8.27.2011

Merdeka Itu (?)

17 Agustus belum terlalu lama lewat.
Hiruk pikuk penyambutannya pun berbeda-beda di berbagai tempat.
Penayangan acara di televisi pun beraneka rupa. Mulai dari film-film yang begenre kebangsaan (nasionalisme), acar live musik yang semuanya serba merah putih, talkshow-talkshow yang mengundang para pejuang veteran, dan sebagainya. Dan kata-kata yang paling sering disebut adalah merdeka--dan turunannya.

MERDEKA?
Merdeka munurutku menyadari siapa diri kita.
Bahwa kita adalah manusia. Seutuhnya kita adalah makhluk yang diciptakan oleh Sang Khalik dengan sangat sempurna. Kita tak akan tahu bukan, esok akan jadi seperti apa? Bahkan siapa yang tahu kondisi kita 1 jam kedepan, 1 menit ke depan, bahkan 1 detik ke depan. Kita hanya manusia yang hanya bisa menerka-nerka. Intinya: manusia itu lemah. Fakta ya tak dapat dipungkiri bukan meskipun banyak yang memungkiri?

Maka, ketika kita menyandarkan semua urusan hanya kepadaNya-lah, kita baru disebut merdeka (ini menurutku).
Tapi bukankah memang demikian, bahwa siapakah yang lebih menguasai urusan-urusan kecil sampai besar kecuali Sang Pencipta?
Merdeka berarti semua urusan kita dikerjakan sesuai arahan Pemiliknya.
Maka, bangsa merdeka adalah bangsa yang hanya bersandar pada Sang Pemberi Sandaran. Jelas bukan para penjajah yang baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi menjajah negeri. Bukan negara-negara (kaya) itu kan? Bukan pula investor-investor asing yang sibuk mengeruk kekayaan yang kita miliki. Jelas.

Inilah kemerdekaan jiwa raga yang dinanti-nanti.

8.15.2011

Karena Persahabatan adalah Kepompong!

Ah, malam itu aku melepaskan kepergian kalian, lebih tepatnya keberangkatan kalian menuju tempat nun jauh disana. Bantal dan selimut di bus cukup mewah itu semoga bisa menemani malam kalian, tentu saja dengan TV yang menyala nyaring. Aku tak cukup uang nih untuk membelikan sekadar bekal perjalanan. Hanya roti isi kelapa yang aku bawa untuk kalian waktu itu (itu pun dikasih orang, hehe). Aku hanya menyelipkan do’a teramat dalam untuk kalian, agar kalian diberi kelancaran dalam segala hal di sana. Itu saja. Dan tentu saja beriringan dengan senyuman termanis yang aku persembahkan menemani keberangkatan kalian.

Sungguh, malam itu rasanya baru mengantar keluarga pergi merantau. Malam yang anginnya begitu lembut membelai wajah-wajah kita–para pembelajar yang berusaha menjadi pemberani. Lembut, selembut cinta yang kalian miliki.

Satu per satu dari kita pun meninggalkan kota kita–Yogyakarta.
Medan, Malang, Lampung, Salatiga, Bogor, Jakarta…

Ini saatnya merantau dari tanah rantau (kecuali yang asli Jogja).

Masih ingat betapa ribetnya persiapan menuju pemberangkatan ini. Ada yang mau bawa bibit (seledri ya akhirnya?), kompor, benang rajutan, kaca mata gaol, tas yang misah-misahin buat sebelum mandi dan setelah mandi, buku laporannya kakak angkatan, HPnya adek, telur, beras, magic com, setrika, dan segala rupa barang-barang kerumahtanggaan… Hahaha, lucuuuuu…

Lanjuut…

Selesai melepas kalian di Terminal itu, aku merasa ada sesuatu. Ada sesuatu yang pergi sementara waktu. Dan satu hal yang menyebabkan perasaan ini ada, karena ada persahabatan. Aku tahu, dan sangat tahu, melalui raut-raut wajah, senyuman, keringat yang bercucuran, derap langkah yang tergesa-gesa, kantong kering, dan semuanya, aku tahu bahwa kalian telah banyak berjuang. Dan itu tidak mudah.

Satu per satu aku mulai memahami bagaimana khas kalian dalam berjuang. Yang masing-masing begitu menarik untuk diikuti layaknya sinetron striping (bener ga ni nulisnya?). Dan aku bisa bilang bahwa kalian adalah calon-calon sukses. Aku ingin meng-aaamiin-i setiap mimpi-mimpi kalian. Semoga terwujud di suatu waktu nanti.

Karena Persahabatan adalah Kepompong! yang mengubah ulat menjadi kupu-kupu.


ini langit Jogja yang pernah aku ceritakan beberapa waktu lalu.
ini yang selalu membuat rindu setiap meninggalkannya.
ini yang selalu mendengarkan cerita kegembiraan maupun kegelisahan.
ini yang selalu jujur menanggapi setiap bualan.
langit yang biru membiru-sang sahabat sejati.

8.11.2011

Kota yang Orang Bilang “Kejam”

Pertama kali aku menginjakkan kaki di tanah ini adalah saat aku bersekolah di kelas 6 SD. Saat itu kalau tidak salah aku singgah di stasiun Manggarai untuk melanjutkan perjalanan menggunakan kereta menuju Bogor. Yang aku ingat saat itu di samping kiri kanan lintasan kereta rumah-rumah berjajar memadat dan berdesakan serta ada tanah yang berwarna merah, batinku saat itu mungkin ini kenapa ada suatu tempat di kota ini yang dinamakan ‘Tanah Abang’.

Kemudian aku ingat lagi, aku menginjakkan kaki di Jakarta adalah saat karyawisata SMA, waktu itu aku ingat aku singgah di gedung DPR-MPR, daerah dekat Monas dan PLN, yaitu dekat kedutaan Amerika karena pada saat itu memang sedang akan mengunjungi kedutaan Negara adidaya itu, lalu Dufan. Beranjak saat menjadi mahasiswa semester 4, aku kembali menyinggahi kota yang orang bilang ‘kejam’ ini. Saat itu aku hanya menginjakkan kaki di wisma atlet Ragunan, Pt. Indomilk, PT. Yakult, dan ITC. Yaah, tapi namanya juga karyawisata, pastilah bersama rombongan dengan segudang fasilitas transport yang ditawarkan sang agen perjalanan.

Kali ini aku kembali menginjakkan tanah yang dimiliki para abang none ini. Jakarta. Yang berbeda dalam kesempatan ini adalah tujuan dan sarana prasarana-nya. Yak, diantar oleh APV Hitam kepunyaan travel yang aku bilang ‘seharga 170 ribu’, kami (aku dan uneng) pun menginjakkan kaki untuk kesekian kalinya di tanah Jakarta. Tempat yang pertama kali menyambut kami adalah kampus STIS di Jalan Otista Raya. Alhamdulillah ada sahabat yang berkenan menemani, jadi kami lebih tenang. Yak, setelah ini perjalanan akan dimulai, gang-gang sempit pun mulai membiasakan mata untuk memandang, bau-bau comberan mulai mengorientasi hidung untuk mencium, dan klakson-klakson angkot-kopaja-busway mulai mengakrabkan diri dengan telinga kami. Lengkap sudah. Yaa begono…

Tapi, jangan harap senyuman lebar selebar daun kelor dan semanis kue-kue pukis yang dijajakan di jalanan, akan disambut dengan senyuman yang sama. Karena memang mungkin demikianlah orang-orang yang tinggal di Jakarta (sebagian saja mungkin) terlalu terlena dengan segudang aktivitas yang beradu meminta untuk dikerjakan. Sibuk! Namun ada pula yang baik dan ramahnya setengah dewa (agak lebay). Oiya, satu lagi catatan tentang orang-orang yang tinggal di Jakarta, ketika ditanya mengenai arah jalan dengan baik, mereka pun akan menjawab dengan baik, dan kami belum pernah menemui yang tak mau menjawab dan harus disogok barang goceng (seperti kata beberapa orang).

Masuk ke gang sempit tak pelak memaksamu bau-bau tak menyenangkan dari saluran yang banyak sampah nyangkut (atau sengaja disangkutkan?). Dan ini bukan bau sembarangan, karena terkadang di dalam rumah pun masih harus mencium bau ini. Rumah-rumah disini kebanyakan 2 lantai, karena semakin sempitnya lahan untuk pemukiman. Ah, iya, lahan-lahan di sini mungkin sudah terlalu banyak yang dibangun dengan mall-mall, supermarket, dan sejenisnya. Mau tak mau memang kondisi membuat warga Jakarta mulai tertanamkan bibit-bibit konsumtif (sama saja: tidak semuanya seperti itu). Bersambung…

Woy, Bapak Berkacamata!



Malam belum terlalu larut, tapi sudah saatnya orang-orang kantoran kembali ke habitatnya masing-masing, menemui istri dan anak-anak tercintanya. Seperti halnya bapak separuh baya itu.

Dengan peluh yang membuat mengkilat wajahnya dan gelagat agak tergesa-gesa, bapak itu menghentikan angkot pertanda meminta untuk diantarkan ke tempat tujuannya. Nampaknya pekerjaannya cukup berat hari ini, tas ransel besar plus tas jinjing cukup besar menemani kepulangannya, ditambah aksesoris menarik topi. Lengkap sudah dengan kemeja rapi dan celana bahan rapi pula.

Yak, sepertinya mata para penumpang angkot cukup tersedot dengan kehadiran bapak berkaca mata itu. Entahlah, sepertinya duduknya di angkot yang tak cukup luas ini agak tak tenang. Mungkin karena kelelahan yang menggelayutinya atau kemungkinan yang lain.

Setelah mengeluarkan uang untuk membayar angkot sebesar dua ribu perak, bapak yang kira-kira berusia 40 tahunan ini mengeluarkan kertas dari kantongnya yang terksean penuh. Hanya selembar kertas yang kemudian ia lepas dengan anggunnya ke JALAN RAYA.
Jalan raya. Besar memang, tapi ini bukan tempat sampah wooy!

Ah, tak habis pikir, seseorang yang tampaknya sudah berjuta-juta kali makan asam garam, tampak cerdas, pekerja keras, dan pintar, ternyata melupakan sesuatu yang apabila itu dicontoh oleh orang yang melihat tindakan sepele itu dan yang mencontoh itu dicontoh lagi oleh yang lain, dan yang mencontoh mencontoh itu dicontoh oleh yang lagi, dan seterusnya sampai terbentuk rantai contoh-mencontoh hal yang kurang patut. Hmm, semoga tak hanya korupsi yang diberantas di negeri ini, namun orang-orang yang tampaknya cerdas tapi berkelakuan kurang cerdas seperti itu…

Mari sama-sama memperbaiki diri dan memberi contoh baik untuk sekitar, sekecil apapun itu!

Seikat Inspirasi dari Isna



Nah, ini adalah alasan mengapa aku sengaja mem-post tulisan tentang anak kecil yang penuh semangat seperti Azra itu. Gadis mungil yang aku temui di Stasiun Tugu.

Sorot matanya begitu jernih, bola mata yang berwarna biru, dengan rambut ikal yang bergoyang kesana kemari ketika tertiup angin. Itu adalah sosok yang aku ingat dari Aisha Delisa, gadis fiktif yang disusguhkan dengan apik oleh Tere Liye. Yang sungguh akan membuat orang terharu ketika Delisa mengucapkan, “Ummi, Delisa cinta Ummi karena Allah”. Maka Meulaboh, tempat tinggal Delisa seolah baru saja mendapatkan karunia terindah sepanjang masa karena memiliki gadis semulia Delisa.

Di novel ada Aisha Delisa, di Stasiun ada Azra, dan di Jakarta ada Isna.

Ini bukan fiktif.
Gadis dengan rambut ikal mengkilat, pun apabila terkena angin akan bergoyang riang seriang gerak lincah kaki-kakinya. Dialah Isna, gadis mungil yang juga masih duduk di Taman Kanak-Kanak, yang memberikan inspirasi berbeda di tempatku sekarang berdiri.

Sederhana saja, secara kasat mata, tak terlalu banyak yang istimewa dari gadis ikal itu. Namun, satu hal sederhana yang membuatku tercengang adalah berikut ini:
Saat itu, kami mengajak gadis itu untuk sholat maghrib berjama’ah, tak banyak bicara, ia pun langsung mengambil mukena ungu kesayangannya di rumah, dan tentu saja meminta izin kepada ibunya. Kemudian singkat cerita, kami pun sholat berjama’ah. Setelah ditutup dengan salam, kami pun mengajaknya bersalaman dan mencoba mengakrabinya, karena aku yakin ke depan akan banyak berinteraksi. Tak lama kita ngobrol kesana kemari, dia pun mengucapkan kalimat yang sungguh membuat bangga dan kagum,

“Kak, belum Astaghfirullohal’adziim…”—artinya belum berdzikir!

Dan, setelah itu, kami pun terdiam dalam ‘astaghfirullohal’adziim’ kita masing-masing.

Sungguh, pesan yang sederhana tapi menggugah dari seorang anak kecil yang usianya jauh di bawah kita.

Cerita Gadis Pinggir Kali



Pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya, aku sudah mempersiapkan semuanya. Mempersiapkan sarapan pagi istimewaku. Seperti biasanya pula, sekitar pukul 8 pagi, sepiring piring kecil dengan lauk berganti-ganti telah menantiku. Ibundaku tercinta yang menyiapkannya.

Ini sekilas tentang aku.

Aku adalah gadis kecil yang hidup bahagia di rumah kecilku, rumah (bukan) idaman banyak orang karena rumahku ini tergolong SSS (Sangat Super Sederhana). Yah, maklum, ayahku kerjanya hanya memunguti botol-botol bekas dan ibuku –ehm, mengupas bawang merah setoran pasar. Rumahku ini terletak di ujung gang sempit ibu kota, yang disampingnya mengalir tenang sungai yang warnanya berubah-ubah menyesuaikan air buangan yang tertampung di dalamnya.

Seperti pagi ini, sungai yang tenang aliranyya ini berwarna putih pekat dengan sedikit rona hitam. Jangan membayangkan sungai ini tak berabau atau bahkan berbau wangi ya. Aduh, aku saja sering melihat kakak-kakak yang lewat depan rumahku hampir selalu menutup hidung. tau kan baunya seperti apa?

Tak hanya dekat sungai, rumah SSS-ku ini dekat dengan tempat sampah, yang biasanya menampung sampah-sampah masyarakat (arti sebenarnya). Aku tidak membenci tempat ini. Terkadang sewaktu senja hadir, aku bermain-main di atasnya, entahlah menemukan atau tidak menemukan apapun. Yang penting aku senang. Pun demikian dengan ayahku, yang kadang sibuk menghabiskan waktu di tempat itu. Bahkan terkadang beliau masih suka asyik di tempat itu.

Dan malam hari biasanya menjadi malam yang cukup sibuk karena ayah dan ibuku biasanya memilah-milah botol bekas di emperan rumah. Ah, daripada mengganggu, mungkin lebih baik aku main saja kalau urusan ini.

Oia, tetanggaku adalah tetangga yang baik-baik. Teman-teman sepantaranku juga. Setiap maghrib datang, mereka berbondong-bondong ke masjid untuk berjama’ah maghribnya. Asyik bukan?

Itulah sekilas tentang kehidupanku.

Kembali lagi ke pagi ini, pagi spesial dengan sarapan spesial. Berlauk tempe greng dengan ukuran jumbo, aku sangat menikmati sarapan ini. Ah, tapi ada si ayam nih di sampingku, sdikit mengganggu memang, tapi apa daya. Dan ada juga tuh si anjing mungil yang dari tadi mengamatiku. Hahaha, aku jadi malu…

#Inspirasi saat berangkat ke tmpat Kerja Lapangan pagi tadi. Seperti biasa, aku selalu melintasi gang-gang sempit itu. Serng mendapat nspirasi dari semua yang aku lewati. Salah satunya gadis itu, gadis pinggir sungai yang aku tak tahu namanya. Gadis dengan rambut pirang alami karena kurang terawat, gadis dengan keseharian suka bermain di atas tumpukan sampah, dan gadis yang senantiasa menikmati sarapan paginya yang spesial di emperan rumah sempitnya. Gadis yang menginspirasi.