6.18.2012

Muhasabah #1

Aku selalu ingin memulai tulisanku dengan menceritakan apa yang aku rasakan saat ini. Maka, sebagai awalan, aku ingin berujar tentang sore yang tenang ini, tentang dedaunan yang masih hijau dan masih memberi ruang untuk sinar matahari melewati celah-celahnya, dan tentang alam yang tak henti-hentinya mengajarkan kebijaksanaan. Inilah cerita alam... :)

Ummm, aku sebenarnya bingung mau menulis apa meskipun sebenarnya terlalu banyak yang ingin aku tulis akhir-akhir ini. Aku hanya ingin muhasabah tentang segala yang terjadi berhari-hari silam hingga sekarang. Entah apa penyebabnya, badan ini terasa lebih ringkih dari biasanya.
Berawal ketika sakit yang aku alami kurang lebih 1,5 atau 2 bulan yang lalu. Hanya semacam masuk angin biasa sih, yang seperti biasa pula tidak terlalu aku pikirkan (paling didiemin juga sembuh). Dan rasa-rasanya aku tidak minum obat apapun, ternyata sembuh juga. Alhamdulillah. Lalu siklus badan ini normal kembali. Hari-hari ceria kembali.
Lalu, 3 minggu yang lalu, ketika aku pulang ke rumah dengan tujuan utama untuk reunian sama Vina (sahabat lamaku yang super keren). Meskipun pada akhrnya bisa ketemu, pertemuan ini sempat tertunda karena aku mengalami demam (panas tinggi, agak pusing, dan lemes). Ah, ini juga, aku sangat jarang mengalami demam. Akhirnya aku bahkan batal untuk pulang ke Jogja pada hari yang sudah aku rencanakan, padahal rapat asasi dan liqo menanti. Yasudah, bapak ibu tidak memberi izin dan badan kayaknya juga belum kuat. :(
Dan sekarang, flu cukup parah menderaku sejak kurang lebih 4 hari yang lalu. Jika aku ingat-ingat, rasanya semua bermula ketika aku sedikit merasakan sesak yang entah apa penyebabnya (hanya semacam pegal di bagian punggung dan dada). Dan ternyata, tak begitu lama aku pun dilanda batuk. Dan aku sedikit bisa menyimpulkan bahwa bahwa gejala mau batuk adalah sesak. Batuk lama-lama jadi pilek dan lama-lama jadi flu dengan suhu tubuh yang agak meningkat. Dan ini diperparah dengan rihlah tiga hari berturut-turut. Baiklah, sekarang pusing, pilek, plus kaki agak pegal-pegal karena naik gunung.

Entahlah, apa penyebabnya. Aku di kalangan teman-teman dan keluargaku adalah yang paling oke daya tahan tubuhnya, terbukti dengan aku jarang sakit dan tidak pernah mengalami sakit berat. Alhamdulillah (lagi). Mungkin aku kurang mensyukuri nikmat sehat yang aku dapatkan dengan gratis selama ini. Bukan mungkin lagi, itu pasti. kamu kurang bersyukur, Raras!
Berusahalah bersyukur, sebelum terlambat.

6.15.2012

Tentang Hari yang Akan Selalu Dirindu :)

Ahh, ini sungguh terlalu indah untuk diceritakan. Tentang sebuah keluarga kecil yang dipertemukan oleh-Nya dalam sebuah nafas islam, nafas ukhuwah, dan nafas cinta. Hari ini adalah pertemuan kita yang kesekian kalinya. Dan seperti pertemuan-pertemuan kita sebelumnya yang selalu meneduhkan dan meringankan apapun, pertemuan kali ini juga sama. Bedanya adalah setting tempat kali ini yang #sosomething. Di sebuah tempat yang cukup jauh, kita pun memulainya dengan senyuman. Senyuman-senyuman lepas tanpa beban yang akan selalu aku rindu. Haha...
Catatan penting untuk pertemuan kita kali ini adalah : "Lupakan amanah untuk 3-4 jam ke depan". Yuup, cukup sukses!
Kita pun mulai menuliskan pendapat kita tentang yang lain dan menceritakan diri kita masing-masing atau bahasanya "deep introduction". Sebenarnya ini adalah agenda biasa yang sering kita lakukan di lembaga ataupun komunitas kita masing-masing. Ini spesial, karena kita sejatinya adalah satu keluarga. Keluarga ini spesial karena karena dakwah dan islam lah kita dipersatukan. Dalam dekapan ukhuwah. Ah, yaa, selalu indah ketika membicarakan ukhuwah.
Dan untuk bingkisan-bingkisan itu, hanyalah tentang bukti cinta di antara kita dan tentang bagaimana kita dapat menjaga bingkisan itu layaknya amanah untuk menjaga ukhuwah ini. :)
Terimakasih untuk hari ini. Terimakasih untuk senyuman-senyuman terhangat ini. Terimakasih untuk 'sesuatu' yang aku sebut dapat meringankan beban, entah apa itu namanya.

Bersama kalian adalah sebuah nikmat tersendiri yang Allah berikan untuk aku yang masih harus banyak belajar. :)

6.04.2012

Cerita Waktu Kesekian Kalinya

Aku hanya ingin menulis. Menceritakan apa yang terjadi di sekelilingku. Menceritakan hiruk pikuk anak manusia yang masih saja sibuk mengejar apa yang mereka cita-citakan dalam hidup. Seperti halnya langit yang selalu punya cerita, waktu pun demikian. Waktu adalah pencerita takdir, entah itu takdir yang membahagiakan maupun menyedihkan bagimu. Maka, jadilah hidup kita sebenarnya adalah cerita waktu.

Cerita waktu adalah cerita yang selalu kita nantikan akhir ceritanya. Cepat atau lambat, cerita waktu ini akan berakhir. Happy ending or sad ending. 
Waktu tak pernah mau peduli tentang itu semua. Semua urusan tentang cerita waktu pada akhirnya menjadi urusanmu. Mau kau nikmati dengan cara apa atau kau tinggalkan begitu saja. 

Dan sekarang tentang sekelilingku. Mahasiswa-mahasiswa tingkat bawah masih saja asyik dengan laporan-laporan mereka yang seabrek. Banyaaaak. Dan semua meminta dikerjakan. Minta data sana-sini, bahkan lewat jejaring sosial, pinjem catetan dan soal sana-sini (maklum mau ujian), responsi sana-sini, dan masih saja kuliah praktikum sana-sini. Hiruk pikuk mahasiswa tingkat bawah yang akan selalu dirindukan oleh mahasiswa tingkat atas seperti aku, yang notabene udah semester 8 dan akan masuk semester 9. Haaah, iyaaa, udah mau masuk semester 9. Ini cerita waktu tentang aku. Si bocah tengil yang sok sibuk, yang sering tiba-tiba jadi pelupa (sering ini maaaah), dan yang sok ramah disana-sini (ini beneraaaan lhooh, haha).

Sekarang si bocah alhamdulillah udah mulai masuk lab dan akan segera memulai perjuangannya. Oke, bismillah... Nikmatilah cerita waktu dengan membuatnya bahagia selalu dan selamanya. :)


Cerita Langit


Langit selalu punya cerita, entah itu cerita sedih maupun cerita bahagia. Termasuk sekitar tiga hari lalu, hari terakhir bulan Mei. Langit seolah menceritakan apa yang dinamakan sendu. Bahkan aku dapat merasakan kesenduan itu dengan sangat. Ah, aku tidak terlalu suka dengan rona langit yang seperti itu, seolah akan memberitahu berita kurang enak. Dalam hati aku ingin bertanya, Langit, apa yang ingin kamu ceritakan kepadaku? Kenapa Engkau begitu sendu? Namun, sekarang sudah agak berbeda. Terkadang justru cerita kehangatan lah yang dibawa oleh kesenduan langit itu. Mendung tak selalu menjadi kelabu bukan?
Ah ya, aku jadi teringat pada adek angkatan sekaligus mutarobbi sekaligus sahabat itu, baru kemarin dia menceritakan tentang kisahnya akhir-akhir ini. Aku tahu, kesedihan dan beban berat cukup menggelayutinya. Seperti langit sore ini. Namun, langit tak selamanya kelabu. Ia hanya butuh waktu barang 10 menit utuk menumpahkan semuanya, lalu langit kembali biru membiru. Demikianlah keseimbangan sempurna yang menentramkan.
Jangan bersedih adek, karena langit tak selamanya kelabu. J