9.29.2011

Si Motor Butut

Semakin berisi, semakin merunduk.

Jogja yang ramai. Siang bolong seperti ini adalah saatnya kembali dari segala aktivitas yang melelahkan. Tak ayal, jalanan-jalanan utama di kotaku ini pun dijejali kendaraan bermotor berbagai merk terkini. 
Namun, ada satu yang mengalihkan pandanganku. Si motor butut itu. Motor warna merah yang seolah tidak kuat menopang para penumpang (hanya 2 orang sih). Sudah lusuh dan ban belakang tampak 'oleng'. Sang pembonceng adalah seorang siswi berseragam putih biru dan yang membonceng adalah bapak paruh baya, yang saya prediksi itu adalah ayahnya. 
Aaah, ini pemandangan luar biasa. 
Hanya demi seorang gadis perempuan belianya, sang bapak rela berpanas-panas dan menaiki motor tuanya tanpa mempedulikan mobil beribu-ribu cc yang mengelilinginya dari samping kanan kiri, depan belakang. Mungkin rasa malu itu ada, tapi tergantikan dengan semangat memperjuangkan pendidikan anaknya.
Aku yakin, ayahnya adalah ayah yang hebat dan kelak gadis berseragam putih biru itu akan menjadi orang hebat pula. Yang juga akan memperjuangkan pendidikan anaknya, cucu dari ayah hebat pemakai motor butut itu. Dan anak dari anak gadis berseragam putih biru itu pun akan menjadi orang hebat pula seperti kakek buyutnya pemakai motor butut itu. Dan seterusnya... 


Jadi teringat bapak tercintaku...
Dulu, aku pun diantar menggunakan motor Alfa yang sangat berat. Meskipun tidak selalu, aku sering diantar menggunakan motor plat merah itu ke sekolah SD, SMP, bahkan hingga SMA-ku, sekalian bapak berangkat ngantor. Okelah, mungkin untuk jarak tempuh SD dan SMP hanya sekitar 2 km. Namun, untuk SMA, cukup hanya sekitar 15 km. Sekali lagi, hanya demi pendidikan anaknya, yang mungkin di sekolahan ridak sesuai harapan beliau. Adduuuuh, jadi malluuuuu...
Dan itulah mengapa semakin kita diberi banyak kesuksesan, semakin haruslah kita merendah, karena pasti di balik kesuksesan kita semakin banyak pula tangan-tangan yang terlibat. Maka, pandai-pandailah berterimakasih, meskipun itu sulit. Sangat sulit.

9.28.2011

Sang Tangguh di Usia Senja

Yang indah akan terlihat indah.

Terlalu banyak pelajaran dari sekitar. Terlalu banyak hikmah yang tercecer sia-sia. Terlalu banyak sikap yang meluluhkan hati. Terlalu banyak karuniaNYA yang diberikan untuk aku, kamu, mereka, kita semua.

Hari itu, aku berkesempatan mengikuti event massal yang digelar di 'kotaku', event pemilihan pemimpin daerah. Pagi yang datang berkunjung, hangat menyapa anak-anak manusia menjalani hiruk pikuk aktivitasnya yang padat merayap. Ini adalah saatnya menentukan pilihan. Maka tentu saja akan banyak orang berbondong-bondong menggunakan haknya.

Satu per satu datang orang-orang dalam keadaan ringanu, atau berat. Salah satu, dua, tiga, dan banyaknya adalah para kakek nenek usia lanjut itu. Ah, malu rasanya menyaksikan mereka yang semangatnya mengalahkan pemuda-pemudi yang usianya jelas jauh di bawah mereka. Ada yang datang sendiri atau ditemani putra-putrinya. Menggelitik memang. Ada yang lupa tidak membawa undangan, ada yang salah lokasi, ada yang tidak membawa karti identitas pemilih, dan sebagainya. Namun, meskipun demikian, mereka mencoba dan terus mencoba hingga akhirnya coblosan pun dapat sukses diberikan.

Tak jauh berbeda dengan kakek nenek usia lanjut itu, bahkan ada yang datang menggunakan kursi roda. Atau ada yang memiliki ke-spesial-an di kedua tangannya, dan yang menakjubkan, dia melakukan itu semua sendiri. Hanya demi calon pemimpin yang mereka idam-idamkan.
Calon pemimpin yang belum jelas apakah janji-janji mereka akan benar-benar terpenuhi setelah menjadi pemimpin yang sebenarnya?
Aaah, rakyat kecil memang hanya bisa menengadahkan tangan, berdoa semoga para pemimpin yang mereka idam-idamkan nanti akan datang di waktu yang tepat.

9.26.2011

9 Opini tentang Pemimpin

Menjadi pemimpin itu tidak mudah. Sangat. Bukan hanya tenaga dan pikiran, tetapi yang lebih besar adalah hati. Lebih tepatnya, kesiapan hati untuk menghadapi segala hujatan, caci maki, dan celotehan yang menghampiri. Ah, bagi beberapa orang tentu itu semua tidak begitu berarti karena masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Namun, bagi sebagian yang lain, masuk kuping kanan nembus ke hati, dan entah mau keluar entah tidak. Yah, demikianlah. Orang selalu punya cara sendiri-sendiri untuk menghadapinya. Mungkin hanya karena satu kali tidak nampak pada sebuah acara, pun bisa jadi bahan protes para pasukan. Dan sebagainya. Hati harus siap kapanpun. Banyak hal ya yang bisa diceritakan tentang pemimpin. Ini adalah 9 opiniku tentang pemimpin. satu. Pemimpin selalu memiliki cara tersendiri dalam memimpin. Iya kan? So, lead with your style, guys! Karena menjadi diri sendiri, itu artinya kau telah jujur dengan keadaan. Dan keadaan pun akan jujur kepadamu. dua. Pemimpin adalah orang pertama yang harus tau keadaan pasukannya. Dan ini tidak mudah. Namun, setidaknya selalu banyak cara untuk itu. tiga. Pemimpin harus selalu tampak tenang, ketika pasukannya sedang bingung atau galau atau gundah. Dan yang terpenting, pemimpin tidak perlu menunjukkan kegalauannya apabila memang si galau itu datang menghadang. Dan lagi-lagi, itu sangat-sangat tidak mudah. Ujung-ujungnya adalah situs-situs sosial tempat menyampah, padahal namanya juga situs sosiall, tentu jadi banyak orang yang mengetahui. empat. Pemimpin harus selalu punya ide-ide cerdas dalam setiap kesempatan. Yah, tentu saja untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang datang, baik iseng ataupun serius. Dan, dilarang telmi alias telat mikir (baca: aku, haha). Aduuuuuh, ini susah juga kaaaan? lima. Pemimpin harus siap menjadi perantara antara pasukannya dengan banyak pihak luar. Ini mutlak diperlukan lah yaaahh... :D enam. Pemimpin itu harus siap mata, hati, dan telinga untuk menampung apapun keluh kesah pasukannya. Dan tataplah pasukan dengan tatapan CINTA. tujuh. Pemimpin harus rela waktu-waktunya untuk hal yang ia senangi berkurang dan waktu-waktu untuk urusan orang banyak bertambah. Misal nih ya, teman-teman sepermainan mengajak hang out (haha, sok gaol men) kemana gitu, eeeh, padahal waktu itu adalah waktunya rapat atau hanya koordinasi sekenanya. Nah, mustahil kan aku memilih hang out. delapan. Pemimpin harus siap serba salah. Ini adalah kondisi yang terjadi saat genting. Saat masalah menerpa. sembilan. Pemimpin itu merdeka. Artinya dia menyadari siapa dirinya. Meskipun dia pemimpin, dia pun dipimpin. Pemimpin juga manusia. Dan karena manusia hanyalah hamba, maka aturan-aturan NYA yang kemudian memimpin langkahnya. ALLAHUAKBAR!

Senja Punya Cerita

Lampu-lampu kota Solo mesra menyambut kedatanganku di stasiun Purwosari senja ini, 25 September 2011. Yah, masih harus menunggu penjemput. Aku pun berjalan ringan menuju depan stasiun dan langsung mencari posisi duduk paling nyaman untuk menikmati senja. Yak, dan ini benar-benar nyaman. Iseng, aku memutar beberapa lagu di handphone butut-ku, #first song: Rabithah, next song: Untukmu Teman. Ahhh, ini perasaan yang sungguh tiba-tiba menelusup dalam dan memutar memoar-memoar masa lalu hingga sekarang. Hingga detik ini, aku merasa beruntung dipertemukan dengan kalian, saudara-saudari seperjuangan. Perjalanan 3 tahun terakhir adalah pelajaran yang sedikit banyak telah mentransformasi hidup dan kehidupanku. Terimakasih. **** Di sini kita pernah bertemu Mencari warna seindah pelangi Ketika kau menghulurkan tanganmu Membawaku ke daerah yang baru Kini dengarkanlah Dendangan lagu tanda ikatanku Kepadamu teman Agar ikatan ukhuwah kan Bersimpul padu Kenangan bersamamu Takkan ku lupa Walau badai datang melanda Walau bercerai jasad dan nyawa Mengapa kita ditemukan Dan akhirnya kita dipisahkan Munkinkah menguji kesetiaan Kejujuran dan kemanisan iman Tuhan berikan daku kekuatan Mungkinkah kita terlupa Tuhan ada janjinya Bertemu berpisah kita Ada rahmat dan kasihnya Andai ini ujian Terangilah kamar kesabaran Pergilah derita hadirlah cahaya *** Mungkin aku juga ingin menuliskan ini untuk kalian. Dan bagiku persahabatan layaknya secangkir cokelat hangat di pagi hari. Selalu nikmat, meskipun tak selalu ada suka cita disana. Itu saja. Sederhana. Sesederhana cinta yang hadir melalui senyuman-senyuman hangat mereka, para sahabat. Sederhana. Sesederhana luka yang tergores di lubuk hati terdalam, yang menelusup menyisakan perih, namun, akan segera terobati dengan kerinduan untuk bertemu berbagi cerita. Sederhana. Sesederhana mimpi-mimpi yang dibangun dan jerih payah yang dilakukan bersama. Aku ingin menjadi ini, kamu ingin menjadi itu, dan nanti kita ingin menjadi seperti demikian. Nanti, suatu nanti yang akan selalu ditunggu. Akan menjadi seperti apa kita nanti~ Tidak cukup memang ratusan kata yang dapat menggambarkan rasa cinta kepada saudara, saudara seperjuangan. Semoga rabithah-rabithah yang mengalir setiap pagi cukup membuat hati-hati kita semakin terikat dan jalan di depan masih sangat-sangat panjang. Selamat berjuang di jalan masing-masing, saudaraku! Yang jelas, akan selalu ada pundak-pundak yang siap setia menjadi sandaran ketika kelelahan menghampiri. :D

9.11.2011

Hanya Senyum

Aku yakin bahwa Allah telah mengatur semua ini dengan begitu sempurna. Hingga hanya senyuman yang dapat aku persembahkan kepada sore, pagi, siang, dan malam yang berkunjung menyapa hati. Ya, hari-hari terakhir ini, ketika pertanyaan 'akan seperti apa hari ini?' terjawab. :D Terimakasih ya Allah. Terimakasih. Terimakasih.

Air Mata di Hari Terakhir

Air mata pun menetes di hari terakhir itu. Tepatnya saat detik-detik terakhir penerimaan mahasiswa baru Fakultasku. Entah apa yang membuat rasanya dada ini bergetar, ketika suara menggelegar dari 400-an mahasiswa baru meneriakkan "Hidup Mahasiswa! Hidup Mahasiswa Indonesia!". Sungguh, tiba-tiba teringat waktu hampir 4 bulanan yang dihabiskan demi merancang semua ini. Aku tahu, kemungkinan meneteskan air mata saat hari-hari terakhir memang ada, namun aku tidak menyangka seterharu ini (lebay). Mungkin inilah puncak semuanya, kelelahan, emosi, pertentangan di sana-sini, missing di sana-sini, amarah, dan banyak yang lain. Dan bukan karena 4 bulan ini saja, aku merasa bahwa inilah generasi-generasi baru itu. Generasi-generasi penerus itu. Generasi yang kini memikul beban yang sama dengan kita, amanat bangsa. Merekalah para tangguh yang akan menghadapi modernisasi zaman. Semoga, mereka, aku, kamu, dan kita semua pun tangguh menghadapi modernisasi ini.