10.31.2011

Jangan Menunda Kebaikan!

Wahai, hari ini benar-benar kelabu, mendung menghimpit kotaku. Kelabu yang sendu. Lihatlah, sendu seperti wajah seorang ibu paruh baya itu, yang mungkin secara fisik tidak tampak terlalu lemah, tapi entah bagaimana kondisi kehidupannya. Mungkin keluarganya yang sangat kekurangan, mungkin dia punya penyakit dalam, mungkin dia harus membayar hutang keluarganya yang menggunung, mungkin dia baru saja kecopetan saat ingin menjenguk anaknya, mungkin juga 5 anaknya harus masuk sekolah, mungkin dia ditinggal pergi suaminya dan seluruh hartanya dibawa, dan mungkin-mungkin yang lain.
Sayang, seribu kali sayang, kemungkinan yang banyak itu tidak ada dalam pikiranku di sore mendung itu. Aku pergi begitu saja ketika sang ibu berada di depan gedung tempat aku baru saja mengikuti acara tentang Palestine. Aku pergi begitu saja, hanya menyisakan tatapan iba (mungkin) dan niat untuk memberikan snack yang masih utuh di dalam tasku (hanya NIAT), tapi niat itu segera menguap bersama mendung--bersama keangkuhan.
Aaaah, dan aku tidak merasa bersalah atau merasa meninggalkan sebuah kesempatan emas berbuat kebaikan. Aku tidak menyesal! Aku pulang dengan senyum tetap tersungging manis.
Tak berapa lama, sampailah aku di kontrakan mungil yang aku tinggali bersama 4 orang sahabatku. Mungkin disinilah aku (sedikit) menyadari bahwa aku harus berbagi dalam keadaan apapun, hanya sedikit. Dan akhirnya aku membagi jatah snack-ku itu untuk salah satu orang rumah. Tapi masih tersisa sebuah 'arem-arem'. Karena masih belum merasa lapar, aku pun belum memakannya.
Singkat cerita, di pagi hari aku menemukan si 'arem-arem' tak berdosa itu sudah berlendir. Aaaaaa, di saat itu juga aku baru menyesal sedalam-dalamnya, mengapa aku tak membagi saja dengan ibu pengemis sore itu? Mengapa aku harus menunda sebuah kebaikan, padahal kebaikan itulah yang mendatangiku?


#hikmahnampol.

10.19.2011

Tentang Hujan


Hujan itu meneduhkan, karena matahari sedang beristirahat menemani langkah kaki anak manusia.
Hujan itu pembawa berita kerinduan, karena terlalu banyak waktu yang kita habiskan bersama orang-orang tercinta saat hujan.
Hujan itu kawan setia sang mendung dan sang bayu, karena mereka berjalan beriringan demi menjatuhkan bulir-bulir banyu. Menyegarkan.
Hujan itu perihal rasa syukur, karena sadar tak sadar, hujan membuat kita ingat akan langit, langit di atas langit, langit di atas langit lagi, dan lagi, dan lagi, hingga berhenti pada Sang Pemilik Langit.
Itulah hujan, hujan yang bijaksana. Menyapa manusia di saat yang tepat (tentunya), meski tak semua orang mengerti akan kebijaksanaan itu.
Hujan itu perihal cinta dan kasih. Ah, ini agak sulit. Namun terkadang, hujan itu meluluhkan dendam, menghapus kebencian, menyembuhkan luka hati, dan menghadirkan cinta.
Hujan itu kawan baik pelangi (juga). Pelangi, yang selalu dinanti setelah hujan.

Lelaki Rendah Hati itu Bernama Abdulloh

Rasululloh SAW pernah mengangkat seorang sahabat Abdulloh bin Rowahah R.A. untuk menduduki sebuah jabatan panglima dalam perang Mu'tah, namun pada saat itu Abdulloh bin Rowahah RA. menerimanya dengan tangis dan cucuran air mata.
Lalu para sahabat lainnya bertanya: "Apa gerangan yang membuat engkau menangis wahai Abdulloh?"
Ia pun menjawab: "Tidak ada pada diriku cinta dunia dan keinginan untuk dielu-elukan oleh kalian, tetapi aku hanya teringat ketika Rasululloh mengingatkanku dengan firman Alloh SWT: 'Dan tidaklah dari kalian melainkan akan mendatanginya (neraka jahannam) adalah yang demikian itu bagi Tuhanmu (Ya, Muhammad) merupakan ketentuan yang telah ditetapkan' (QS. Maryam: 71)".


*ini nampol bangeeeeet...

Selalu LURUSKAN NIAT!

--Jika kau pernah menjadi orang yang paling menginginkan syurga, maka apakah layak syurga untukmu jika engkau tidak melakukan amalan para perindu syurga?--

Sang Tuan Mendung

Gelap, langit kian menggelap malam ini.
Ya, karena sang tuan embun mengunjungi kotaku dua tiga hari terakhir.
Mana bintang gemintang?
Hilang ditelan sang tuan kah?
Ah, tidak aku rasa.
Mungkin mereka malu.
Mungkin juga mereka sengaja bersembunyi.
Tapi, mengapa harus bersembunyi?
Bukankah banyak orang yang menanti kehadirannya?
Ah, tidak juga.
Bintang gemintang pasti tahu kapan harus berkunjung kepada malam.
Malam gelap yang tepat untuk menunjukkan sinarnya.
Tapi kapan?
Suatu nanti, saat cawan-cawan emas telah siap mengumpulkan sinar gemintang.
Dan malam tak akan gelap lagi.  
Ups, bagaimana dengan sang tuan mendung?
Biarkanlah, mendung tak selamanya kelabu bukan?
Tunggu saja sampai pagi datang, dan butir-butir air mulai berjatuhan.
Lalu biarkan sinar matahari sekarang yang menyapanya.
Akan menjadi mejikuhibiniu bukan?


#lagi pingin sok sastrawan 

10.17.2011

purnama!

Aku ingin bercerita tentang purnama.
Purnama kali itu sangat berbeda (dalam arti sebenarnya). Besar. Super besar. Waktu itu, aku sedang melakukan perjalanan pulang dari rumah mewah calon anak didik lesku (tapi batal). Bahkan aku sampai terkejut ketika itu, belum pernah melihat purnama sebesar dan secemerlang ini. Subhanallah...
Itu purnama paling sempurna yang pernah Allah hadiahkan untukku, maka aku ingin mencatat hari itu, Kamis (13/10).
Maka selalu ada penyeimbang atas apapun, dan purnama kali itu adalah penyeimbang peluh yang menghampiri.

10.11.2011

Wahai, Ini Benar Rindu!

Aku merasa pas sekali ketika melihat tulisan Helvy Tiana Rosa, "Ibu, boleh saya minta dipeluk?". Aah, itu juga yang aku rasakan kemarin sore (10/10) sepulang mencari nafkah. Hari sudah mulai agak menggelap waktu itu, pun dibumbui mendung yang tidak terlalu aku suka. Semburat mendung, samar menutupi rembulan yang hampir purnama. Indah. Tak ada yang mengelak, rembulan memang selalu nikmat dipandangi, dan itulah salah satu cara kita bersyukur. Ya, menatap rembulan.
Aku teringat rumah saat itu. saat dimana aku seolah berjalan sendirian di ramai riuh orang-orang kota pulang 'ngantor'. Aku rindu, benar-benar rindu... Aku rindu rumahku, aku rindu ibuku, aku rindu bapakku, aku rindu mbak tika, aku rindu suara burung panthet depan rumah, aku rindu minum teh bersama, aku rindu bercengkrama dan aku yang menjadi objek pembicaraan atau mbak tika, aku rindu pergi bersama-sama ke tempat simbah, aku rindu mencuci bersama, aku rindu memasak nasi goreng kepedesan atau terlalu asin, aku rinduuuuu...
Dan Allah, jalanan, rembulan, sore, serta motor merahku yang menjadi saksi.
Aku rindu karena terakhir kali pulang 2 minggu yang lalu, aku hanya bersua tidak lebih dari 6 jam dengan bapak ibu. Dan 3 minggu yang lalu pun, tak jauh berbeda. Hanya sebentar. Wahai, ini belum cukup untuk mengobati kerinduan.
Dan sekarang, aku benar-benar ingin pulang... :(

10.07.2011

"Tiadalah sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini, 
selain rasa cinta yang telah mengharu biru di hati kami,
menguasai perasaan kami, 
menguras habis air mata kami, 
dan mencabut rasa kantuk dari pelupuk,
Kami adalah milik kalian, wahai saudara-saudara tercinta..."


"Da'wah yang tenang, namun lebih gemuruh 
Dari tiupan topan yang menderu...
Da'wah yang rendah hati, namun lebih perkasa
Dari keangkuhan gunung yang menjulang...
Da'wah yang dekat, namun lebih luas dari belahan bumi seluruhnya..."


(Hasan Al-Banna)


10.05.2011

Kantin Kita, Asap Rokokmu!

Yah, demikianlah kisah yang cukup ironis tentang tempat makan kita ini, kantin di sebuah fakultas kampusku. Aku, kamu, dia, dan kita pasti sering makan di tempat ini, meskipun agak mahal harganya. Ahh, sebenarnya tidak terlalu enak juga, tapi tidak ada pilihan lain untuk makan (plus nongkrong). Udah lama yah kayaknya ga makan di tempat ini. Sekalinya kesini lagi, asap rokok mengepul dimana-mana. Gilaaaaaa... Mungkin bisa dihitung berapa orang yang tidak bermain-main dengan batang penuh racun ini.
Rasanya pingin marah, terus pingin berorasi pake megaphone tentang bahaya merokok, terus pingin menghilangkan semua asap rokok kantin. Atau terus nempel peraturan segede kantinnya, DILARANG MEROKOK! Ini tempat umum broooo!!!!
Tapi ya semuanya butuh proses, semoga para pembuat kebijakan mendengar. :)