10.31.2013

The Most Dramatic Moment!

Tadi itu, the most dramatic moment i've ever seen semenjak di Tsabita ini. Jam 9.30-an, jam dimana anak-anak udah do'a pagi, udah toilet training, udah sholat, udah maem snack, dan jam segitu adalah jam istirahat. Maen di luar ruangan. Awalnya kondisi masih aman terkendali bahagia sejahtera. Tetiba ada anak yang nangis. Ternyata Haidar yang nangis...

Aku : Siapa hayo yang nangis. (*sambil berjalan dari ruangan*)
Aisy : Haidar Bu Guruuuu...
Aku : Kenapa mbaaa?
Aisy : Kejedog ayunan...
Aku : Ya udah sini naak, gapapa yaaa, mas haidar kan kuat. (*sambil ngeneng-ngeneng*).

*anak-anak lalu pergi meninggalkanku bersama haidar yang masih sesenggukan.

Tetiba... Ada suara tangis lagi tak jauh dari tempatku menenangkan bocah 2 tahun itu. Anak-anak udah sering kayak gitu, main lalalala kesana kemari, kenapa dikit tetiba ada yang nangis. Aku masih berpikir Oh paling ribut biasa. Sejurus kemudian...

Luna : Bu guruuuu, yogi berdarah... (*sambil berlari dan wajah super panik*)
Aku : Kenapa mbaaa?
Luna dan beberapa anak lain : Berdarah, jatoooh...

Dari dalam masjid, Yogi berjalan sambil menangis, baju berlumuran darah, dan bahkan darah masih mengucur dari mulutnya.

Panik banget dan rasanyaaaa pengen ikutan nangis.
Setelah semua usaha kita lakukan untuk menghentikan darah yang mengucur itu, alhamdulillah darahnya berhenti ngucur. Tapi, Yoginya masih nangisss... Wainiiiii, PR selanjutnya... Berkali-kali dia menyebut ibunya, minta ditelponin. Sengaja, kita tunggu sampe jam 11 (jam jemput), yang tinggal sejam lagi.
Akhirnya pelajaran jam itu diganti dengan dongeng dan nonton film. Waktu masih ngedengerin dongeng, si doi masih aja nangis. Eh, giliran nonton film, tetiba dia manggil, "Bu Guru, dek, dek alya tak tak takpangku.".

Aaaah, Yogi yang ceria sudah kembaliiii... XD

Segala Cara yang Indah

Aku sungguh menyesal karena aku tidak ingat bagaimana rasanya ditidurkan oleh ibuk saat masih belum bisa berjalan hingga belajar merangkak atau bahkan sudah bisa berjalan. Betapa indah diceritakan banyak hal, dielus-elus kepala, dipuk-puk punggung, dikipas-kipas, dinyanyikan lagu-lagu anak-anak jaman itu, hingga digendong sambil digoyang-goyang.
Ah benar, aku baru menyadarinya tadi, betapa setiap moment dalam menidurkan anak itu selalu menyenangkan. Pun juga melihat seorang anak mulai tertidur hingga ia tertidur pulas. Dan ketika di tengah pulas-pulasnya tidur, ia membuka mata, dan ibu dengan sigap menidurkan anaknya lagi dengan 'segala cara yang indah'. Aku menyesal, karena aku tak ingat itu semua. Jika aku mengingatnya, aku pasti ingin mengulanginya lagi. Merasakan semua cinta, semua belaian indah, semuaaaaanyaaaaa....

Aku sungguh menyesal karena aku tidak ingat bagaimana dulu aku tidak mau makan dan ibuk selalu mencoba 'segala cara yang indah' agar aku mau makan. Betapa indah makan sambil diceritakan banyak hal, diajak liat pesawat yang mau mendarat di gua mulut, diajak jalan jalan, atau diris-iriskan lauk pauk sampai jadi kecil-kecil hingga aku tak harus mengunyah lebih lama.
Dan benar, aku baru menyadarinya tadi, betapa setiap moment dalam menyuapi anak itu selalu menyenangkan. Aku sungguh menyesal karena aku tidak ingat ekspresi ibuk ketika pada akhirnya berhasil menyuapiku hingga selesai. Pasti hanya ada ekspresi bahagia di wajah cantiknya.

Aku sungguh menyesal karena aku tidak ingat bagaimana dulu aku diajari untuk tidak memukul, tidak merebut barang yang bukan milikku, tidak berkata kasar, tidak pelit, tidak membuang makanan, tidak suka menangis, dan tidak-tidak yang lain. Aku yakin, sangaaaaat banyak pelajaran yang diberikan ibuk kepadaku bahkan ketika aku belum bisa apa-apa.
Aku pun baru menyadarinya tadi, bahwa setiap menit yang dilalui anak itu adalah pelajaran berharga.


Lalu, bagaimana aku harus berterimakasih kepadamu wahai Ibu terbaik seluruh dunia?


10.30.2013

Pohon dan Sebuah Tempat Impian


Pengen deh rasanya, nemuin tempat semacam itu. Ada pohon rindang gedhe banget di tengah padang rumput yang hijaaauuuu bangeeeet. Anginnya semiliiir, sampe aku bisa ketiduran waktu sandaran di batang pohonnya. Terus, pas bangun, udah ada orang-orang tercinta tersenyum di depan mata... XD

'The Saran JK' still exist yeah? :p


Yang difoto itu adalah Mba Suci (kiri atas), Mba Ninda (tengah atas), Mba Asstri (kanan atas), Dek Ayu (kiri bawah), truss aku (kanan bawah). Duluuuu bangeeet, kita tergabung dalam sebuah geng bernama The Saran JK. Begini kronologinya, SARAN ituuu singkatan dari huruf awal nama-nama kita, nah JK itu karena kita ini anak-anak yang tinggal di sebuah perumahan di gang antara Blok J dan Blok K. Kereeen kaaan?
Yang pengen aku catat disini adalah, bahwa salah satu diantara kita akhirnya menikaaaaah. Menikaaaah meeeen... Artinya, udah ngga lajang, udah jadi istri seseorang, udah bakal jadi ibu-ibu yang ikut arisan PKK, dasawisma, dan semacamnya. Hahahaha. XD
Padahaaaal, saat foto itu diambil sekitar 13tahunan yang lalu, kita masih bocaah banget. Masih maen pasaran, adik-adikan, bongkar pasang, barbie, monopoli, bekelan, halma, dodol-dodolan, bal-balan, uding, lompat tali, jamuran, betengan, gobag sodor, dan segala rupa permainan masa lalu yang super duper menyenangkan.

Padahaaaaal, 13 tahunan yang lalu itu, setiap 17 agustusan, kita sering tampil jadi semacam girlband gituuuu di panggung (haha, kalo ini lebay, cuma gerak dan lagu aja kok). Lagunya mulai dari jaman Australia negeri woll katanya sampe pas udah gedhean jadi up town girl. Aduh, semacam gaul yah kita? Wakakakaka... Gaul opo, wong karo kucing we wedi? *eh itu sensor*

Padahaaaaal, 13 tahunan yang lalu, kita masih punya markas tempat kita masak-masak (mulai dari keong sawah sampe karak gosong), main adik-adikan (jaman dulu putri-putrian yang pake macam tenaga-tenaga dalam gitu lhoh), daaan nyalain long blumbung. Markas kita ituu padahal cuma sebuah rumah kosong yang udah agak lama ditinggal penghuninya.

Padahaaaaaal, 13 tahunan yang lalu, kita masih 'niat banget' bikin kegiatan keren berjudul Baca Buku Bersama tiap malem minggu. Waktu itu, bahkan kita rela-relanya nyari buku-buku bekas punya mbak-mbak, mulai dari komik doraemon sampe majalah bobo dan majalah apa gituuu namanya lupa... Truuus, kita bikin tiket masuk buat syarat masuk yang harus dibeli seharga Rp 300,00 dan bahkan bikin publikasi yang ditempel di tiang-tiang. Yaampuuuun, kita sosweet yaah? Hahaha



Sekaraaaang, finally, di tanggal 24 Oktober 2013 kemarin, Mba Asstri telah mengakhiri masa lajangnya. Do'a-do'a terbaik selalu dilantunkan untukmuuuu.... Semoga menjadi keluarga Sakinah Mawadah Warahmah yaa mbaaa.... *kecup kecup kecup* :)


*Well, tulisan ini ditulis untuk mencatat peristiwa penting dalam kehidupan kita. Dan, meskipun badan jarang ketemu, hati tetap terikat lewat keheningan do'a untuk orang-orang kesayangan. Oh ya, selain itu juga, biar nanti kalo kita semua udah punya 'keluarga baru' kita bisa menceritakan secara detail masa-masa menyenangkan yang kita punya itu.
**Oh, ya, ntar anak-anak kita dikomporin yaa buat bikin The Saran JK Junior. Hahahaha.... XD

10.27.2013

Untitled

Dia masih saja duduk termangu di balik jendela. Menunggui hujan yang tak kunjung datang. Lima menit, sepuluh menit, satu jam, dua jam, alih-alih hujan datang, mendung masih saja menggantung. Abu-abu. Angin terus berdesir lirih, seolah menceritakan kesedihan di luar sana. Dan dia, masih termangu di tempat yang sama. Sedang hujan masih tak kunjung datang dan bosannya tak kunjung pergi.

Mba Fe.

Tadi, waktu buka-buka kronologi facebook jaman-jaman tahun 2009, nemuin salah satu komennya mba Fe di statusku. Ya Allah, berikanlah tempat terbaik untuk mba Fe di sisi-Mu....
Ah, iya, aku memang baru sebentar mengenal sosok manis dan periang bernama Ferian Nur Hidayah itu. Meski sebentar, aku langsung tau betapa hatinya jerniiiih, senyumnya tuluuus, dan semangatnya wooow... Kalau aku inget sama mba Fe, aku selalu diem-diem baca blognya, terutama postingan yang satu ini: http://feriannh.blogspot.com/2010/04/copas-dari-blogq-di-friendster-dulu.html

Mba Fe, semoga kita bertemu di syurga Allah suatu nanti... Aamiin... :)

10.23.2013

random kesekian

Nanti kalo udah punya duit lebih mau ah ngeprint foto-foto hasil jepretan sendiri, terutama foto bocil-bocil. Teruuus dipajang deeh, lebih asiik kalo diikutin pameraaan. hahaha... XD

*ini ngarep namanya*

eh tapi sengarep-ngarepnya, boleh lhoo diusahakaaaan! XD

Namanya Lamiya

Foto: 'gelitik'able child! <3
Namanya Miya. Sederhana dalam semua hal. Termasuk ketika tersenyum, tertawa, bercerita, menyanyi, dan mimpi. Misalnya nii waktu kita lagi ngobrol.

Aku : Mba Miya, tadi dianter siapa?
Miya : Abi/umi/ammi.

Aku: Mba Miya, besok celengannya kalo udah penuh mau buat beli apa?
Miya : Buat beli apa aja.

(*waktu lagi mewarnai gambar gelas*)
Aku : Ayo mba diwarnai, di rumah ada gelas warna apa aja hayoo?
Miya : (*mikir bentar*) Warna apa aja.

(*waktu aku lagi makan snack*)
Aku : Mba Miya mau?
Miya : (*diem aja sambil ngeliatin doank*)
Aku : Mau engga mbaaa? (*nggoda)
Miya : (*senyum aja sambil ngangguk pelan*)
Aku : (*ngempet ngguyu*)


Aaaaak, Miyaaaaaaa :* :* :*

10.12.2013

10.08.2013

Mengapa Anak-anak Lebih Mudah Menghafal dari Kita? *

“Itu karena anak-anak tidak memiliki tendensi apa-apa selain hanya ingin menghafal. Berbeda dengan kita yang masih tercampuri dengan harapan-harapan fatamorgana yang melenakan sekalipun niat kita menginginkan pahala.”

Kata-kata itu laksana beker yang otomatis mengingatkan saya ketika mengejar target-target hafalan. Seorang ustadzah di tempat saya mengajar yang anaknya ketika itu beliau titipkan di salah satu pondok tahfidz di Jawa Timur memutarkan video berkunjungnya di pondok tempat anaknya menuntut ilmu. Rasa haru langsung menyeruak ketika kami melihat betapa si anak yang dulu adalah anak yang paling pemalu dan rewel, kini sudah menghafal surat Al Fath, tiga pekan setelah ia khatam tilawah Al Qur’an.

Sang ibu sengaja membawanya ke tempat itu untuk memupuk kecintaan anaknya pada Al Qur’an selepas dari Taman Kanak-kanak, tidak langsung ke Sekolah Dasar seperti pada umumnya. Sang ibu yakin dengan ketercintaan si anak pada Al Qur’an dan Islam sebagai dasar, otomatis akan memudahkan si anak untuk mendalami ilmu-ilmu yang lain.

“Mungkin kita ini banyak dosa ya ustadzah sehingga tidak bisa sepertinya….”, kata-kata itu mengingatkan kita pada kisah Imam Syafi'i yang mengadukan hafalannya pada gurunya, Syaikh Waqi.

"Aku mengadukan buruknya hafalanku pada Syaikh Waqi'" kata Imam Syafi'I, "maka beliau berpesan agar aku menjauhi kemaksiatan".

“Anak-anak itu masih bersih hatinya, Us" lanjut sang ustazah menasehati kami, "Mereka menghafal bukan untuk apa-apa, mereka hanya ingin menghafal itu saja. Sedangkan kita, banyak tendensi yang kita gantungkan ketika menghafal. Mulai dari harapan mendapat pujian sampai mengharap pahala. Untuk yang terakhir tidak salah memang jika menghafal karena ingin mengharap pahala, tetapi tetap saja ada hal yang membuat kita belum berada pada derajat keikhlasan tertinggi. Sedangkan anak-anak, mereka menghafal murni karena kecintaan mereka pada Al Qur’an.”

Menghujam dan membuat kami kala itu serasa tertampar. Memang benar dan sungguh benar hal itu. Semua kami lakukan karena tendensi bermacam-macam bukan murni karena kecintaan kami pada Al Qur’an atau Islam karena tilawah pun masih butuh memaksa diri untuk melampaui sehari sejuz apalagi dengan menghafal.

Asraghfirullah… [Gresia Divi]

*Sumber : http://www.bersamadakwah.com/2013/10/mengapa-anak-anak-lebih-mudah-menghafal.html

Do you feel better, huh? :')

Percayalah, semenyenangkannya hidupmu di pagi hingga siang hari, kadang kamu harus merasakan sesuatu yang... ah sudahlah... 
Aku saat ini hanya (harus) mempercayai satu hal, bahwa tak akan ada kesia-siaan dari sebuah kerja keras yang tulus. Tulus itu artinya tidak mudah mengeluh, seberat apapun pekerjaanmu di sore hingga malam hari. Bukankah Allah Maha Melihat, termasuk Maha Melihat apakah seorang hamba berhak mendapatkan senja yang indah setelah seharian berpeluh keringat? 


Meskipun tak dipungkiri, terkadang pengen *mbrebes mili* ngeliat temen-temen seangkatan udah pada kelar urusan-urusan kampusnya atau bahkan sudah beralih ke lahan yang lain. Hahaha... Tapi, tapi, tapi, segala sesuatu pasti akan ada hikmahnya bukaaaan? Entah akan kamu temukan sekarang atau suatu hari nanti. 

Berjuanglah! Bekerja-keraslah! Mulailah semuanya lebih pagi dan akhirilah lebih malam! Dan tetaplah menengadahkan tangan hingga 'senja indah di akhir hari yang melelahkan' itu tiba. 

Do you feel better, huh? :')

Celengan Penuh untuk Beli Apa?

Jadi, ceritanya, tadi pagi aku ngajakin anak-anak bikin celengan dari botol aqua bekas gitu deh. Truus, tugas mereka adalah menempel potongan-potongan kertas kado sebagai hiasan.
Iseng-iseng nih, pas nunggu iqomah sholat dzuhur, mereka aku tanyain...
Aku: Nanti kalo celengannya udah penuh mau buat beli apa mba? 

Luna : Nanti kalo celenganku (celengan yang besarnya setengah botol air mineral) udah penuh, aku mau beli sepeda, mobil, sama rumah. Oh iya, sama beli dompet. *senyum lebar*


Aku : Kalo mba Miya?

Miya : Buat beli apa aja. *senyum simpul*


Aaaah, sesederhana ituuu yaaaa :)

10.07.2013

Kincir Angin Warna-Warni

Foto

Warna-warni itu sudah terang menjelaskan semua perasaan bahagia disana :)

Pertanyaan Aisy

percakapan antara guru dan murid di suatu pagi..

murid: "bu guru, nanti embak belajarnya sama siapa?"
guru: "nanti ndak belajar mbaak, nanti bermaiiin" *muka ceria*
murid: "masa' bermain teruuss bu guruuu.." 

#KutipanAmalia

Mungkin banyak orang telah lupa bahwa ketika kita membangun suatu hal bersama-sama, yang kita bangun adalah tujuan kita bersama, bukan sekedar mimpi-mimpi kita seorang belaka..
ada konsekuensi, ada koridor yang mengarahkan gerak kita, ada kebersamaan, ada kebijaksanaan, ada kelapangan dada, ada pengorbanan..
Memang tak mudah, gagal pun menanti, tapi itu lah bukti bahwa keberhasilan itu telah dekat.

-Amalia Sholihati-

10.06.2013

Sekat

Kita memang hidup dalam sekat-sekat, pelabelan. Dan ketika label itu dicabut, kita bukan siapa-siapa lagi.
#kutipanfilm

10.05.2013

10.04.2013

Geng Balangan

 
Ah, kalian udah pada sibuk semua sekarang... Kapan ke Balangan? Kapan? Kapan? Kangen tauuuk sibuk-sibukan kayak jaman KKN yang gejee... :p

L O V E



Merekalah, banyak alasan akan kemana kaki ini akan melangkah.
Merekalah, banyak alasan dimana cita-cita diletakkan.
Merekalah, segala yang aku sebut rumah.
Merekalah, serupa embun pagi, tenang dan akan selalu datang.
Merekalah, serupa sore yang meneduhkan.
Merekalah, semua cinta itu bermula, selalu tumbuh, dan akan terus hidup.
Merekalah, yang selalu aku impikan agar suatu nanti bisa bersama di syurga-Nya yang indah.
Biar langit yang mendengar, bahwa aku begitu mencintai mereka sampai kapanpun.

Ini Geje!

 
Laboratorium ituuu serunya kalo pas bisa geje gini yaaa :') ahahaha
La

First Page of Research Book

Jadi ceritanya, aku udah di lab dan masih bingung mau ngapain. Semacam kebiasaan. Truss, iseng aja ngepost foto-foto yang belum sempet dipost di blog.
Ini salah satunya:

Ya ampuuuun, aku unyu yaah? eh, atau alay? hahaha...
Sampe sekarang buku itu uda buluk dan masih aku pakai. Janji dah, sebulan lagi buku itu akan benar-benar pensiun. InsyaAllah. :)

Mia dan Luna!

Foto: Kalo inget semangat mereka, langsung ngga punya alasan untuk ngga semangat! XD

Tuuuh kaaaan, mereka itu special to special to special to special to special!
Kayak pecah to pecah to pecah to pecah to pecah to pecah!
Kalo liat mereka, jadi ngga ada alasan buat ngga semangat!
Nyemangaaaaaaat!!!!