8.28.2012

Sesederhana Dedaunan yang Jatuh

Aku ingin mengutip yang satu ini lagi : "Daun yang jatuh tak pernah membenci angin".
Satu hal yang aku tangkap ketika mendengar kutipan dari Tereliye itu adalah tentang kesederhanaan. Kesederhanaan berfikir, kesederhanaan berucap, dan kesederhanaan bersikap. Bukankah hidup itu memang sederhana, kesedihan dan kebahagiaan datang pergi dan datang begitu saja. Sampai pada akhirnya ketika kita berdiri di hari esok, lalu kita melihat hari kemarin atau kemarinnya lagi atau kemarinnya lagi, kita hanya bisa berkata: "Ya, dulu aku pernah sedih, dulu aku pernah bahagia".
Bukan tentang apapun tulisan ini aku buat. Aku hanya ingin mengingatkan diriku sendiri bahwa apapun yang  sedang dan akanaku kerjakan, pastikan Allah yang menuntunnya. Bukan karena ego, bukan karena keinginan untuk apapun, bukan karena rasa bersalah terhadap siapapun, bukan... Bukan karena itu semua aku bekerja, tapi karena Allah.
Seperti dedaunan itu, yang ketika jatuh ya jatuh saja, ia tak akan membenci angin yang menjatuhkannya. Sederhana bukan menjadi dedaunan itu?
Dedaunan itu hanya tau bahwa Allah adalah Yang Maha Pengatur atas berdiri dan jatuhnya dia, atas semuanya.