4.29.2012

Butuh Kerjaan Banget

ngeblog, ngeblog, ngeblog~

baiklah, aku hanya butuh menulis saat ini.
sjujurnya ini di kepala lagi
ruwet banget sama yang namanya KEUANGAN. gimana ga ribet coba, ini udah mau masuk bulan Mei 2012, bertepatan aku harus memulai penelitianku yang (sepertinya) membutuhkan cukup dana (yaah tapi semoga dapat proyek dah si bapak), trus KKN (total yang harus dibayar 1 juta lebih 50 ribu), trus satu lagi kontrakan baru yang harus dibayar juga (kalau ini cukup 2 juta lebih 400 ribu), dan mungkin pernik-pernik kecil yang ga kerasa.
aku hanya berharap pada beasiswa PPA niih, ya Allah, semoga ya Allah...
trus yaaa, kan mau-maluuuu gimanaaa gitu kalo mau minta bapak-ibu. mana bapak ibu pasti lagi ruwet juga ngurusin renovasi rumah ditambah mbah kakaung sedang sakit (butuh biaya lah yaa pastinyaa) -- Ya Allah, berilah kesembuhan yang terbaik untuk beliau, aamiin. nah, gimana coba mau mintaa kalo kayak gituuu...
kerjaan? kalo aku rajin, sebulan cuma dapet 185 ribu. sebenernya sih, kalo aku minta pun pasti diusahain, tapiiiiii~

-,-

butuh kerjaan ini butuuuuh...


4.26.2012

Cerita Opak (2)

Beratap Karung Bekas (bagor), Beralaskan Pasir.

Umm... Ini adalah salah satu fenomena di tepian sungai Opak. Ups, mungkin bukan tepi-tepi juga sih. Posisi tidur bapak satu ini cukup berada di tengah badan sungai yang sudah terjadi pendangkalan. Panas terik yang menyengat selama melakukan pekerjaan rutin, yaitu mengais pasir, agaknya cukup membuat si bapak kelelahan. hingga akhirnya, ia memilih beristirahat dengan alas dan atap apa adanya. Yang penting tidak kepanasan lagi. Yaaah, meskipun aku tahu sebenarnya panas terik matahari tetap menyapa kulit dan persendian. Ah ya, tapi si bapak tak peduli. Pun ketika air sungai di sebelahnya bisa saja tiba-tiba tumpah ke sekelilingnya. Ini semua karena nafkah. Ini semua karena tanggung jawab. Ini semua karena cinta. :')

*Hmmm, nampol banget daaah. Semoga aku, kamu, dan kita pun demikian. Melakukan semua amanah ini karena sebuah pertanggungjawaban kepada Rabb-ku, karena cinta, dan karena jalan terang di depan sana. Aamiin. 

4.25.2012

Cerita Opak (1)

Hei manusia, tolong kembalikan tempat tinggalku!

Foto ini diambil di tepi sungai Opak. Ah, ya, ini perjalanan yang menyenangkan, baru masuk beberapa jengkal bau khas hutan tropis dan gemericik air sungai telah menyambut dengan hangat. Memang sungai Opak ini tidak tergolong sungai yang benar-benar jernih seperti sungai-sungai di pegunungan yang jelas saja tidak terkotori oleh tangan-tangan manusia. Di Opak ini, pendangkalan akibat sedimentasi dapat kita temui di hampir seluruh badan sungai. Alhasil, di tepi sungainya akan kita temui banyak tanaman-tanaman palawija yang ditanam serabutan (asal tempat muat).
Menyedihkan lagi, banyak sekali sampah-sampah yang dibuang di Opak ini. Gambar si atas salah satunya. Ah semoga ini menjadi sedikit pelajaran untuk kita, manusia yang selalu merasa dunia ini miliknya sendiri.

13 Jam : Yogyakarta-Madiun (2)

Ah, ya, aku harus melanjutkan tulisan ini, apalagi kalau bukan merasa bersalah sama diri sendiri kalau tulisan sebelumnya udah dibilang bersambung tapi tidak ada sambungannya.

Yuuppp.
Setelah memutuskan untuk menuju warung yang menjual semacam 'minuman terlarang' itu, aku kemudian memesan teh hangat sebagai bumbu 'basa-basi'-ku sama si ibu empunya warung. Aku pun menanyakan banyak hal tentang Klangon. Baiklah, si ibu juga tidak terlalu paham tentang desa terpencil itu. Setahu ibunya untuk bisa kesana cuma bisa naek OJEK!
Yaah, kalau udah deg-degan gini, cara paling ampuh adalah dengan tilawah. Dan alhasil memang menjadi adeeeemmm... Teruuus, ini kapan adzan subuhnya??? Kok masih damai tentram sepi nyenyet gini yaa???
Eh, itu lihat, ada segerombolan ibu-ibu (sebenarnya cuma dua) berjalan ke arah mushola. Lengkap dengan mukenanya. Pasti mau sholat lah yaaa... Hap, hap, aku harus kesana juga ini sepertinya...
Akhirnya aku berjalan sendiri (lagi) ke arah mushola di deket stasiun. Jalanan masih tetap saja sepi.
Eh, alhamdulillah, mushola sudah ramai dan aku merasa mendapat semacam 'kebahagiaan' (haha, ini super lebay!).
Baiklah, saatnya bersih-bersih dan sholat berjama'ah...

Kurang lebih 30an menit, sholat berjama'ah disambung wiridan ini selesai. Aduhai, Allah begitu baik mengirimkanku ke tempat ini... Berbincang-bincang lagi tentang Klangon dan kemudian para jama'ah pulang ke kediaman masing-masing.
Di mushola ini hanya tinggal AKU dan Ustadzah Siti Fatimah.
Aku ingin menceritakan sedikit tentang ustadzah satu ini. Namanya memang Siti Fatimah, eyang yang berusia sudah sekitar 80an tahun (mungkin lebih) ini super keren. Menggunakan penutup kepala seperti ibunya Malin Kundang, jarik, dan baju tua yang sudah agak lusuh. Jangan dikira beliau hanya duduk-duduk saja di mushola ini. Beliau wiridan dan mengaji menggunakan microphone. Cita-citanya agaknya sederhana saja, agar generasi muda pun mau mengikuti jejaknya >> mengaji! Di sela-sela rutinitasnya ini, beliau masih saja sempat mengajakku ngobrol banyak hal, yah mungkin melihat aku yang kasian karena sebatang kara. Hahaha. Nah, satu hal, ternyata anaknya adalah seorang dosen di Jember apa Brebes sana. Oh, yes, jelas aja anaknya sukses gitu, emaknya aja super keren gini~
Selesai mengaji eyang Siti mengajakku ke kediamannya (sebenarnya beliau hanya diajak tinggal disana) karena menyaksikanku mencari-cari colokan untuk men-charge baterai HP. Aaah, subhanallah, baiknya eyang satu ini... Aku pun sambil 'malu-malu kucing' meng-iya-kan ajakan beliau dan mengikuti beliau ke rumahnya. Yang menarik adalah meskipun baru kenal, kita tidak ada rasa saling curiga sama sekali.

Sampailah di rumah beliau, yang ternyata hanya dihuni beliau dan seorang ibu paruh baya bernama ibu Sri. Ibu Sri ini tidak ada hubungan darah sama sekali dengan ustadzah. Beliau adalah mantan Kepala Sekolah SD yang sudah ditinggal meninggal suaminya. Ah, hanya kehangatan yang mereka berikan... Aku sampai speechless. Kita pun bertukar nomer HP. Hehehe :')

Dan, hari mulai teraaaaang.... Alhamdulillah... Aku pun pamit untuk melanjutkan 'penjelajahan'. Eh, ternyata eyang Siti sudah menungguku di depan, mau mengantar ceritanya. Aduhai, ini eyang baik sekali ya Allah...
Sepanjang perjalanan pun aku diberi nasihat banyaaaaak sekaliii... Diajari do'a untuk menangkal kejahatan salah satunya... Dan seterusnya sampai beberapa menit kemudian si angkot tidak juga datang. Lalu, aku pun dipindahtangankan (kayak apa aja) ke orang baik selanjutnya. Namanya ibu Sumarsih, seorang guru STM sekaligus empnunya toko di pinggir jalan Madiun-SBY ini. Aku pun dianter mencari tanaman 'porang' di sekitar desa itu. Dan alhasil dapaaaat!
Salah satu hal yang aku ingat, beliau sambil mengendarai motor berkata demikian,
"Kula niki saget ngewangi mbak, mengke kersane anak kula menawi butuh bantuan nggih wonten ingkang ngewangi..."

Ah yaaa, aku teringat ayah ibuku seketika. Prinsip yang senantiasa mereka pegang sama.
Barang siapa menanam kebaikan, maka ia akan menuai kebaikan pula...

4.09.2012

13 Jam: Yogyakarta - Madiun (1)

Perjalanan dimulai dengan Si Red Qaswa bersama Adinda Faradilla pukul 22.00 dan sampai di terminal Giwangan pukul 23.00 kurang dikit. Bus Eka yang gagah sudah menanti dengan sangat manis. Naiklah bocah-bocah dua ini ke bus. Si Red Qaswa terpaksa harus menginap di terminal barang semalam. Meskipun berangkat bersama, tujuan kita berbeda. Adinda Faradilla, yang biasa dipanggil dindud melakukan perjalanan malam ini demi bertemu kampung halaman dan mengahadiri pertunangan salah satu sahabatnya di Malang.
Dan aktor utama dalam kisah ini, yaitu AKU, menuju daerah kecil di Kabupaten Madiun bernama Saradan. Lebih spesifiknya lagi Pandan Asri, Desa Klangon, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun. Tujuannya adalah pengambilan sampel tanah yang terkena limbah pati porang, yah untuk apalagi kalau bukan penelitian.
Aku belum tahu nih dimana dan seperti apa bentuk daerah itu, Pandan Asri, Desa Klangon, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun hanyalah hasil dari sebuah pencarian di dunia maya. Baiklah, anggap saja ini tantangan. -____-"
Perjalanan darat dimulai (emank ada perjalanan laut atau udara gitu ke Madiun?). Pukul 23.00.

Jam demi jam berlalu...

Yak, tibalah saat yang tidak mengenakkan dimana pak kondektur harus membangunkanku yang sedang menikmati perjalanan indah ini. Baiklah, saya harus turun. Dan SENDIRI. Sampai jumpa, ndud.

Sedikit pingin bercerita tentang kesendirianku ini, awalnya sih ada teman yang mau menemani, dia adalah orang Madiun, tapiii, ternyataaaa jauh banget rumahnya sama tempat pengambilan sampelku ini.
Oh, yes, dan dianya harus balik ke Jogja pagi-pagi, soalnya ada urusan penting di Jogja. Aku pun memutuskan untuk tidak merepotkannya dan melakukan penjelajahan ini (kayak apa aja deeh -__-) sendiri.

Balik lagi. Setelah berjam-jam... Akhirnya aku pun harus turun. Saat itu pukul 03.30-an.
Aku diturunkan di pasar Saradan. bayanganku tadi sih, pasar udah mulai ramai sejak jam 3an. Dan aku sampai sana paling ga yaa subuh lah yaaa...
Ternyata, eh ternyata, masih pukul 03.30 dan pasarnya belum buka!
Oh, yess, aku harus kemana ini???

Yup, awalnya hanya melihat sekeliling dan memilih duduk di sebuah bangku di depan pasar. Garing. belum ada 3 menit, aku udah ga tahan. Ada warung di deket pasar itu, buka siih, tapiii yang jualan malah tidur nyenyak berselimut sarung kumel. Ah, ya, mana mungkin aku membangunkannya. Bisa-bisa aku kena semprot lagi. haha.

Lalu mata ini mencari-cari lagi. Ada satu warung. Alhamdulillah. Dan buka dan ada penjualnya. Tapiii. kok ada apa itu semacam menjual minuaman-minuman terlarang. Agak ngeri juga kan jadinyaaa...
Ah, tapi sepertinya aku harus kesana deeeeh sambil menunggu subuh.

*bersambung