3.20.2012

Pohon, Lilin, Embun, dan Hujan

Layaknya pohon, seorang penyampai kebaikan seharusnya memberikan keteduhan. Keteduhan yang kemudian bersanding dengan hikmah. Maka aku menyebutnya hikmah dan teduh. Memang demikianlah penyampai kebaikan, apa yang ia sampaikan adalah laksana teduh di siang menyengat. Apa yang ia sampaikan adalah hikmah-hikmah layaknya angin lembut yang datang bersama keteduhan.

Ya, dialah hikmah dan teduh itu.

Layaknya cahaya redup lilin-lilin kecil di kegelapan, seorang penyampai kebaikan senantiasa membawa terang bagi sekitarnya. Dengan cahayanya yang 'redup' sebenarnya justru memberi kehangatan yang khas. Iya, memang tidak seterang lampu-lampu perkatoran, namun kesederhanaan inilah yang kemudian menghadirkan terang tersendiri yang (lagi-lagi) khas.

Ya, dialah hangat dan cahaya sederhana itu.

Layaknya embun yang setia menemani pagi, penyampai kebaikan adalah penyabar kelas kakap. Seperti embun yang hadir karena kesabarannya menanti waktu pagi. Ah ya, dialah yang mejelma menjadi kesejukan kian menentramkan. Pun ketika matahari pagi mulai meyumbul dan membawa butiran embun pergi bersamanya, ia tetap sabar dan menanti kedatangan pagi berikutnya.

Ya, dialah embun dan kesabaran itu.

Layaknya hujan di senja hari, penyampai kebaikan seharusnya menjadi yang paling tangguh dalam hal berpasrah kepada Rabb Semesta Alam, Allah Swt. Pun demikian dengan hujan, yang pasrah saja apabila waktu untuknya datang, ketika kolong-kolong langit sudah tak cukup menampungnya. Namun, itu semua kepasrahan yang membuahkan manfaat. Karena setiap apapun yang terjadi selalu bersama maksud baik di dalamnya.

Ya, dialah hujan dan kepasrahan itu.


Ya, demikianlah penyampai kebaikan itu seharusnya, ketika keteduhan dan kehangatan yang coba ia berikan belum cukup untuk menyentuh hati orang-orang di sekitarnya, hanya sabar dan pasrah yang menjadi penguatnya. Dan ia akan terus kuat, karena Allah bersamanya.



*Untuk kalian yang berwajah-wajah terang, para penyampai kebaikan.
  Tenang, Tersenyum, dan Bersemangatlah!


3.05.2012

Anas dan Awan Aneka Rupa


3 Maret 2012
Namanya Anas. Masih bersekolah di Taman Kanak-Kanak, yang dia bisa menyebutkannya Bustanul Alfath. Ini bukan cerita tentang anak TK berprestasi luar biasa atau cerita anak yang ditinggalnah kedua orang tuanya karena broken home atau cerita tentang anak paling ganteng sejagad hiburan tanah air. Ini hanya cerita sederhana tentang anak kecil penggemar awan.
Oiya, cerita ini berlangsung di kereta Prambanan Express, ketika aku akan pulang ke kampung halaman untuk minta uang saku. Aaaa, maluuuu!
“Mbak, lihat nbaa, itu ada yang bentuknya kayak naga...” tiba-tiba Anas yang duduk di sebelahku memanggilku.
“Wah, iyaa yaa? Yang mana itu deeek?” berusaha seceria mungkin. Namanya juga ngobrol sama anak kecil kan yaaa.
“Yang itu tuuu...” sambil nunjuk awan yang katanya kayak naga.
Aku pun menikmati lagi perjalananku dengan tenang dan damai sambil melihat sekelilingku. Ah yaa, ini gerbong wanita yang sangat-sangat nyaman.
“Mbak, itu mba, ada yang kayak pesawat,” kata sang adek sambil nunjuk segerombolan awan yang katanya kayak pesawat.
“Yang mana deeek?” aku beneran ga paham kali ini.
“Itu mbaak, yang ada kayak ginian bentuknya,” sambil tetap bersemangat Anas lalu memperagakan gaya pesawat terbang versinya.
“Oh iyaaa...” meskipun aku sebenarnya (masih) belum paham.
“Eh, dek, di sekolah diajarin nyanyi apa? Bintang kecil? Pelangi-pelangi? Atau apaaa?” mencoba mengganti topik pembicaraan adalah cara biar ga bosen.
“Mmmm...” Anas  hanya menggelengkan kepala dan terdiam.
Waaah, salah topik ini,  batinku.
“Itu deek, bentuknya kayak tikus. Tu lho, tu lho, ada buntutnya.” Kataku dan kali ini beneran kayak tikus kok.
“Yang mana siih?” sahut adeknya dengan wajah penasaran.
“Mbak, itu mbak, ada yang bentuknya kayak buaya yang punya kaki,” katanya sambil meringis dan memanggilku yang duduk di sampingnya (lagi).
“Oh, iya, mana buaya tanpa kakinya? Waah, keren yaaa...” aku pun mennanggapinya dengan tak mau kalah semangat. Emank ada gitu buaya tanpa kaki, batinku.
“Lalu hening.
Dan tiba-tiba, “Mbaaak, itu bentuknya kayak ikan tuuh.” ternyata si adek masih asyik dengan awan-awannya.
“Waaah, iyaaaa... Yang itu kayak tikus.” aku udah mulai kehabisan ide ini.
Hening lagi. Si adek ditanyain apa-apa udah ga nyangkut.
Dan beberapa menit kemudian, mimpi indah sudah mengiringi lelapnya. 

#EveryChildIsSpecial