11.30.2013

Menikmati Solo (part 2)

Perjalanan tidak melulu harus dilakukan ke gunung, pantai, bukit, atau apapun yang berbau alam. Salah satu perjalanan manusia untuk menikmati hikmah dari manusia-manusia lain adalah perjalanan  ke kota. Dan, menikmati kota akan lengkap jika dapat menikmati lampu-lampu dan angin malamnya yang sederhana.
Baiklah, mari kita melanjutkan cerita tentang dua anak manusia yang mencoba menikmati kota dengan detail keindahan dan kesederhanaannya. (haha, ini lebay bingits)

Jadi, cerita sebelum ini (http://rarasmulats.blogspot.com/2013/11/menikmati-solo-part-1.html) berhenti sampai kita menikmati jadah bakar yang super muraah. Setelahnya, kita meluncuuur menuju sebuah perhelatan di kota Solo berjudul Soloraya Creative Expo. Acara ini dilaksanain di benteng Vestenburg, lokasinya di daerah gladak (depan Bank Indonesia). Jujur aja, baru kali ini aku (yang notabene udah sekolah SMA di Solo selama dua tahun belum pernah kesini, tiap hari cuma numpang lewat, padahal jaraknya naik becak paling cuma 7 menit, hahaha) bakal bener-bener mau masuk ke dalamnya. 
Acaranya pecaaaaaah! XD

di gerbang masuk (semua dari bambu meeen)

setelah masuk gerbang masuk dan di dalam benteng
Kata bapak sih, dulu ekonomi kota Solo maju karena tanaman bernama tembakau ini. Untuk rokok kah? I think so. Waktu pertama masuk tuu, kayak dimanaa gitu, semacam menemukan dua buah gubug bernama TOBACCO. Well yeah, kita lumayan puas bisa foto-foto disini. :)
itu fotonya berisi patung-patung mini yang dibikin sendiri oleh sang seniman (ini paling keren menurutku)
numpang narsis yeee... 
di samping stand Solopos
pertunjukan seni, di luar gubug (penonton tepuk tangannya diganti dengan mukul-mukul bambu lhoh)
tempat buat nongkrongnya, uwoooh asiiik bingit
topeng-topeng
ngileeeer, tapi kok lilin


ini dia, benteng vestenburg yang lagi direnovasi disana sini (berasa dimana gituuu)

Yang paling asyik berada di acara kreatif pecah kayak gini itu, adalah bisa dapet foto-foto ga biasa. Soalnya, ekspektasiku tentang acara ini sebelumnya tidak akan sekeren yang kita temui (yaaah, paling-paling cuma kayak pameran komputer). Eh ternyata, kereenn... Dan, aku bilang sih, dekorasi acaranya itu banyak yang dibuat sendiri oleh tangan-tangan kreatif Soloraya. Termasuk anugrah bukan tangan-tangan kreatif itu? Of course yeah! 


11.27.2013

Menikmati Solo (part 1)

Ian, yang sering memanggilku kecuut, pernah bilang, "Cut, ntar kalo kamu pulang, aku diajakin siih. Pengen ngerasain soto tempe bosok yang pernah Kamu ceritain".
Daaan, setelah beberapa kali kepulanganku doi ngga jadi ikut, weekend kemarin akhirnya bisa capcus juga. Awalnya sih mikir, bakal krik-krik ngga yaa jalan-jalan cuma berdua? :p Kita lihat nanti...

Jam 14.30, kita akhirnya meluncur menuju Solo. Perjalanan dilakukan menggunakan motornya si Ian mengingat dia akan lebih sering di depan dibanding aku. Hahaha. XD Perjalanan berangkat ini dilakukan dengan cara menyusuri selokan mataram yang ke arah prambanan--katanya siih, itu jalur yang sering dilewati Ian dari dulu ampe sekarang.

Waktu menunjukkan sekitar pukul 16.40, nyampe Solo dengan selamat. Karena tadi belum sholat ashar, kita mampir dulu di masjid Kalithan, masjid favorit warga Solo karena keteduhan dan nilai sejarahnya. Katanya sih, masjid ini adalah masjid yang dibangun oleh keluarga pak Harto, yang rumahnya deketan sama masjid.
Karena penasaran, kami pun masuk.
di depan pendopo Dalem Kalithan Solo

di pendopo
di pendopo
di dalem rumahnya
  
Oh iya, lupa, sebelum masuk, Ian sempet aku ajakin beli sate kere. Niatnya sih, sambil nungguin sate kerenya selesai dibakar, mau foto-foto bentar di depan pendopo Kalithan. Eh ternyata, malah di-guide-in sama bapak-bapak yang nunggu. Naah, habis puas foto-foto dan menikmati nuansa berbeda di dalam Ndalem Kalithan, kita pun keluar dan langsung menuju si ibu penjual sate kere (sate tempe gembus plus kikil sapi).
Pesanan kita udah jadiii... Sate gembus seharga Rp 500,00/tusuk dan sate kikil seharga Rp 1.000,00/tusuk. Murahnyaaa pecaaah kaaan? :3
  

Ituuu enaaaak lhooo! Dan adzan maghrib-pun berkumandang. Aku ijin ke Ian buat sholat maghrib dulu sebelum lanjut ke tempat selanjutnya. Sambil nungguin aku sholat, Ian nunggu di luar masjid dan menemukan sesuatu yang juga pecaaah!
Jadah bakar ini ngga kalah lho sama jadah bakar yang dijual di angkringan-angkringan, bahkan menurutku teksturnya lebih lembut dan rasanya lebih gurih. Dan yang istimewa, waktu sholat jama'ah maghrib dilaksanain, ternyata si bapak juga ikut sholat dan meninggalkan gerobak jadahnya yang kece. 

jadah bakar (Rp 1.000,00)

jadah bakar rasa coklat (harga sama)
Yaaak, uang baru keluar Rp 4.000,00 untuk sate kere (sate gembus 2, sate kikil 1) dan jadah bakar (rasa plain 1, rasa coklat 1). Yeeeaaaah... Seumur-umur sholat di Kalithan, kayaknya baru sekali ini ngerasain jadah bakar dan sate kerenya. 

bersambuuung :)

Surat untuk Si Cinta Buta

Hai cinta buta, apa kabar?
Sekitar satu pekan kemarin, selama tujuh puluh dua jam, tiap enam jam aku berkencan denganmu cinta buta-ku, si gram negatif, si amilolitik, si produsen PHB, si entah siapa namanya. Akhirnya, kita hampir sampai di terminal pemberhentian terakhir jalur yang selama ini kita lalui bersama. Dari kemarin, yang kita pikir itu adalah terminal ternyata hanya halte. Hanya mampir sebentar dan lalu berjalan lagi menuju terminal yang entah mana ujungnya. Semoga kita tidak salah lagi ya cinta buta! 

Oh ya, kamu tau, aku mulai hafal aromamu, yang ummm tidak enak. Aku mulai hafal warna yang kamu hasilkan setelah beberapa jam bermain-main dengan gojogan. Aku mulai hafal bagaimana membuatmu tidak didatangi si tamu tanpa undangan, para jamur nakal itu. Aku mulai menyukai bau centrifuge tempatmu harus berpisah dengan tempat bermainmu (diam-diam, aku suka mencium aroma centrifuge dalam-dalam ketika pertama kali dibuka). Aku bahkan menikmati masa-masa membuatkanmu makanan, yang harus sehat harus bergizi dan harus 'bersih'. 

Meskipun aku mulai mengenalmu lebih dalam, aku sangat-sangat tidak ingin berlama-lama denganmu. Sesegera mungkin, aku ingin meninggalkanmu dengan senyum mengembang. Menempatkanmu pada tempat paling nyaman buatmu agar tak banyak musuh yang datang dan suatu hari aku menengokmu kamu tetap baik-baik saja. 

Mari kita selesaikan wahai cinta buta! 


Salam sayang dari sudut kampus yang mulai diisi wajah-wajah tak kukenal,

Gembul.

Dari Mana Harus Memulai Cerita?

Rasa-rasannya sudah sangat banyak yang ingin aku ceritakan disini. Tentang aktivitas tiap enam jam selama tujuh puluh dua jam, tentang perjalanan dua hari satu malam bersama Ian ke Solo, tentang anak-anak Tsabita yang makin banyak cerita, tentang kejutan-kejutan indah dari Allah, tentang Nuri yang udah lamaaa banget ngga sekolah, tentang anak-anak kandang macan yang (ah no comment), tentang milad bapak, tentang pelajaran berharga dari kelahiran anak kedua Bu Nur, tentang sohib sekaligus saudara yang jarang banget ketemu dan akhirnya ketemu, tentang adek-adek mentoring yang gegara kenakalanku lama banget ngga kumpul, dan tentang-tentang yang lain.

So, dari mana aku harus memulai?

11.16.2013

Suroloyo, 10 November Kemaren.






 

 

 

Akhirnyaaaa, kesampean juga nii mengunjungi Suroloyoooo... 
Kata anak-anak, buat pemanasan sebelum ke merbabu.
Dan ternyata, cuma nyampe sini aja ngos-ngosannya udaah entahlah banget. Hahaha

Promise Me, Baby!


What a inspiring smile, inspiring laugh, inspiring word they have! :)
I'm so thankful having all of you in this time, baby...
But time always run, run, and run.
If you've arrive in some place you wanna go, just smile like this.
Just smile like this way--when you are a child and you only know about a simple world.
Okay baby?
Promise me that you'll always have simple smile, simple laugh, simple word like this.
And everything'll become so simple...

11.12.2013

LUNA

Oh ya mumpung lagi bisa onlen di kontrakan, pake kartu perdana seharga dua ribu rupiah, harus dipuas-puasin nulis di blog.

Ada satu anak di Tsabita yang membuatku sering ngerasa terharu sekaligus bangga ngeliatnya. Namanya Luna. Sabiluna Kamila. Tadi itu, ah ga tau kenapa selepas tidur siang, Luna keliatan lemes. Anak perempuan istimewa yang belum genap 6 tahun ini ga kayak biasanya yang super ceria. Masih mau senyum dan ketawa siih setelah mandi sore. Dan setelah aku bantu bersiap, dia tiba-tiba (tanpa berkata-kata) memelukku. Aih, paling ga suka liat Luna sedih.
Mungkin karena cuaca mendung, ga enak badan, pilek, dan mungkin-mungkin yang lain.
Aaaaah, tapi namanya anak-anak, sebentar saja, mood booster alamiahnya langsung bekerja. Dia pun ketawa lagi ngeliat temen-temen lain masih ceria. Tapi lagi, giliran nunggu jemputan dan diajakin belajar iqro', dia 'ogah-ogahan' banget. Tiba-tiba lagi, dia berhambur ke arahku, semacam meminta dipeluk.
Lunaaa, lekaslah sehat, lekaslah tersenyum, lekaslah tertawa, lekaslah ceriaaaaa...
Nanti kalo udah gedhe insyaAllah bakal jadi orang yang banyak menebar manfaat untuk ummat ya naaak... :)

Sebut Saja Perahu Kertas

Foto: "bikin kapang bu duyuu.."
Salah satu moment yang ditunggu waktu hujan di Tsabita adalah moment bikin kapal-kapalan kayak gini. Dan, pertama kalinya dikerjain bareng Latief! :)

Anak Sholih, Siap!

Yang harus kamu pahami bahwa mendidik itu bukan hanya membuat mereka tersenyum bahagia, tapi juga bagaimana mereka semakin mengenal Allah, Rasulullah, islam, benar salah, baik buruk, hingga dunia seisinya.

Aaaaak, harus belajar lagi, belajar terus, dan selaluuuu belajaaar...
Kamu pasti bisa selalu membuat mereka tersenyum bahagia sambil mengendapkan di hati-hati mereka betapa indahnya mencintai Allah dengan menjadi anak sholih, yang berbadan sehat, berjiwa kuat, berhati bersih, dan cerdas.

Kamu pasti bisa buk wawas, ibuk duyu, bu guwu, bu gulu, buk yayas, bu raraaas!!!