5.24.2013

Namanya LARASATI

Aku bilang, ini adalah keluarga baru, the new happy little family. Larasati namanya, sebuah sekolah Pendidikan Anak Usia Dini di daerah Ledok Tukangan. Big thanks deh buat Sute yang udah mengenalkanku dengan sebuah tempat penuh keceriaan itu. Aku sudah mendatangi tempat 5x5 meter itu sekitar dua pekan kemarin, maksudnya untuk mendaftarkan diri sebagai pengajar. Salah satu jalan untuk mewujudkan salah satu bagian dari wishlist-ku tahun 2013 ini:
Menjadi guru PAUD/TK Januari 2013.

Sebenernya aku tidak berharap banyak, karena memang sudah hampir dua pekan menyerahkan CV dan lamaran, tak juga ada balasan. Eh tapi, tetiba di suatu Senin, ada sms masuk.
"Aslm. Mbak Raras, besok rabu, praktek ngajar ya di PAUD. Temanya tentang alam semesta. Disiapkan RPP dan media pembelajarannya. Mksh."

Beneran ini? Artinya aku udah keterima belum ni? Atau baru praktek sekali doank?
Daaaan ternyataaaa, hari pertama aku praktek ngajar itu adalah hari pertama juga aku menjadi salah satu pengajar di LARASATI. Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah...
Rasanya itu kayak 'a dream comes true'. hahaha...

Oke, biar aku inget gimana rasanya jadi guru PAUD untuk pertama kali, aku harus menuliskannya.
Hari itu, Rabu 22 Mei 2013. Aku sudah mempersiapkan diri semaksimal mungkin, baju warna cerah, beberapa hasil googling bermacam-macam tepuk, metode pembelajaran PAUD, dan masih banyak lagi. Jam 08.08 aku pun sampai. Anak-anak mungil itu ternyata sudah berkumpul melingkari gurunya sambil menyanyikan lagu-lagu ceria, membaca do'a mau belajar, dan menyanyikan lagu 'kepala-pundak-lututkaki' sambil menggerak-gerakkan tubuh ke kiri dan ke kanan. Sekitar pukul 08.20. Aku diperkenalkan sebagai bu guru baru oleh Bu Yus, Kepala PAUDnya gitu deh...
"Ini guru baru ya anak-anak. Namanya Bu Raras..."
 What a dream comes true banget deeeeh... XD
Dan betapa sejak saat itu, setiap menit yang dilalui terasa sangaaaaat spesial. Aku lalu menyapa anak-anak kecil yang sebagian ada yang giginya ompong, ada yang sambil disuapin ibunya, ada yang tak henti tersenyum, bahkan ada yang cueknya ga ketulungan. This! Every child is special!
Aku mengajak tepuk-tepuk yang aneh-aneh, menyanyi lagu anak-anak, mendongeng 'semut dan kepompong', sampai membaca do'a mau makan. Akhirnya aku kehabisan ide. Padahal baru 30 menit berlalu. Wow, susah yaaa ternyataaa! Fix banget, susah!
Akhirnya aku bertanya ke Bu Yus, mau dikasih apa lagi. Ibunya malah balik nanya,
"Mbak raras udah nyiapin apa?"
Glek. "Rencana mau menggambar saja Bu," kataku saking bingungnya. Hahahaha
Dan, kita pun menggambar. Karena anak-anak pada belum ngerti tentang apa itu 'menggambar pemandangan', mereka hanya diminta menggambar buletan-buletan warna-warni gitu, semacam bentuknya obat nyamuk deh. Oke baiklah, tolong catat pelajaran pertama, anak PAUD itu jangan diajak ngegambar yang aneh-aneh! Oh ya, di Larasati ini mengajarkanku untuk tetap tersenyum serunyam apapun keadaan. #eh


Udah deh, sampai sini dulu. Besok-besok insyaAllah akan ada kelanjutan cerita-cerita Raras di Larasati. Hahaha. #nek iki mekso

5.20.2013

Besoook Wisuudaaaa(!)

Besok bakalan ada sahabat-sahabat dekat yang mau diwisudaaaaa...
Yang pertama, dua temen subunit di KKN. Mereka adalah (tarararaamm) Eka dan Bang Fahri. Eka ini adalah salah satu akhwat jebolan Kimia UGM '08, kurus gitu deh orangnyaaa, mungil kayak aku haha. Dia itu anak keilmuan banget deh pokoknya... Partner in crime banget waktu di pondokan KKN. Teruuus, Bang Fahri, dia ini orang paling lucuu deh di KKN. Dulu waktu KKN (pas dia belum ngaji nih) masih suka nangkat-ngangkat celana dan ngebikin aurotnya keliatan. Hahaha. Trus pasti kita langsung serentak teriak, "Bang Fahriiiiii....". Eh tapi dia sekarang udah ngaji lhoh, udah alim gitu... Semoga istiqomah deh ini si abang satuuu... :3

Teruuussss, mereka yang dulu pernah berjuang bersama (halah, lebay!). Intinya pernah satu amanah deeeh...
Pertama, Udin. Ikhwan paling luruss se-pertanian. Partner in crime juga. Amanah super menggunung. Dan, dia lulus duluan. Dahsyat! Kedua, Langga. Pernah satu kepengurusan di SKI trus sama-sama pernah jadi ketua HMJ. Dan, dia juga lulus duluan. Oke fine. Lanjut, kakak gue yang satu ini, Mbak Riri. Yak, salah satu yang membimbingku dalam beramanah (ceileeeh). Hahaha... Pokoknya mbak yang super rempong ini banyak berjasa deh buat hidupku selama jadi mahasiswa ini. Dan gak ketinggalan Pak Lukman. Beliau adalah partner in crime-nya Mba Riri banget. Haha... Yah, meskipun agak bawel, tapi beliau juga cukup berjasa membimbing bocil kayak aku ini.

Aaaah, semoga kalian semua sukses yah setelah lulus dengan jalannya masing-masing... Semoga selalu dibimbing Allah dalam semua hal, termasuk dalam hal jodoh. #eh.
Jangan lupa selipkan namaku di tiap do'a kalian, dan semoga kita berkumpul lagi di syurga-Nya...


Terkahir, semoga aku cepet nyusul yah! Aamiin. :3

5.15.2013

Twit Penting #1

@salimafillah:
"Jangan ibadahi Allah agar Dia memberi kurnia. Ibadahlah agar Dia ridha. Bila Dia ridha; tercenganglah kalian dengan anugrahNya. Asy Sya'rawi"

ini cuma opini kok :)


Yaaaak, rasanya gemes aja kalo udah nulis sepanjang ini tapi ga dipublish di blog. Sebenernya sih mau ditaroh di kompasiana, tapi ga ah.. ntar ajaaa... haha

Kalau Presiden RI seorang PKS?

Bismillahirrahmaanirrahiim..
Bagaimana jadinya kalau Presiden RI kita adalah seorang PKS? Salah satu partai yang sedang menjadi buah bibir masyarakat. Sebagai orang awam, saya melihat ada beberapa faktor mengapa PKS cepat sekali menjadi terkenal. Pertama, karena presiden partai ini baru saja tertangkap KPK karena dugaan kasus suap impor sapi—dan langsung jadi tersangka. Seluruh media seolah serentak memojokkan partai berlambang dua bulan sabit yang mengapit padi itu. Berita ini bahkan lebih ‘wow’ daripada berita dari korupsi partai-partai lain—yang pelakunya baru disebut sebagai tersangka setelah sekian lama. Padahal, terbukti saja tidak—eh, belum. Kedua, partai yang banyak digerakkan oleh anak-anak muda ini ternyata memiliki solidaritas kader yang terkenal keren. Bisa dilihat, setelah bertubi-tubi berita negatif tentang PKS, kader justru melakukan konsolidasi di daerahnya masing-masing. Ketiga, masih saja banyak isu-isu yang mendera partai yang saat ini dipimpin oleh Anis Mata ini, salah satunya tentang metode pengaderannya yang 'digosipin' masuk ke dunia kampus, sekolah, dan lain-lain. Banyak media massa—elektronik maupun cetak—serta kalangan pribadi yang membuat tulisan tentang PKS--kadang lebih banyak buruk-buruknya yang diangkat. Membuat terkenal memang. Namun, apakah PKS salah?
            Ya, apakah PKS salah jika menjadi terkenal secara cepat? Sebagai orang awam, saya mencoba untuk melihat meningkatnya popularitas PKS ini dari sisi saya—yang masih banyak belajar. Setau saya, PKS adalah salah satu partai yang menjadikan kader sebagai basis kekuatan utama. Maksudnya disini adalah, kerja-kerja PKS ini ada karena kemauan masing-masing kader dalam bekerja—mulai dari memberi ceramah disana-sini, membantu korban bencana alam, mengusahakan pendidikan yang baik dan total untuk setiap pribadi maupun komunitas, dan terlibat dalam berbagai lembaga kemasyarakatan (baik formal maupun informal). Artinya, sebenarnya tanpa adanya aneka rupa isu pun, PKS sudah banyak dikenal di grassroot.
            Masih setau saya lagi, kader-kader PKS dididik bukan untuk menjadi pengejar kekuasaan. Kader PKS hanya dididik untuk mengupayakan diri—dan komunitas—semaksimal mungkin untuk semakin dekat dan terus mendekat kepada Allah. Dan, ketika pun ada banyak kader-kader PKS yang berada di pemerintahan, itu murni merupakan upaya untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah dan mengajak masyarakat—melalui berbagai kebijakan—untuk mengerjakan sesuatu yang memang diridloi Allah. Bukankah begitu seharusnya? Jadi, salahkah PKS?
            Setau saya juga, kader-kader PKS pun dididik untuk menjadi pembelajar sejati—pembelajar yang tak pernah lelah untuk terus belajar. Sehingga, agenda menuntut ilmu pekanan adalah salah satu agenda wajib bagi setiap kader PKS, tak peduli presiden partainya sampai kader-kader unyunya. Jelas bukan? Apakah PKS salah?
            Jadi, kalau menurut saya—yang masih awam—PKS wajar saja tetiba menjadi seterkenal sekarang. Pun, meskipun PKS tidak naik daun seperti saat ini, kader-kader PKS dari yang keliatan langitan hingga yang keliatan biasa aja akan tetap bekerja sesuai ranahnya masing-masing. Kader yang di pemerintahan akan tetap berusaha memperjuangkan hak-hak masysarakat. Kader yang di LSM akan tetap menjaga jalannya roda LSM itu agar dapat membantu masyarakat dengan bidangnya masing-masing. Kader yang menjadi orang kece dan terkenal karena tulisan-tulisannya juga tetap berkarya lewat tulisan. Demikianlah, setiap orang adalah da’i sebelum menjadi apapun. Jadi, berperan sebagai apapun seorang kader PKS, mereka akan selalu berusaha untuk tetap menjaga perannya sebagai da’i—di komunitasnya masing-masing.
            Lalu, bagaimana jika ternyata presiden RI diamanahkan kepada seorang presiden PKS menurut seorang awam seperti saya? Yang jelas, setiap pekan beliau akan menyisakan 4-5 jam waktunya untuk menghadiri agenda wajib pekanan yang sering disebut liqo’ dan/atau menyisakan 4-5 jam waktunya untuk mengisi liqo’ bersama binaannya. Yang jelas, beliau akan selalu berusaha memenuhi panggilan Allah lima kali sehari—mungkin akan lebih sering datang ke masjid/mushola. Yang jelas, beliau akan mengambil setiap pertimbangan dalam kebijakan-kebijakan di negeri ini dengan sebelumnya berkonsultasi kepada Allah—di waktu-waktu setelah sholatnya atau kapanpun. Artinya, seorang presiden RI yang merupakan kader PKS akan berusaha melibatkan Allah dalam setiap keputusan yang beliau ambil.
            Bagaimana jika presiden RI benar-benar diamanahkan kepada kader PKS? Mungkin ni, pendidikan—dalam segala aspek—akan lebih diperhatikan sejak dini, karena kader PKS telah sangat terbiasa dengan sebuah sistem pendidikan yang baik dan rapi. Lalu, tentang kesejahteraan masyarakat, meliputi kesehatan—pribadi dan lingkungan, kecukupan sandang-pangan-papan, dan hubungan baik antar sesama masyarakat, juga akan menjadi fokus perhatian pemerintahan. Karena bagi seorang muslim, menjadi pemimpin itu artinya melayani. Melayani itu artinya membuat masyarakat merasa tercukupi kebutuhannya baik lahir maupun batin.
            Itu saja, semoga siapapun presidennya, kader PKS atau bukan kader PKS, mereka adalah orang-orang yang memang mengerti bagaimana memimpin sesuai yang diperintahkan Allah dan disunnahkan Rasulullah. Agar orang-orang yang dipimpinnya pun dapat semakin dekat dengan Allah dan Rasulullah. And finally, we’ll live happily ever after ‘till jannah. J

--sekian--

Bekerjalah

Bekerjalah dan terus bekerjalah. Sampai kamu merasakan nikmatnya lelah selelah-lelahnya. Sampai kamu merasakan nikmatnya makan saat perut sedang lapar selapar-laparnya. Sampai kamu merasakan nikmatnya bersyukur bahwa kamu telah berhasil melewati hari ini dengan senyuman.

#NotetoMySelf