10.22.2012

-

rasanya ingin menikmati hujan di balik jendela kaca :)

Anak-anak Vs Orang Dewasa

Mungkin ini adalah alasan mengapa aku sangat mencintai anak kecil.
Yang pertama dan jelas yang utama, mereka hanya berbicara tentang kejernihan perasaan, bukan yang lain. Berbeda dengan orang dewasa (mungkin tidak semuanya juga) yang entah dikemanakan itu kejernihan perasaannya.
Yang kedua, mereka tidak akan bersuara dengan suara bernada tinggi dan bersensi tinggi. Ah, mungkin karena perasaanku yang terlalu ringkih semenjak kecil, sehingga sedikit saja mendengar suara bernada tinggi, langsung 'mengkerut' atau 'keriput' atau apapun namanya. Yang jelas suara bernada tinggi itu bisa membuatmu sedih yang teramat dalam.
Yang ketiga, tatapan mereka adalah tatapan penuh kehangatan dan persahabatan. Itu tidak mudah kita temui pada orang dewasa. Mereka yang benar-benar mencintai dan peduli terhadap kita-lah yang akan mempunyai tatapan itu. Dan itu (mungkin) tidak banyak.
Yang keempat, mereka ketika bersilang pendapat hanya akan sebentar, tidak lama. Berbeda dengan orang dewasa yang kalau sedang bersilang pendapat mungkin bisa berlarut-larut, entah apapun hasilnya. Apakah mereka tidak sadar bahwa berdebat itu sebenarnya tidak akan melukai hati mereka saja, namun juga orang-orang di sekitar mereka yang mendengarkan.
Yang terakhir, mereka tidak berbicara dan menatap kata-kata dan tatapan yang meremehkan atau mencemooh. Orang dewasa?


Ini hanya semacam ungkapan tentang siang hingga sore ini yang perl segera diungkapkan. Agar aku mau belajar. :)

10.11.2012

"Ah, Aku Sangat Lamban!"

*mungkin ini fiksi mungkin juga tidak*
 
Ini pagi yang tenang, ah tidak, pagi memang selalu tenang. Gadis kecil itu -seperti biasa- menari lincah menyambut pagi yang sangat ia cintai. Yaa, dia sangat mencintai pagi. Dia mencintai aroma segar pagi dan ia sering menikmatinya dengan mendongakkan wajah ke atas sambil memejamkan mata. Dia mencintai hangat matahari yang sinarnya masuk melalui celah-celah dedaunan hijau yang renggang. Dia mencintai orang-orang yang berhiruk pikuk di pagi hari menuju aktivitasnya masing-masing. Dia hanya seorang gadis kecil yang mencintai sekitar.
Dan ini adalah hari pertamanya masuk kelas 5 Sekolah Dasar. 
Artinya, dia baru saja naik dari kelas 4. Betapa bahagianya, karena pada akhirnya dia hanya berjarak sedikit dengan kelas tertua. Ah, dia sangat bersemangat. Senyuman selalu tersungging di bibir manisnya dan rambut berponinya bergoyang-goyang beriringan dengan langkah kecilnya. 
Kelaspun dimulai...
Si gadis kecil masih sibuk memperbaiki posisi duduknya, mungkin karena sedikit grogi. Sambil matanya menyapu seluruh isi kelas mulai dari papan tulis lusuh hingga tas-tas gendong milik teman-temannya, ia tak henti tersenyum. Sampai teman-temannya merasa aneh akan sikapnya itu. Ah, namanya juga anak kecil. 
Meskipun dia selalu tersenyum kemanapun langkah kakinya mengayun, ia sebenarnya agak penakut. Terbukti dia menjadi anak terakhir yang bisa naik sepeda di antara teman-teman bermainnya. Bahkan dulu waktu masih duduk di bangku kelas 1-3 SD, dia masih saja takut kucing. Benar, dia memang (sedikit) penakut. Namun, entah kekuatan apa, selalu saja, teman-teman sekolahnya membuat dia lebih berani menghadapi banyak hal. Dia sering mendapat kepercayaan untuk menjadi pengurus kelas atau dia sering dimintai tolong teman-temannya saat ada PR, atau bahkan karena ia dekat dengan anak-anak gaul di kelasnya. Ia menjadi (sedikit) pemberani setelahnya. 
Bulan demi bulan berlalu, hingga akhirnya tahun ajaran akan berganti. Dia mau naik kelas. Betapa lebih bahagianya dia, karena sekarang dia menjadi kelas ter-senior. Ah tapi tidak juga. Rasanya ada yang hilang sekarang. Dia harus lebih banyak belajar daripada bermain, teman-temannya semakin suka membicarakan cowok-cowok daripada membicarakan permainan apa yang akan kita mainkan hari ini, atau bahkan perlombaan-perlombaan tari india yang asal-asalan juga udah ga pernah lagi. Ini bukan karena apapun, tapi hanya karena dia sudah kelas 6 -kelas tersenior-. 
Dan dia sekarang dipilih menjadi bendahara kelas, yang tugasnya adalah menariki uang kas, mengurusi pembayaran buku-buku pelajaran, dan mencatat setiap pemasukan ataupun pengeluaran kelas. Dia menjadi sangat sibuk sekarang, hingga dia semakin jarang bisa menikmati pagi yang dia cintai. Dia bahkan kadang lupa tersenyum selebar-lebarnya kepada teman-teman yang ditemuinya, padahal dulu waktu belum sesibuk di kelas senior, dia selalu heboh menyapa siapapn orang yang dia temui.
Beruntungnya, bahwa dia diketuai oleh anak yang sangat detail menanyakan setiap pekerjaannya. Si gadis jelaslah merasa terbantu, meskipun dia masih saja sering mengomel khas anak-anak. Bahkan ketika sedang malas, dia memilih diam dan tidak menanggapi apapun yang dibicarakan ketua kelasnya itu. Suatu ketika, dia pernah menggumam, "Tau ga sih, aku itu lagi males. Aku lagi jenuh!". Namun, dia tak pernah mengungkapkannya, hingga kekesalannya menguap dengan sendirinya. Sampai suatu hari, ada yang mengurusi pekerjaannya sebagai bendahara. Antara senang dan sedih, dia pun tak paham. Senang karena sebenarnya dia telah terbantu dan sedih karena dia merasa kurang kompeten mengerjakan tugas-tugas bendahara ini. Mungkin karena pekerjaan bendahara ini baru pertama kali ia kerjakan atau kemungkinan satu ini yang pernah ia gumamkan "Ah, aku sangat lamban-mungkin!". 
"Lalu, kenapa bendaharanya tidak diganti saja? Kenapa harus aku?" gumamnya lagi di dalam hati dan menguap (lagi) ditelan sore. Namun, dia tetaplah gadis kecil yang bisa bahagia karena apapun. Dia masih bisa tersenyum di kala pagi datang. Dia tetap gadis kecil yang ingin terus berlari-lari lincah menggapai mimpinya.
Dia pun akhirnya tahu, bahwa dia hanya harus mengerjakan apa yang bisa ia kerjakan dan tetap tersenyum lebar seperti senyuman anak-anak kecil seusianya.

Saatnya pulang sekolah dan matahari masih menyengat, pertanda kehidupan masih terus berjalan.