sempet mau nyari kasetnya Cat Stevens (Yusuf Islam). Itu semakiiin kereeen... :')))

9.03.2014

Ada Masa

Ada masa dimana kamu tidak tau lagi apa yang kamu inginkan dan hanya bisa menyerahkan semuanya kepada Allah.
 

8.28.2014

saat nunggu makan siang anak-anak

Hampir tiap hari bareng anak-anak itu ngebikin benar-benar sadar, jadi ibu yang baik itu ga mudah pake bangeeeet. Akan selalu ada hal-hal yang bikin geregetan, ga sabaran, pengen teriak-teriak, pengen 'tetiba mewek', atau bahkan bosen dan cepet laper (hahaha :p). Tapiiii, bareng mereka juga selalu banyak hal-hal yang mengaharukan yang membuatmu belajar. yah begitulah. Hahahaha 

*ini ga penting sih, lagi nungguin makan siangnya anak-anak yang belum dateng2

8.19.2014

Pengamen Terkece I've Ever Met

Ah iya, ada satu hari spesial yang harus aku ingat. Hari dimana untuk kedua kalinya aku ketemu sama bapak pengamen yang super kereeen. Namanya sebut saja pak Agus. Waktu aku ketemu pertama kali dengan si bapak di bus solo-jogja, si bapak ini emang udah keren. Pengamen eksklusif yang nyanyiin lagu mulai dari tembang kenangan indonesia, jawa, ampe lagu barat (waktu itu lagunya George Benson-Nothing's gonna change my love for you). Suaranya itu bagusssss... Waktu itu aku sangat berharap untuk bisa ketemu si bapak lagi suatu hari.
Dan, pertemuan kedua kemarin itu, kekerenannya ga berkurang. Lagu terakhir yang dinyanyikan teuteup--nothing's gonna change my love for youuuuu... Hahaha. Aku sudah sangat tidak bisa menutupi ke-excited-an ku. Habis bapaknya keren. Bapaknya selalu mengulang-ngulang kalimat yang sama "Kula niki wong ngamen empun lemu, mboten sah mesakne, menawi ajeng maringi gih alhamdulillah nek mboten gih mboten napa-napa." COOL! Dan, bapak yang berusia sekitar 50 tahunan itu selaluuuu banget senyum. Selalu banget. Itulah kenapa suasana di bus pagi itu jadi caiirrr banget. Thanks bapak kece! 

Dan, tibalah saat untuk mengedarkan bungkus 'kopiko' itu. Waktu nyampe di bangkuku di baris belakang, si bapak--yang katanya bupatinya pengamen klaten--ngajak ngobrol. Begini kira-kira obrolan antara aku (A) dan si bapak (B)...

B : Nglaju terus nopo mba?
A : Mboten pak, paling seminggu sekali....
B : Kuliah ten pundi? Jurusan nopo?
A : Mikrobiologi pak, (ngeh ga ya bapaknya?). Biologi pak... Pertanian... 
B : Oooh, mikrobiologi (mikir dulu), diajar pak Joedoro ya?
A : Waa enggih pak, kok njenengan tepang? (alm. pak joedoro itu dosen favoritku bangettttt)
B : Kenal pak ini pak itu (si bapak mulai nyebutin nama dosen-dosen di kampusku)
A : Waa enggih paaaak... (mulai makin penasaran, kok bisa kenal yaaa?)
B : Wingi aku yo bar teko reunian e plantagama karo agrina.
A : Waaaa (cuma bisa waa waa waa doank, masih 'wow' banget)
B : Aku biyen angkatan e bu iki...
A : Owalahhhh, sakniki dekan e pak niku pak, bla bla blaaa

Perbincangan masih terus berlangsung hingga si bapak nunjukin kartu namanya dulu waktu masih jadi wartawan. Ternyata si bapak juga pernah kerja di primagama. *amazing bingit* Beliau katanya juga pernah menyanyi di depan menteri pertanian. Si bapak juga bilang kalo sekarang lagi ngumpulin duit buat nguliahin anaknya di jurusan akuntansi. *makin wow*
Pagi itu, aku berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak akan pernah meremehkan profesi apapun, asalkan itu dibolehkan--halal. Termasuk profesi pengamen--atau sebut saja musisi jalanan--yang mereka pasti punya alasan mengapa memilih itu dengan background apapun yang mereka punya. 

8.18.2014

Di Atas Kapal Kertas



Di Atas Kapal Kertas (Banda Neira)
Bersembunyi di balik tirai
Memandang jalan
Gadis kecil ingin ke luar
Menantang alam 
Tapi di sana hujan
Tiada berkesudahan
Tapi di sana hujan turun membasahi semua sudut kota
Hapus tiap jejak jalan pulang
Berangkat di atas kapal kertas
Menggantungkan haluan
Menambal, menyulam, menghindari karam
Berangkat di atas kapal kertas
Bersandar ke layarnya
Di antara suka, di antara duka
Bersembunyi ia di dalam
Mengintai ruang
Gadis kecil merangkai kapal
Melipat jarak
Tapi di sana hujan
Tiada berkesudahan
Tapi di sana hujan turun membasahi semua sudut kota
Hapus tiap jejak jalan pulang
Berangkat di atas kapal kertas
Menggantungkan haluan
Menambal, menyulam, menghindari karam
Berangkat di atas kapal kertas
Bersandar ke layarnya
Di antara suka, di antara duka 

*the most played song in this week* hahaha
termasuk juga momen main-main kapal kertas bareng merekaaa... 

8.06.2014

First Time Bingit Coy!

Hari ini unexpected experience banget dah. Jadi, salah satu hal yang ga pernah ada di 'to do list' adalah belajar nyetir mobil. Dan, karena tuntutan dari banyak pihak 6 bulanan terakhir ini, aku akhirnya memutuskan untuk belajar nyetir. Itu pun akhirnya fix karena si penyokong dana kursus (embak bumil red) udah ngasih duitnya, mau ga mau kaaaan ya harus mauuu... Setelah 1,5 bulanan duitnya disimpenin sama ibuk (soalnya ntar kalo aku yang bawa, bisa abis buat nananina ahahaha) dan setelah maju mundur maju mundur buat ngedaftar di tempat kursusnya (baru ngedaftar lho), akhirnya tadi ituuu dimulai juga latihannyaa... Apaaa? 
Awalnya grogi, setengah hati, deg-degan, dan males berangkat. Tapiii, wis mbayar jeee, masa' iyaa mau mundur lagiii... Yaudah deh, hayuk aja. Bismillah...

Karena ini bakal jadi first time ngejalanin mobil, aku sih berbaik sangka, latihan pertama pasti di lapangan lah yaaa, selooow... Eh ternyataaa, latihan pertama langsung disuruh nyetir di jalan umum, kampung sih, tapi banyak juga sepeda-motor-mobil-truk-sampe pejalan kaki yang lewat. Wah, bercanda banget ni bapak mentornya. -,- Oke, mau ga mau, wis hayuk aja. Bismillah... 

Si bapak udah tinggal nyuruh-nyuruh gitu. "Yo, kopling, masuk satu, lepas kopling pelan-pelan, tahan, gas, tenang-tenang, ojo tegang, setir lurusin, kiri dikit, lurus, kanan dikit, gas tambah, kopling, masuk dua, setir, lurusin, ojo kengananen, dan sebagainya dan seterusnyaaa." Hahahaha XD 

Seruuuuuu!!!

Dan, setelah jalan sejaman, eh kok enak yaa. Semoga lancar dehh ampe bisaa! Aamiin :')
good morning, evening :)

Agar di setiap pergantian waktu--dari pagi ke siang, siang ke sore, sore ke malam, malam ke pagi lagi--kita selalu memastikan bahwa hidup telah kita jalani dengan penuh makna.

8.05.2014

Karena Barbie di RCT*

Karena masih edisi liburan dan sekolah baru masuk minggu depan. Pagi-pagi ini masih sempet nonton barbie di rcti dan fix bikin kangen luna sama aisy... Hahaha. Anak-anak sholihah yang sekarang udah SD ituuuu...
Hei nak, bagaimana sekolah kaliaaan?

Aisyah Naufa Zahra, inget banget waktu ayahmu menceritakan tentang kebiasaanmu di rumah nak. Tentang kebiasaanmu bersepeda di sekitar kompleks tentara selepas subuh, sendirian. Atau kebiasaanmu berdo'a sebelum masuk kamar mandi, dengan menengadahkan tangan--selayaknya orang khusyu' berdo'a. Atau juga, kebiasaanmu di rumah sendirian saat ayah masih tugas, ummi masih bekerja, dek Haidar dan dek Sena di tempat embah. Atau tentang keberhasilanmu sholat 5 waktu selama sepekan--dan ternyata itu saat mau dapet hadiah dari bu guru--lalu setelah itu balik belum genap 5 lagi yaa? Hehehe, kamu pasti bisa nak! Atau waktu di sekolah, kamu yang selalu paling rajin dan paling dewasa. Ah, ummi dan ayahmu emang keren bingit nak. Oh ya, bu guru masih simpen lho hadiah dari ummi untuk bu guru-bu guru beserta tulisan tanganmu...

Sabiluna Kamila. Hei, bu guru lagi ngebayangin wajahmu pas lagi ngambek nak... Jangan ngambek-ngambek lagi yaak, ntar cantiknya ilang lhoh. Ah iya, tapi kamu selalu apa adanya, selalu tulus, dan selalu bersemangat. Apalagi denger cerita ibuk tentang kebiasaanmu di rumah nak. Kata ibuk, mba Luna tuu suka teriak-teriak gitu yaa waktu panik--semacam air kran yang belum dimatiin atau apa lah. Hehehe, wah bu guru belum sempet godain niih... Atau tentang kebiasaanmu menjaga sholat 5 waktu, yaa meskipun--kata ibuk--masih buru-buru gituuu. Lalu, waktu ditanya ibuk, "Kok belum berdo'a Lun?" dan dengan sangat spontan kamu menjawab, "Udah berdo'a kan, berdo'a biar Allah ngasih apa aja."

Duh naaaak, kangen e...

8.03.2014

Jogja, Lewat Tengah Malam

Angin segar sudah mulai berhembus menggantikan polusi yang menyesakkan itu. Udara kembali jernih sebagaimana seharusnya. Lampu-lampu kota tampak wajah aslinya—benar-benar merebut kembali tahtanya dari lampu-lampu kendaraan. Tetokoan sudah banyak yang memilih untuk tutup dan menyisakan beberapa kedai-kedai kopi, burjo, dan beberapa pusat oleh-oleh. Inilah Jogja, di lewat tengah malamnya.
Jogja saat setengah malam telah berlalu ternyata masih menyimpan cerita. Adalah cerita di balik tetokoan yang telah tutup. Laki-laki maupun wanita paruh baya, kakek nenek usia lanjut, remaja, bahkan anak-anak banyak yang memilih untuk beristirahat di emperan-emperan toko, bukan karena salah memilih tempat istirahat tapi karena mereka tidak punya pilihan lain. Di emperan tetokoan itu pun bahkan masih banyak orang-orang yang menjajakan nasi demi sesuap nasi. Asap-asap sisa memasak bakmi jawa juga masih ‘enak dicium’ ketika didekati.  Jogja, di lewat tengah malamnya, di emperan tetokoannya, ternyata masih ada nafas-nafas berhembus—tanda hidup memang tak selalu dilalui di waktu cahaya masih benderang.  
Udara dingin di lewat tengah malam tak akan diragukan lagi. Jika kita berjalan menantang dingin tanpa jaket atau pakaian hangat lainnya, kita mungkin akan merasakan bahwa dingin begitu menusuk tulang. Di udara sedingin ini, di jalanan yang hanya diterangi lampu-lampu kuning perkotaan, di saat banyak orang terlelap, masih saja ada mereka yang berjalan kaki—entah mau kemana—menyusuri jalan-jalan kota Jogja. Tengoklah sebentar Jalan Parangtritis, Jalan Malioboro, Jalan Mataram, jalanan di sekitar Lempuyangan, hingga Jalan Kaliurang, ketika lewat tengah malam, maka akan banyak kita temui kaki-kaki yang masih sanggup berjalan di saat kaki-kaki lain memilih untuk bersantai ria di atas ranjang.
Siapa pemilik kaki-kaki itu? Sebagian adalah milik bapak atau (bahkan) ibu paruh baya dengan membawa tas gendong di lengan kanannya—seperti sedang mencari sebuah tempat di kota ini. Sebagian lain adalah milik kakek atau (bahkan) nenek yang masih asyik mengayun sepeda tuanya, kadang dengan barang bawaan di kanan kiri sepeda. Dan sebagian lain adalah milik anak-anak remaja dengan kaos hitam-hitam, tas gendong diturunkan sampai di bawah pantat, telefon genggam dibawa di tangan kanan dan (kadang) rokok di tangan kiri, sebagian ada yang rambutnya dicat warna-warna norak atau diberi jambul—agar gaul, menurut mereka mungkin. Mereka sering disebut anak-anak punk. Cerita mereka tentu tidak sesederhana dan seringan langkah kaki mereka. 
Benar, terkadang kita tidak perlu bepergian terlalu jauh untuk menikmati banyak hal. Kita mungkin hanya perlu bepergian beberapa kilometer dari tempat tinggal kita dan menikmati sekeliling. Kita--pasti--akan banyak belajar dari sekitar. 

---------tulisan ini hanya repost dari tulisan dulu dengan penambahan sedikit---------

Kenangan Ramadhan (1)

Seperti kenangan, akankah bertahan, ataukah perlahan, menjadi lautan... -banda neira-

Apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita alami, dan apa yang kita rasakan hari ini adalah kenangan--yang suatu saat akan kita kenang. Termasuk ramadhan tahun ini, adakah kenangan-kenangan manis yang bertahan untuk kita nikmati dan kita ambil hikmahnya? Ataukah perlahan hanya akan menjadi seperti lautan? 

Di hari entah ke berapa ramadhan, saat aku harus kembali ke Jogja sore hari menjelang berbuka. Jika dilihat sepintas, ah tidak menyenangkan sekali berbuka di bus wonogiri-solo ini. Akan tetapi, hei, lihatlah sekitar, perhatikan sekitar, lalu maknai... Adzan berkumandang. Ada seseorang yang sudah sangat siap dengan menu berbuka puasa seadanya, ada seseorang yang memilih menunda berbuka puasa hingga bus berhenti. Ada yang sudah siap dengan es cappucino-nya. Dan, ada pula yang memilih membatalkan puasa dengan merokok. 
Yang membuatku belajar banyak saat itu adalah orang terakhir, yang memilih berbuka puasa dengan merokok. Sederhana sekali. Kita bisa saja nyinyir dengan asap rokok yang mengganggu itu, tapi lihatlah kesungguhannya. Begini, berpuasa bagi kita mungkin pekerjaan mudah, tapi bagi si bapak? Belum tentu. Semua itu atas nama kesungguhan. 

Ah yaa, inilah kehidupan. Seseorang memiliki caranya sendiri untuk menunjukkan kesungguhannya mendekat kepada Tuhannya. Bukankah Allah akan menolong dan membimbing hamba-Nya yang bersungguh-sungguh mendekat kepada-Nya? 

Pertanggungjawaban

   “Setiap kalian adalah penggembala dan setiap kalian bertanggungjawab atas gembalaannya. Seorang pemimpin adalah penggembala dan dia bertanggungjawab atas gembalaannya. Seorang laki-laki adalah penggembala di keluarganya dan dia bertanggungjawab atas gembalaannya. Seorang wanita adalah penggembala di rumah suaminya dan dia bertanggungjawab atas gembalaannya. Seorang pelayan adalah penggembala pada harta majikannya dan dia bertanggungjawab atas gembalaannya. Setiap kalian adalah penggembala dan setiap kalian bertanggungjawab atas gembalaannya.“ (Muttafaq ‘Alaih)

Jadi sudah sangat jelas, akhir dari kehidupanmu ini adalah tentang sebuah pertanggungjawaban. Pertanggungjawaban atas apapun yang kamu kerjakan dalam hidup, atas semua pilihan-pilihan yang telah kamu pilih, atas semua perkataanmu-perbuatanmu-tulisanmu-pandangan matamu,  atas semua amarahmu-kesabaranmu-ketidaksabaranmu-kemauanmu, atas semua hartamu-keluargamu-tetanggamu-sahabatmu-muridmu-dan suatu saat insyaAllah anak-anakmu. 
Sudah siap untuk mempertanggungjawabkan semuanya? Jika belum, maka tugas kita adalah belajar, belajar, dan terus belajar memperbaiki diri dan bertanggungjawab atas kehidupan yang sedang kita jalani. Agar nanti, saat masa pertanggungjawaban itu tiba, kita telah siap, benar-benar siap.

#SELFTALK

ORIENTASI

Apa yang sebenarnya benar-benar kamu inginkan dalam hidup?
Apa yang sebenarnya benar-benar ingin kamu kejar dalam hidup?
Apa tempat yang sebenarnya akan kamu tuju?
Kemana kamu akan melangkah setelah ini dan seterusnya?
Untuk siapa kamu melakukan ini itu?
Bagaimana kamu harus bersikap?
Sudah benarkah apa yang kamu jalani selama ini?
Kepada siapa kamu akan kembali?

HEI, SUDAH BENARKAH ORIENTASI DALAM HIDUPMU?

7.13.2014

Riya' itu

Berhati-hatilah terhadap penyakit hati bernama riya', karena...

Riya' itu seperti semut hitam yang berjalan di atas batu hitam, di tengah gelapnya malam.
-hadits-

*catatan di liqo terakhir bulan ramadhan tahun ini, pagi hari dan hujan. ahh indaaah... :)

7.06.2014

Sosial Media

Kita hidup di jaman apa?
Caci maki sudah jadi kebiasaan,
hujat menghujat kesana kemari,
berita bohong-fitnah-kriminal-pendidikan buruk-politik busuk-apapun.
Semua memang sudah seperti sangat carut marut.
Hingga linglung, hingga bingung.
Ujung-ujungnya tak mau ambil pusing.
Pusing seperti tak tau arah, akan kemana kita nantinya.
Semoga Allah menjaga nafas-nafas kita dalam kebaikan.


Jogja, 16 Mei 2014 --ditulis di tengah keriuhan sosial media.

Kata Pak Ustadz

Kata pak ustadz, keberkahan itu ditandai dengan adanya ketenangan di hati.

Ya Allah, jika kami belum bisa menjadi bagian dari penyebab hadirnya keberkahan di negeri ini, maka ijinkan kami tidak menjadi penyebab dicabutnya keberkahan dari negeri ini. Jagalah lisan, tangan, dan apapun yang Engkau titipkan ini dari mencaci maki dan menyakiti sekitar

6.08.2014

Kita Pisah Atap nih, Un?

Dan akhirnyaaaa, kita ngga seatap lagi yaaa uuun... Itu sediiiih bangetttttt lhooo uuuun.... 
Aku pasti bakalan super duper kangen berantem sama kamuu malem-malem atau bahkan pagi-pagi, aku bakal kangen banget ndesel-ndesel ke kamarmuuu, aku bakal rinduu banget nonton film bareng terus ketiduran bareng trus paginya sama-sama ga paham isi filmnya trus leptop nyala sampe pagi. Hahaha. Aku juga bakal kangen makan bareng di burjo trus ngrasani  si aa' burjonya atau si bapak yang agak ngeselin ituuu, aku pasti bakal rindu nitip-nitip maem ke kamu trus kamunya ga bales-bales atau baru buka hape pas nyampe kos dan begitu juga denganku, aku juga bakalan kangen teriak-teriak gegara ribut masalah-masalah ngga penting, dan yang pasti aku pasti rindu banget pas kita mau pergi bareng dan sebelumnya harus nungguin kamu dulu nyari kunci motor. Aduuuuuh uuun, kenapa kita mesti pisah atap siiiiih.... >,<

Eh iya, aku jarang banget yaa nulis tentang kamuuu, saking kita itu udah semacam 'sakmbendino ketemu' gitu. Aku juga ga tau sih, kenapa meskipun kita itu kadang sama-sama garing, tapi honestly aku ga pernah bosen sohiban sama kamuu uuuun... Kamu ituuu, the most absurd woman ever after hahahaha... Kamu yang baik, kamu yang apa adanya, kamu yang super selow (ngga tau deh, keselowanmu sama keselowanku tinggi siapa), kamu itu ngga pendendam, kamu itu rajin bersih-bersih kalo pas niat, kamu itu detail banget tapi juga pelupa (kadang aku ga paham kok bisa yaa kedua sifat ini menyatu), dan kamu ituuu ngangeniiin... Hahahaha... Tapi kamu juga nyebeliiin... :p 

Kita udah bareng berapa tahun siih? Zaman udah berganti berapa kali sih un? Sejak dulu awal semester kita sejurusan, sama-sama gabung di kmmp, sama-sama ra mudengan, trus sama-sama ngontrak sampe pindah kontrakan sampe ngekos kita juga masih bareng-bareng tauuuuk... Itu luaamaaaa lhooo... Inget ga jaman dulu kamu terjerat kasus MLM dan kita sampe bersandiwara demi menyelamatkan hartamuu? haha *lebay* Truuus, jaman kamu ninggalin aku di pakem, tempat TPA-nya KMMP malem-malem dan ga tau cara pulang sampe harus ngedatengin pak lukman dan mas ari dan itu pertama kali aku naik motor sejauh itu. Ato jaman kita KL dan ngebolang tiap akhir pekan, nongkrong di gramedia sebuah mall dan mbaca ampe selesai novel-novel, naik kereta ke bogor dengan harga 2ribu dan empet-empetan dan ketinggalan oleh-oleh di stasiun pasar minggu, sampeee kita diem-dieman dan aku mengirimimu surat. What a absurd story yaaa uuun... Aaaah, masih banyak lagiii, kapan-kapan aku tulis lagi sedikit demi sedikit yaaaah...

Foto: nemu di sebuah lpj organisasi jaman dulu dan bikin super duper sedih banget, malem ini kita ga seatap lagiiiii.. :((( 
*itu kenapa bosomu resmi banget siiih? hahahaha


terimakasih untuk never ending friendship yang indah iniii uuuuun... semoga kamu ga menemukan tulisan ini, ntar aku jadi maluuuuu hahaha :3

Anak-anakmu - Kahlil Gibran

Foto: #children #drawing #imagination
Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu
Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki ikiran mereka sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka,
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi
Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu
Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan
Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh
Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur yang telah diluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.

*sukaaaaaaa bangeeeeeet :')))

5.25.2014

Ramadhan Sebentar Lagi :'))

sebentar lagi ramadhan, sebentar lagi ramadhan...

Allahumma bariklanaa fii rajaba wa sya'bana wa balighnaa ramadhan...

aamiin yaa rabbal 'alaamiin...

RAMADHAAAAN... semoga aku bisa berusaha sekuat semaksimal sebahagia dan sehebat apapun untuk menyambut dan bertemu denganmuuu... :'))

5.22.2014

And the day had come :')

Foto: terimakasih atas semua do'a, harapan, senyuman hangat, canda tawa, hingga air mata bahagia.. terimakasiiihhh... :'))
Foto: Selamat buat Raras wisudanya colek Mawar Ramadhan,Susi Soehardjono,Ni'mal Kariemah,Lily Farasya Alawiyah :)
Foto
Foto

Terimakasih untuk 20 mei yang sangat menyenangkan kemariiin... Bahkan aku sendiri tidak menyangkan akan semenyenangkan dan semeriah kemariiin... 
Harus dicatat deh nii cerita kemarin. Setelah prosesi wisuda di gsp beres, aku pun mencari bapak ibu, mba tika, mas heri, budhe, mbah putri dan tante. Alhamdulillah, pengen terharu aja akhirnya 'a dream comes true'... Setelah jeprat jepret di tukang foto maupun di trotoar, aku pun dianter ke fakultas dan rombongan makan siang dulu di luar. Udah mikir, bakal krikkrik ga yaa, jalan ke gazebo sendirian. Eh alhamdulillah ketemu mba riri, trus kak pungki, trus anak-anak mikro yang rame banget, truuuuussss tetiba ada 2 bocil yang jalan ke arahku. Mereka, latif dan nia, yang susah payah diboyong si icha ke kampus. 
Dengan malu-malu dan terbata-bata nia dan latif bilang, "selamat wisuda ya ibu guru raras..." rasanyaaaa, pengen nangisss... Ini adalah moment tersosweet kedua setelah ketemu bapak ibu di gsp dan ngeliat mbah putri nangis terharu.. :')) Dan laluuu, di tengah gazebo udah ada balon warna-warni yang digantungin tulisan "Barakallah bu Raras atas wisudanya, semoga bisa mengamalkan ilmu yang didapat ya." plusss foto anak-anak. Aduuuh terimkasiiih banyak yaaa ibu guru-ibu guru yang ngerencanain itu semuaaaa... 
Dan lalu nina dateng, jauh-jauh dari sukoharjo. Dan lalu, banyak yang dateng memberi selamat. Atas semua ucapan, doa, harapan, senyuman hangat, canda tawa, tangis bahagia, coklat, bunga, balon warna-warni, boneka doaraemon spongebob sampe sapi, tanaman di pot unyu, origami, ampe dompet girly, terimakasih yaaaa kalian.. 
Aaaah, hari itu aku benar-benar merasa dicintai banyak orang. 
Terimakasih ya Allah mengirimkan orang-orang yang baik-baik di kehidupan ini... Terimakasih ya Allah, untuk mewujudkan salah satu mimpi terbesar selama ini. :'))

5.14.2014

Kenakalan Kuliah (1)

Oke, perjalanan di kota gudeg ini aku mulai dengan menjadi seorang mahasiswa asal daerah yang keliatan ndeso dan culun. Sukanya teriak-teriak, ngakak-ngakak, dan lompat-lompat ga jelas (ah masa iya sih gitu amat? entahlah). Dan satu lagi, image yang menempel di aku adalah mahasiswi yang bergaya serabutan dengan baju jarang matching, misal pake celana jeans, kaos pendek hijau dan spandex putih, disertai jilbab orange menyala (ini serius, dulu aku pernah kayak gitu) hahahaha... Ato, rok polkadot warna ga jelas, kaos panjang kuning, dan jilbab biru (duuuh, parah bangeeeet). 

Si mahasiswa udik itu pun sok-sokan mencari kesibukan dengan ngedaftar di banyak organisasi intra kampus, mulai dari yang berbau pers (ini serius karena aku suka nulis), berbau bisnis (kalo ini cuma diajakin siih), sampai yang berbau religius (ini juga diajakin, hehe). Yaaah, udah nyebur mending berenang sekalian kaaan. Kehidupan di ketiga organisasi itu kadang bisa sangat jauuuh berbeda.
Di pers, namanya primordia, waktu masih jadi staff yang unyu-unyu sampe jadi pengurus yang juga unyu-unyu, yang paling aku inget adalah ketika ngejar deadline di sekre ampe tengah malem, bahkan ampe nginep. Coy, di sekre itu bau rokok, bau mukena yang udah lama ga dicuci, dan bau kaos kaki dan sepatu antahberantah. Waktu itu, aku mungkin belum mengenal jam malam akhwat di kampus dan juga belum mengenal sms-sms 'udah malem lho, jangan kemaleman di kampus'. Duuuh duuuh maaak, aku dulu parah bangettt... 

Di lembaga berbau bisnis, namanya P2KM, yang ngajarin banget gimana kita harus berusaha untuk ga melulu jadi job seeker tapi harus jadi job creator. Oke, ini pasti pembahasan yang berat. Tapi disini aku jadi kenal anak-anak yang keren-keren pake banget.

Di lembaga yang religius, KMMP, haaah iyaaa tempat dimana cinta bertaburan disana-sini. Awalnya aku gabung karena diajakin sama dindud ato sama siapa ya, dulu kan masih agak serem serem gimanaaa gitu mau ikut lembaga dengan mbak-mbak jilbab lebar gituuu... Hahaha *ababil* Ehhh, ternyata si embak-embak jilbab lebar itu baik-baik dan terpesonalah akuuuu pada mereka, meskipun kadang-kadang masih bandel juga siih kalo ada agenda-agenda gituuu... 

Duluuu, bahkan, di tahun-tahun awal, sering banget ke tugu rame-rame tengah malem sama anak-anak mikro, main ke rel kereta di atas ledok tukangan sampe manjat malem-malem, bahkan nongkrong di cafe rame-rame waktu ultahnya temen terus jalan-jalan di kota jogja ampe pagi. Oh tidaaaak... 

Tapi yaa itu semua adalah pengalaman yang *unforgetable* haha

Tapiiii, yang bikin bersyukur adalah, senakal-nakalnya aku waktu ituuu, aku masih diberi Allah lingkaran yang menentramkan dan membuat banyak belajar. Lingkaran yang indah dan membuatku merasa ada tangan-tangan tak terlihat yang ingin menggandengku untuk berjalan bersama... 


*bersambung*

Cerita Sidang

Ah iyaa, ga kerasa dan kayak tiba-tiba aja udah lulus dari tempat yang udah lamaaaa banget nampung banyak cerita sedih, seneng, galau, apapun itu. Alhamdulillahirobbil'alaamiin... :')) Ga kerasa bangettt, tiba-tiba udah revisi, udah nentuin tanggal sidang, udah sidang, udah yudisium, dan sekarang udah bentar lagi wisuda. Masih inget banget tanggal 30 Januari 2014, waktu habis sidang, orang-orang berdatangan memberi selamat dan bahkan ada yang bawain coklat, daaan yang lebih sosweet lagi, tepat beberapa menit setelah keluar dari ruang yang 'fiiuuuh' itu si embak telfon dari kota seberang. Bla bla bla bla dan akhirnya doi bilang kalau positif. Artinya, aku mau dapet ponakan dong ya? Iya, insyaAllah bakal hadir seorang ponakan. Alhamdulillahirobbil'alaamiin... :'))

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan kamu dustakan?" 

Sekarang udah masuk bulan kelima tuh si dedek, yang kata dokter berdasar hasil USG itu cowok... Aakkkk, semoga sehat-sehat terusss yaaa calon ponakan dan bundanya dan ayahnya... Tante udah ga sabar pengen ngajak main niiii... :'))

Benar, kejadian demi kejadian di tahun-tahun terakhir ini begitu membuat sadar bahwa hari-hari terang akan selalu datang setelah hari-hari sulit. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah! Catet.


manusia manusia biasa

Tentang perjalanan hidup seseorang, kita tak pernah tau akan jadi seperti apa. Seperti para pelaut yang tidak akan pernah tau ombak di tengah lautan akan seganas apa. Atau seumpama para pilot yang juga tak tau apakah di tengah perjalanan akan ada awan hitam pekat. Juga seperti para pedagang keliling yang entah sampai mana harus menawarkan dagangannya untuk berbuah keuntungan. 
Mereka, sama halnya kita--manusia manusia biasa--sungguh hanya bisa menerka-nerka ujian seperti apa yang telah menanti di sepanjang perjalanan hidup kita. Ujian memang selalu menanti di depan sana dan kita pun pasti sudah dipersiapkan Allah untuk melewatinya. Bahkan kita tidak perlu sok jagoan untuk seolah sibuk memepersiapkan diri menghadapi ujian demi ujian. Kita sering sekali tidak sadar bahwa Allah-lah yang mempersiapkan kita, hingga kita mampu lolos melewati ujian demi ujian itu.
Tugas kita hanyalah bersyukur dan semakin mendekat kepada Allah. Catet. 


Untuk gembul, yang masih saja sering merasa sok jagoan hidup di dunia ini. 

5.11.2014

Mendewasalah, Mbul! (3)

Note-nya tereliye yang ngena bangettt!


Jika orang2 pergi ke sekolah, kampus, karena mereka ingin memperoleh nilai bagus, ijasah keren, maka jadilah "si idiot" yang justeru pergi ke sekolah, kampus karena ingin belajar. Bahkan kalaupun kita tidak diterima di kampus top, fakultas terbaik, tetap jadilah si idiot yang bisa belajar apa saja sepanjang dia suka, karena kita tidak peduli dengan semua ukuran itu. Lupakan soal lulusan terbaik, nilai UN paling tinggi, IPK paling top, apalagi calon mertua nyari yang lulusan S3. Lupakan. Si idiot hanya fokus sekolah karena dia suka belajar, mencari ilmu. Titik.

Jika orang2 pergi ke kantor, tempat bekerja karena mereka ingin memperoleh gaji paling tinggi, fasilitas paling top, maka jadilah "si idiot" yang justeru berangkat kerja karena itu hobi-nya. Bahkan kalaupun pekerjaan tersebut tidak mentereng, dianggap sebelah mata, tetap jadilah si idiot yang selalu riang bekerja, mengerti sekali setiap detiknya adalah ibadah--jadi boro2 mau korupsi waktu, tidak masuk kamus. Lupakan soal sikut2an, pindah2 kerja mencari gaji tertinggi, mengeluh banyak hal, apalagi menjilat ke atasan. Lupakan. Si idiot bekerja karena dia menyukai pekerjaannya, hobinya.

Jika orang2 pergi keliling dunia, jalan2 kemana2 karena mereka ingin punya foto2, dipamer2kan, ditunjuk2an ke orang lain, maka jadilah "si idiot" yang justeru tidak merasa perlu membawa kamera, berfoto ria. Bahkan kalaupun perjalanan itu tidak penting, tidak jauh, hanya ke pasar dekat rumah, tetap jadilah si idiot yang selalu memperoleh pengalaman baru dari setiap perjalanannya. Lupakan soal catatan hebat, si idiot lebih memilih memeluk sendiri semua pengalaman hidupnya, untuk menjadikannya semakin baik dan paham.

Sungguh, bukankah jika orang2 melakukan banyak hal dengan rumus yang sama, dan ternyata lebih banyak gagalnya, mungkin sudah tibanya bagi kita semua untuk mencoba menggunakan cara "si idiot".

Lakukanlah. Boleh jadi dengan cara ini, kita akan benar2 mengetahui definisi kebahagiaan hidup. Tanpa topeng, tanpa pamer, tanpa harus sibuk menjelaskan, menerangkan, apalagi membuktikan betapa kerennya hidup kita. Yang sialnya, orang lain justeru sebaliknya, sibuk pamer, menjelaskan, menerangkan dan membuktikan betapa keren hidup mereka ke kita.

Si idiot tidak peduli itu semua, dia hanya sibuk menjalani hidup sebaik mungkin, mengalir seperti aliran sungai yang jernih nan bening.

*saya tulis ulang dari film "3 Idiots"


Mendewasalah, Mbul! (2)

Daaan, ini mungkin bisa jadi salah satu jawaban

Mendewasalah, mbul!

Tibalah masa-masa dimanaaaa banyak sekali hal yang tidak boleh dipikirkan sambil lalu banget dan apalagi main-main.
Yaampuuun, kamu umurnya berapa sih mbul? Come on, mendewasalah!
Mendewasalah, mbul!


*oleh-oleh dari datang liqo pas liqonya udah bubar :(

4.08.2014

Mas Syaffa Sholih :)


Mas Syaffa', yang pake baju olahraga warna kuning... Udah sejak Januari kemarin ga sekolah lagi di Tsabita karena harus ikut abinya sekolah lagi di Jerman. You know nak, teman-teman masih sering inget sama kamu. Waktu bu guru tanya, "Siapa yang ga masuk yaa hari iniii?", banyak yang lalu bersorak, "Mas Syaffaaaa..." Dan bu guru bilang lagi, "Mas Syaffa' kan udah di Jermaaan...", lalu mereka bersorak lagi, "Main salju yaa bu guruuu?" dan pastilah percakapan selanjutnya dipenuhi imajinasi tentang salju. Hahaha kapan-kapan kita harus video call-an rame-rame yaaa naaak? :)

Rendra Ajinata


Rendra Ajinata, si empunya gambar di atas sekarang udah ga sekolah lagi di Tsabita. Ceritanya, dia harus pindah ke Temanggung ikut ibuk bapaknya. Si bapak yang seorang tentara harus pindah tugas gitu deeeh.. Ah, nak, kamu adalah salah satu anak yang kerennnn, yang paling aku inget adalah selama 3 pekan terakhir ini, saat setiap jam hafalan kamu selalu minta untuk hafalan surat At-takatsur. Teruuus, waktu kamu milih gambar untuk diwarnai, tapi ga bu guru kasih, kamu awalnya diam, cemberut, dan manyun--males mewarnai. Tapi setelah beberapa lama, kamu pun melunak dan mau mewarnai....Oh, ya, satu lagi, waktu kamu tiba-tiba cerita tentang Mardaniii...Hahaha Daaaan, yang paling diinget lagi adalah saat kamu mengerjakan pekerjaanmu saat belajar, mewarnai, melukis, menulis, dan membuat apapun, kamu selalu bersungguh-sungguh. Betapa terharunya bu guru, ketika ibumu bilang kamu selalu menyimpan pekerjaan-pekerjaanmu dari sekolah naaaak...
Heeei, tetaplah ceria, tetaplah memberi contoh kebaikan, dan tetaplah apa adanyaaaa... :)

Namanya Muhammad

Foto: whata expression :3
Kalo yang ini namanya Muhammad... Ganteng dan sholih dah :)

Wall of Photography

Foto: salah satu cara mengobati hasrat travelling :3
Haaaah seneng bangeeet bisa bikin beginian... Sebagai pengobat dan motivasi untuk ngebolang yang jauuuh suatu saat nantiii... :)
aduh ini postingannya ga banget, lagi jaman pemilu bro iki ki... :p

3.29.2014

Aku hanya soktau!

Baiklah, banyak sekali yang mengganjal di pikiranku akhir-akhir ini. Salah satunya adalah tentang ramainya kampanye pemilu di berbagai daerah dan ramai pula komentar orang-orang di sosial media. Orang-orang di sosial media sudah mulai menunjukkan kesukaan dan ketidaksukaannya pada golongan ini lah, golongan itulah, partai inilah, partai itulah. Ada juga yang mulai sering share tentang partai paling korup-lah, kejelekan partai-lah, kebaikan partai-lah, jangan golput-lah, daaaaan macem-macem. Tak jarang, beberapa di antara kita, mungkin termasuk aku juga, yang bahkan terlibat perang opini atau bahkan perang status di sosmed. Wajarkah itu? Wajar pastinya...
Kita hidup di  sebuah dunia, yang mana setiap orang diberi akal, kemampuan berpikir, dan kecerdasan sendiri-sendiri oleh Sang Pencipta bukan? Jadi, kita pasti mempunyai sudut pandang tersendiri tentang suatu hal, entah baik atau buruk. Tapi kadang aku juga muak, melihat orang-orang yang dengan santainya menghujat seseorang/sebuah golongan karena kesalahan yang dilakukan  padahal belum tentu kebenarannya. Mungkin aku juga begitu dan aku juga muak dengan kelakuanku sendiri. 

Tapi, bukankah kita masih punya etika untuk urusan sederhana seperti bermain sosmed ini? 
Dan ini adalah catatan untuk diriku sendiri, yang mungkin saja sudah lupa etika bersosialmedia...

Apakah benar bahwa kebencian akan susuatu/seseorang harus kita tebar kepada semua orang, hingga semua orang ikut membenci? Mungkinkah kita telah lupa bahwa bisa saja apa yang kita katakan akan menyakiti dan meninggalkan bekas luka yang mendalam bagi mereka yang kita benci? Eh iya, bahkan mungkin kita telah lupa untuk apa kita sibuk membenci dan lalu menebar kebencian itu? 

Apakah sosmed tidak bisa diisi dengan perkataan yang baik-baik saja? Sekalipun itu sebuah kesalahan dari sesuatu/seseorang,  bukankah akan lebih indah jika kita menyampaikannya dengan perkataan yang baik? Tidak dengan menghujat sesuka hati, seolah yang menghujat tidak lebih baik dari yang dihujat. Seolah yang disalahkan tidak pernah melakukan sesuatu yang benar. 

Apalagi sebuah kebaikan dan kebenaran. Bukankah sangat indah jika sosmed diisi dengan pesan-pesan kebaikan atau dengan berbagi kebaikan-kebaikan apa yang telah dikerjakan oleh sesuatu/seseorang? Mungkin sekarang bukan lagi jamannya berbagi tentang kebaikan-kebaikan kecil  yang tercecer ya? 
Mungkin sekarang kita sedang hidup di jaman yang penuh caci maki ya?
Jika berbagi tentang hal-hal baik yang dilakukan seseorang atau segolongan orang itu dirasa terlalu berlebihan atau bahkan terlalu menyombongkan diri, mungkin kita hanya perlu diam. Tapi, semoga Allah tetap menjaga lisan kita dari mencaci maki. 

Ah ya, lagi-lagi, kita hidup di dunia yang serba membingungkan. Aku hanya sok tau! 

Hei, Kalian Masih Mau Bersekolah kan?

Hai Rani, Lukman, dan Dani... Entahlah, akhir-akhir ini aku merasa tidak bisa menjadi pengajar yang baik bagi kalian. Kalian bosan ya belajar denganku? Kalian merasa "ih, mbaknya bisa ngajar ga sih" ya? Atau bahkan kalian sudah benar-benar merasa ingin ganti pengajar dengan selain aku? 
Aku sangat takut, kalian jadi tidak bisa lulus ujian kejar paket A karena aku yang tidak bisa mengajar dengan baik. Aku sangat takut, kalian semakin tidak menyukai belajar karena aku yang tidak bisa membawa suasana menyenangkan selama belajar. Aku sangat takut, kalian semakin tidak ingin bersekolah karena sudah menerka-nerka bahwa 'sekolah itu membosankan' atau 'sekolah itu melelahkan' atau bahkan 'untuk apa sekolah, ga penting ah' karena saat kalian belajar bersamaku kalian merasa belajar itu membosankan, melelahkan, dan ga penting. Kalian tau, aku sangat takut jika itu semua terjadi karenaku...

Tadi pagi, tak sengaja aku bertemu dengan Rani sedang menuju suatu tempat bersama ibu dan adiknya. Aku menghentikan motorku, bertanya kepadamu apakah mau ikut belajar pagi ini? Kamu sambil malu-malu menggelengkan kepala dan melihat wajah ibumu. Ibumu pun sedikit bercerita bahwa keluarga kalian sedang sedikit punya masalah. Ah, maafkan aku, aku bahkan tak bisa melakukan apapun untuk membantu kalian. Maafkan aku yang belum bisa meminjamkan pundak untukmu ketika kamu ingin menangis... Maafkan aku yang belum bisa meminjamkan telinga untukmu ketika kamu ingin bercerita... Maafkan aku yang belum bisa memberimu segenggam semangat untuk semakin giat belajar. Maaf... 
Hai Rani, gadis yang begitu lembut perasaan, perkataan, hingga gerak-geriknya, aku hanya berharap kamu mau bersekolah lagi. Sungguh, apa yang bisa aku lakukan agar itu tercapai?

Setelah aku bertemu Rani, aku pun melaju ke rumah kalian. Lukman ternyata sudah pergi dari pagi tadi karena dia memang pernah bilang mau beli anakan ayam hari ini. Hai Lukman, calon pengusaha ayam yang cerdas dan hebat. Aku sangat tau bahwa kamu menyimpan banyak sekali kemampuan dan keunikan yang orang lain tak punya. Aku sangat tau bahwa kamu anak yang cerdas dan lucu (ah ya, benar, kamu memang lucu). Aku sangat tau bahwa kamu begitu tidak suka dengan pelajaran matematika dan begitu suka pelajaran sosial. Kamu memang hebat, bahkan mungkin tanpa bersekolahpun kamu bisa sukses. Tapi, maukah kamu tetap bersekolah? Kamu tau kan kita hidup di negara macam apa? Ah ya, membingungkan memang...

Akhirnya, aku hanya belajar bersama Dani. Kami hari ini bahkan menumpang di tempat tetangga kalian karena di rumah simbah Dani sedang dipakai untuk menyimpan gabah hasil panen kemarin. Hai Dani, si penyuka matematika dan si anak yang 'ga neko-neko'... Maafkan aku, jika terpaksa harus sering membuatmu seperti belajar privat karena Lukman dan Rani sering absen... Maafkan aku, jika kamu mulai bosan belajar denganku saja tanpa kedua temanmu itu... 
Aku sudah mencoba banyak cara agar membuatmu tidak bosan ketika harus belajar sendirian, tapi sepertinya aku lebih sering gagal ya? Maaf ya Dan... Meski demikian, tolong jangan pernah menyerah untuk terus belajar dan menggapai cita-citamu menjadi polisi atau guru atau teknisi atau apapun itu... Aku sangat tau bahwa kamu bisa. Oh ya, kamu tau, hari ini aku hampir saja menyerah karena aku melihat cahaya yang meredup di matamu. Cahaya yang selama ini memberiku semangat untuk terus bersama kalian. Aku tadi sempat bertanya, "Dek, lagi bosen belajar ya?". Dan kamu pun menjawab "Iya mba, sendirian soalnya". Ah ya, aku berterimakasih karena kamu mau jujur dan maaf untuk semua kebosanan ini. Film yang aku putarkan tadi pun sepertinya hanya menghiburmu 'sedikit' tanpa bisa membuat cahaya mata itu benderang lagi. Apa yang bisa aku lakukan untukmu dek?

Sekali lagi, maafkan aku yang belum bisa menjadi pengajar yang baik bagi kalian. Aku sungguh ingin kalian bersekolah lagi, semembosankan apapun sekolah itu. Untuk kalian, untuk keluarga kalian, dan untuk bangsa kalian. Semoga Allah tidak akan membiarkanku menyerah saat ini tau kapanpun itu. 


Jogja, 29 Maret 2014 --di tengah keputusasaan yang mendera

3.12.2014

Celoteh Celoteh

Beberapa percakapan yang harus dicatat akhir-akhir ini...

A : Dek, kalo sore-sore gini, pas ga belajar di sanggar ngapain biasanya?
F : Cari duit mbak... *pasti maksudnya ngamen*
A : Oh, nyanyi apa sukanya?
F : Nyebar amplop mbak...
A : *njuk speechless* *aku kudu piye?*


A : Ayoook, berdo'a duluuu, berdo'anya ga boleh sambil tengak-tengok, bla bla bla...
R : Bu guru... *lalu hening*
R : Kemarin Mardani meninggal tapi ga jadi, trus kenthut...
A : *mikir* *mardani?* *apaaah? si bocah ini bahkan inget adegan di Tukang Bubur Naik Haji semalem?*
A : Oh iyaa to? *bingung gimana nanggepinnya* *ngakak dalam hati*


A : Jadi, jaman dulu itu ada seorang pengemis bla bla bla *lagi mulai cerita tentang kisah nabi Muhammad dan pengemis yahudi*
B : Bu guruuu, kemarin aku ketemu nenek-nenek kelaperan, trus aku kasih uang...
A : Iya to? Dikasih makan aja yaa naaak, biar neneknya ga laper lagiii...
B : Iya, nanti jadi seneng...
A : *udah siap mau lanjutin cerita*
B dan kawan-kawannya yang lain: Apalagi dikasih daging, pasti jadi seneng... Apalagi dikasih mobil... Apalagi dikasih rumah yaa bu guruuu?
A :  *senyum aja deeeh*


A dan B : *lagi mulai nonton Tareezamenpaar*
B : Itu kayak aku ya mbaak?
A : Iya poooo? *aku tau kamu bisa bro!*

3.06.2014

Di Tangan Anak-Anak

Di tangan anak-anak, kertas menjelma perahu sinbad, yang tak takluk kepada gelombang. 
Menjelma burung yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga di hutan. 
Di mulut anak-anak, kata menjelma kitab suci. 
"Tuan, jangan ganggu permainanku ini." 


Sapardi Djoko Pramono (1981)


-------------------

Hei, itu puisi untuk kalian, anak-anak yang hebaaaaat :) 

2.22.2014

Tentang Cangkul

Dulu, aku hanya sesekali mendengar nama beliau lewat selebaran-selebaran kajian khusus perempuan. Bahkan aku lupa apakah pernah mengikuti kajian yang diisi beliau atau tidak. Apalagi untuk tau bagaimana kehidupan beliau--yang seorang ustadzah. Kini aku mengenal beliau lebih dari sekedar tau bahwa beliau adalah ustadzah yang sering mengisi kajian-kajian khusus perempuan, beliau yang merupakan istri salah satu caleg partai politik, atau beliau yang menjadi salah satu yang merintis sebuah sekolah dan memperjuangkan pembangunan gedungnya. 
Aku ingin menceritakan sisi lain beliau yang membuatku--wow. Oh iya, akan aku sebut beliau sebagai ummi, panggilan akrab kami kepada beliau.

Suatu pagi, wanita paruh baya yang telah dikaruniai 4 orang anak itu sudah terlihat sibuk. Belum berdandan seperti akan pergi mengisi kajian--ah iya, ummi tidak pernah memakai makeup yang aneh-aneh, setauku hanya bedak tipis yang menghias wajah teduhnya. Pagi itu, beliau masih mengenakan daster dan jilbab lebarnya, serta sebuah cangkul di tangannya. Apa yang beliau kerjakan sepagi itu sendirian dan membawa-bawa cangkul? 

Ternyata beliau mencangkuli tanah untuk dibalik, agar abu vulkanik yang masih sangat tebal itu bercampur dengan tanah asli yang keras. Halaman samping rumah beliau juga sekaligus halaman samping dan halaman depan sekolah kami memang masih sangat berdebu ketika ada angin. Hei, sudah setengah halaman beliau kerjakan, artinya beliau sudah mencangkuli tanah seluas ini. Dan itu juga berarti debu yang bisa mengganggu anak-anak ketika di sekolah sudah akan sangat bekurang. 

Itulah yang membuatku kagum, pekerjaan sederhana itu pasti beliau lakukan karena cinta. Cinta kepada anak-anak yang belalu lalang pagi hari di sekolah dan sore hari di TPA dan cinta kepada segala aktivitas 'memberi manfaat'.

Ah, tetaplah menebar cinta dan tetaplah bekerja karena cinta ummi... :)

2.21.2014

Harus Serumit Inikah?

Bagaimana kehidupan manusia bisa serumit ini sekarang? Semua orang seolah hidup hanya untuk mengejar deadline ini itu, menjadi seperti ini itu, harus begini begitu. Semua orang seolah hidup hanya untuk mematuhi aturan yang mereka buat sendiri. Semua orang seolah sedang sibuk menunjukkan ke-keren-annya dalam suatu hal, sibuk memasang-masang atribut ini itu, sibuk saling mencaci maki sesama saudara, dan sibuk dalam semua agenda rumit yang kita buat sendiri.
Lalu, apa yang manusia dapatkan setelahnya? Apakah semua deadline yang kita buat sendiri itu dapat mendekatkan kepada Tuhannya? Apakah semua aturan yang kita rancang sendiri itu semakin membuat kita pantas memasuki syurga-Nya yang indah? Apakah semua atribut yang kita unggul-unggulkan itu benar-benar membuat kita benar-benar menjadi manusia yang baik? Atau hanya untuk popularitas atau semacamnya? 

Ah benar, kadang (lebih tepatnya sering) kita merasa telah melakukan banyak hal, padahal kita tidak memberikan manfaat apapun untuk sekitar dan bahkan untuk diri kita sendiri. Jadi, apa yang telah kamu lakukan selama 22 tahun ini mbul? Rasanya kamu harus lebih banyak belajar dan berbenah dan melihat kembali setiap langkah yang kamu ambil dalam hidupmu, mbul!

#NtMS

Dua Puluh Hari (part 7) - selesai!

Masih di hari yang sama. 4 Januari 2014. Setelah perjalanan panjang ke chemix selesai dan setelah perut kenyang, kita menuju lab. Spektro untuk terakhir kalinya insyaAllah. Sholat dan mari kita ke cafe! Gaya tenan. Di kedai kopi Jakal, rekomendasinya dindud yang paling paham tentang tempat enak buat 'semedi'. Sudah hampir jam 5 sore dan aku belum sholat. Astaghfirullah... Kita pun mencari masjid. Sekalian menyelesaikan BAB V dan menanti maghrib. Setelah maghrib, kita berdua memantapkan hati untuk ke rumah babe--yang notabene ada guguknya. Akkk maaakkk... Dan benar, motor baru aja nyampe di depan gerbang rumabhnya babe, si guguk udah menggonggong aja kayak kita mau masuk tanpa ijin. Ah, bisa batal ini... Oke, aku memutuskan untuk menjauh, mengirim pesan singkat ke nomor babe, dan berharap cemas barangkali sebentar lagi datang. Nihil. Belum ada balasan dan bapaknya belum juga terlihat. Aku harus balik malam ini juga ke rumah sakit. Diputuskan, draft dititipkan uneng dan aku segera ke stasiun. Tetiba bapaknya sms, "aku lagi di luar kota, titipkan teman wae". Alhamdulillah.... :)
Oh iya, tadi pagi bapak belajar berdiri dan suksessss alhamdulillah...


5 Januari 2014. Ahad. Banyak sekali tam hari iniii... Daaan, hari ini bapak belajar jalaaan... Rasanyaaaaaa, ahhh indaaaaaaah sekaliiiii.... Kata dokter juga, besok kalau stabil udah boleh pulang... Eh tapi, malem harinya, bapak sakit perut lagi, berasa pengen BAB tapi ga bisa. Semacam sembelit gitu. Para perawat nyoba telpon dokter berkali-kali, nanya gimana penanganannya, soalnya dikasih dulcola* udah ngga mempan. Alhasil, dipakailah metode lain yang tanpa obat. Alhamdulillah sukseeeeesss... Selamat tidur dengan nyenyak orang kesayangaaaan :*

6 Januari 2014. Senin. Markipuuuuul! Mari kita pulaaaaang! Finally, alhamdulillah tiba juga waktunya untuk kembali ke rumah.... Terimakasih ya Allah... InsyaAllah kami akan selalu bersabar menjaga dan merawat bapak dengan sebaik-baiknya.... :)))


Ahhh, itulah dua puluh hari yang sangat-sangat sarat pelajaran bagi kami, hamba-hamba Allah yang lemah, yang kecil, yang tak berdaya, yang hanya bisa menyerahkan segala urusan kepada-Nya, yang insyaAllah akan selalu percaya bahwa Allah akan selalu memberikan yang terbaik menurut takaran-Nya... :)


Dua Puluh Hari (part 6)

31 Desember 2013. Selasa. Pagi-pagi. Bapak sudah segar dan ditemani budhe bernostalgia kenangan masa lalu. Aku putar lagu-lagu koesplus di handphone bapak. Pagi itu benar-benar ceria. Jauh dibanding dua hari lalu. Aku diminta pulang, mengambil baju-baju lagi. Hari itu, harusnya bapak mulai fisioterapi, eh tapi karena pas embak imut sang fisioterapist dateng, bapak masih tidur nyenyak... Batal deh terapinya...

1 Januari 2014. Rabu. Ah ini tahun baru ya? Awal tahun hanya diiringi do'a "Semoga akan selalu datang hari-hari cerah setelah ini". Bapak memulai terapinya hari ini. Dan, ada yang membuat kita selalu tertawa, pas si embak imut selalu memanggil bapak dengan sebutan "Kuuung"...
"Kung, ampun sare riyen nggih kuung..." atau "Kung, nggo diangkat astonipun..." dst.
Oh ya, mungkin karena lama di tempat tidur dan belum memungkinkan ke belakang, perut bapak agak sakit karena sembelit. Jadilah dikasih obat anti sembelit sama dokter. Tamu-tamu masih sangat ramai berdatangan, semua ingin bapak segera sehat. :)
Oh ya, aku sempet sms dosbing yang sangat super itu, intinya nanya kalau misal draft skripsiku dikirim lewat email gimana karena masih nunggu bapak di rumah sakit?
Eh, si babe bales, "trus saya disuruh mentelengin komputer terus? itu sama aja mlonco aku"
Aaaaakkk tidaaaaaakkkkk!!!!
Langsung bales "Baik pak kalau begitu draftnya saya serahkan setelah bapak pulang dr RS saja. Terimakasih".


2 Januari 2014. Kamis. Bapak sudah disuruh latihan duduk sama dokter. Tapi ya karena masih agak lemes karena sakit perut, si embak terapist belum berani mengajak bapak latihan duduk. Oh ya, hari ini ibuk kumat vertigonya--yah semacam pusing banget dan rasanya kayak muter-muter gitu kata ibuk. Ibuk ngga berani buka mata selama beberapa jam. Tapi alhamdulillah, sore hari sudah mendingan. Dan malemnya dianter ke UGD buat diperiksa dan minta obat... Kamu masih harus belajar sabar dan tenang lebih banyak, mbul!


3 Januari 2014. Jum'at. Yeee, alhamdulillah akhirnya bapak latihan duduk. Makan juga udah sambil duduk, selera makan juga baguusss dan sakit perut sudah berkuraaaang... Ibuk juga udah ngga pusing muter-muter lagi... Besok mau ke jogja rencananya, nyelesaiin kerjaan lab dan draft skripsi, langsung cuss ke babe.


4 Januari 2014. Sabtu. Mbak Tika hari ini libur, jadi aku bisa ke jogja buat menemui babe. Dindud udah siap nganter kemana-mana. Tujuan hari ini adalah: 1. Chemix, toko bahan kimia langganan di belakang UIN; 2. Laboratorium; 3. Cafe, gaya banget mau nyelesaiin data tambahan, BAB IV, dan BAB V; 4. Cuss ke rumah babe.
Oke, karena kesiangan, aku minta tolong dindud ngambilin bahan di chemix sekalian jemput di lempuyangan. Tararararam, ternyata bahan yang aku pesen ngga kebawa! Harus ngambil di lab-nya, yang katanya di daerah banguntapan masih masuk. Baiklah, kita kesanaaa... Jauh!!!

bersambung... *maghrib dulu*

1.24.2014

Dua Puluh Hari (part 5)

Masih di hari yang sama, 29 Desember 2013. Setelah kami semua ditunjukkan kebesaran Allah yang maha dahsyat, bapak sudah bisa tenang. Yang membuat kami terkejut adalah ketika seorang kawan lama bapak datang, bapak bercerita, "Aku mau ki mengalami peristiwa, mengerikan. Makane yo bener nek sing jenenge kematian ki ngeri...". Intinya seperti itu. Pagi, hingga siang, hingga malam, bapak selalu menceritakan kembali apa yang dialami tadi pagi. "Dek, mau ki ana peristiwa mengerikan, background e ngono i ngeri banget..."

Dan, yang membuat terkejut, saat sedang ngobrol dengan ibuk tercinta... "Buk, iki masalahku ki piye? Ana gosip-gosip ora neng tonggo-tonggo perumahan, nek pak Joko Purwanto ki wis meninggal?". Ibuk yang saat itu duduk sambil terus menemani bapak bersama mushaf besarnya terkejut. Sesekali ibuk melirik ke arahku... Kami pun mencoba menenangkan dengan nasihat-nasihat yang jujur--memang mengerikan bicara tentang kematian itu. "Bapak, kan kematian seseorang niku rahasia Allah, mboten wonten sing ngertos. Sing penting sabar, tawakal, terus berdo'a. Gih to?". Bapak pun tersenyum. 

Sampai malam hari, sebelum tidur pun bapak masih menanyakan 'peristiwa' tadi. Oh iya, sore hari wimbo, tante, om has dateng dari Jogja. Bapak ngobrol banyak sama tante, kata tante termasuk ngomongin soal tim rekreasi. :3 

30 Desember 2013. Hari Senin. Jujur, kami sedikit trauma dengan kejadian kemarin. Kami berusaha untuk selalu bergantian menemani bapak (gantian ngga tidur gitu maksudnya). Apalagi di jam-jam menjelang subuh, rasanya mata ini sama sekali tidak ingin beranjak dari memperhatikan bapak, entah sedang tertidur pulas atau tidak. Pagi hingga sore, topik pembicaraan bapak berubah menjadi 'permainan'. Serriiiing sekali bertanya kepada kami, "Dik, wingi ki bapak perasaan e koyo melu permainan neng malang. Ngopo to emang dek?". Kami pun selalu menjawab pertanyaan bapak itu dengan jawaban yang sama "Oh, ndek wingi niku CT scan bapak, ruangan e kan kados terowongan."

Hingga pada sore harinya, semua seolah tergambar jelas. Bapak tetiba berbinar-binar, tidak seperti dua hari kemarin yang seperti kosong. Bapak menceritakan semua yang dialami dari hari Sabtu hingga Minggu lalu. Tentang bapak yang merasa ada bisikan-bisikan bahwa waktu bapak telah habis, hingga membuat bapak gelisah akut, kata bapak "Dadi aku ki ndek Sabtu ki koyo stress ngono. Nah, terus minggu ana peristiwa mengerikan kui.". 
Betapa kami sangat bersyukur, bahwa bapak kami telah benar-benar kembali. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah... Tak ada kata yang dapat mengungkapkan semua kebahagiaan dan rasa syukur ini. Yang jelas, kami memang harus semakin mendekat kepada Allah, semakin baik ibadahnya, semakin banyak amak sholehnya... 

bersambung.


*ditulis setelah revisi skripsi berkepanjangan (cuma dua hari doank padahal)* :)

1.21.2014

Dua Puluh Hari (part 4)

27 Desember 2013. Hari Jum'at. Kata dokter, bapak bisa mulai dilatih untuk merasakan 'kebelet pipis' lagi. Caranya adalah dengan menyumbat selang pipisnya. Kalau berhasil, bisa dilepas. Ternyata belum, jadilah selang masih tetap dipasang. Oksigen juga boleh dilepas. Ah, lega... Hari ini anak-anak (dindud, uneng, ica, amri, sama ian) dateng dari Jogja. Ga kebayang aja sih, karena mereka harus naik kereta, ganti bus, trus naik taksi. Ah, mereka selalu bisa bikin terharuuu... Seperti biasa, anak-anak ngobrol banyak sama bapak.
Dan, siang harinya, pakdhe Udin, sohib kenthelnya bapak jaman dulu, dateng. Lamaaaa banget... Siang hari sekitar jam 14.00, jam yang sama dengan kemarin, bapak kedinginan lagi, menggigil. Dikasih obat sanmol lewat infus. Oh ya, ada cerita lucu dibalik sanmol ini.

Begini ceritanya. Budhe, mbak kandung bapak, saat mau ke rumah sakit, pamit dulu sama dua cucunya (Fatah dan Farah).

Budhe : Dek, yangti nengok eyang joko dulu ya...
Farah : Emangnya eyang joko sakit apa to yangti? Sakit panas ya?
Budhe : Iya deeek, sakit panas...
Farah : Ya udah, disuruh minum sanmol aja, kayak aku. Nanti lak sembuh...
Fatah : Eyang joko disuruh makan yang banyak aja yangti, biar gendut. Nanti aku do'ain biar eyang joko cepet sembuh...

28 Desember 2013. Hari Sabtu. Dari pagi, bapak menggigil kedinginan (lagi). Tidak kunjung usai hingga sore hari. Bapak lebih banyak diam dan sedikit susah bicara karena gemeteran. Bapak meminta kami untuk menghubungi Om Edi, sahabat sekaligus tetangga kami, memintanya untuk dateng ke rumah sakit, dan siang hari pun datang. Lalu, bapak meminta kami untuk menghubungi teman-teman lama bapak saat bapak masih bertugas di BKKBN, pakdhe Joko (namanya sama dengan bapak) pun dateng. Lalu, bapak meminta kami menghubungi budhe, budhe pun datang. Meskipun sudah berdatangan semua, bapak tetap tidak banyak bicara. Hari ini ada yang bikin terharu lagi, sore hari, Amalia (sohibku yang kenthel banget sejak SMA). Tujuan utama selain menjenguk bapak sih sebenernya pengen curhat sebelum balik Bandung. Ah, you grow up faster maaal. Haha. Bapak masih mau tersenyum ketika Amal dateng. Alhamdulillah.

Oh ya, hari ini selang pipis dilepas karena dimungkinkan penyebab demam adalah selang itu. Malam hari, bapak susah tidur. Oksigen dipasang lagi. Tensinya tinggi, 180/90. Ngga kebayang rasanya... :( Aku menemani bapak sambil sesekali mengelus-elus tangan kirinya, berharap bapak segera tidur pulas. Ternyata sulit, bapak tidak bisa tertidur pulas, bahkan kelopak mata tidak bisa tertutup sempurna. Seperti ada gurat kegelisahan di wajahnya. Aku menemani bapak hingga jam 23.00 (meskipun aku kadang ketiduran), saatnya bergantian tugas dengan ibuk. Ibuk bangun, duduk sambil bersandar di tempat tidur bapak...

29 Desember 2013. Hari Minggu. Dini hari. Sekitar jam 3.00, ibuk memutuskan tidur di bawah dan lupa menutup palang pembatas tempat tidur. Sejam kemudian, ibuk terbangun karena gulingnya bapak jatuh mengenai ibuk. Betapa kagetnya ibuk waktu itu, bapak menggigil banget. Bisa dibilang kejang. Ibuk membangunkan aku dan budhe. Kami semua terkejut, kami semua tak percaya. Beberapa perawat datang. Bapak tegang dan terus menggigil, seperti ketakutan. Pandangan mata menerawang tak tentu arah. Pikiran kami kacau. Hanya tangisan dan suara parau ibuk yang saat itu aku dengan jelas. Salah satu ibu yang menunggu pasien sebelah menyuruh kami menutup mata bapak, aku tak mau. Oksigen lebih besar dipasang dan bapak mulai tenang. Denyut nadi stabil. Badan bapak juga hangat. Setelah beberapa saat, perawat mencoba membangunkan bapak, tidak berhasil. Ibuk lalu berbicara setengah teriak di dekat telinga bapak, "mas, kulo kalih anak-anak taksih butuh panjenengan mas..." "astaghfirullah..." "mas....".

Tak berapa lama, bapak membuka mata, tapi justru berontak lebih kacau. Kesakitan sekali. Pikiran kami semakin kacau. Dokter jaga pun datang, mengusahakan banyak hal agar bapak stabil. Sebuah alat yang membantu melonggarkan pernafasan bapak dipasang, beberapa ml cairan 'penenang' disuntikkan, dan kami yang hanya bisa menyaksikan bapak kesakitan terus berdo'a. Bapak tenang dan dapat tidur. Aku masih kacau dan memilih untuk berbicara kepada Allah, memohon kepada Allah dengan sholat. Dalam do'a aku lebih banyak bilang kepada Allah, bahwa kami masih sangat membutuhkannya, bahwa bapak orang baik, bahwa masyarakat dan keluarga masih menanti peran-peran bapak. Saat itu, aku sangat yakin bahwa bapak tidak kenapa-kenapa.

Sekitar jam 5.00, bapak dibawa ke ruang CT-scan, kita terus berdo'a, membaca al-qur'an sebanyak mungkin. Hasilnya keluar, dan alhamdulillah tidak memburuk... Keluar dari ruangan, bapak tersadar. Kami terus bilang "Bapak sabar gih, bapak kuat..."

Hari itu, hari yang akan sangat aku ingat selalu. Hari dimana segala perasaan dan pikiran bercampur aduk.

Alhamdulillah, Allah memberi kesempatan kedua bagi bapak dan bagi kami untuk lebih mendekat kepada-Nya. Puji syukur yang tak terhingga untuk-Mu ya Allah...