6.24.2011

?

Kali ini aku menyerah...
Aku hanya ingin menangis dan mencurahkan semuanya kepada malam.
Aku hanya ingin menangis.
Aku ingin menangis sepuasnya, sepuasnya, sampai air ini kering dan menguap hingga membawa semuanya pergi.

6.21.2011

14 Juni 2011

(Untuk Dede Imas Masudah, Adinda Faradilla, Sri Martina W., dan Sheila)

Ah, memang tidak selamanya apa yang kita anggap baik, dianggap baik pula oleh yang lain. Tidak selamanya, bahkan orang terdekat sekalipun. Salah satunya adalah sahabat. Benar kata Sindentosca, persahabatan bagai kepompong, yang mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Itulah, persahabatan selalu menjadi proses pendewasaan dan pebaikan diri, hingga suatu ketika ia telah menjadi kupu-kupu, ia ingat akan perjalanannya saat menjadi kepompong. Dan bagiku persahabatan layaknya secangkir cokelat hangat di pagi hari. Selalu nikmat, meskipun tak selalu ada suka cita disana. Itu saja. Sederhana. Sesederhana cinta yang hadir melalui senyuman-senyuman mesra mereka, para sahabat. Sederhana. Sesederhana luka yang tergores di lubuk hati terdalam, yang menelusup menyisakan perih, namun, akan segera terobati dengan kerinduan untuk bertemu berbagi cerita. Sederhana. Sesederhana mimpi-mimpi yang dibangun dan jerih payah yang dilakukan bersama. Aku ingin menjadi ini, kamu ingin menjadi itu, dan nanti kita ingin menjadi seperti demikian. Nanti, suatu nanti yang akan selalu ditunggu. Akan menjadi seperti apa kita nanti wahai sahabatku? Ini hanya tulisan sederhana yang ingin coba aku utarakan kepada kalian semua, bahwa aku menikmati semua proses yang kita lalui selama ini, suka duka marah benci senang ricuh ramai galau, semuanya. Aku mencintai setiap proses yang aku lalui bersama kalian semua. Ups, bukan, mungkin lebih tepatnya bahwa AKU MENCINTAI KALIAN, semenyenangkan apapun, sebawel apapun, seramai apapun, semenyebalkan apapun, sejahat apapun, sebaik apapun, sepintar apapun, sekurangpintar apapun, seceria apapun, seperti apapun kalian, AKU TETAP CINTA. Itu saja. Ini hanya ungkapan cinta paling sederhana di dunia, tapi ini sungguh. Suatu saat nanti, ketika kita sudah sama-sama menggendong cucu, aku ingin kalian tetap menjadi SAHABATKU. Sahabat terbaik yang pernah aku miliki.

Apa Kabar?

Ini adalah tentang kerinduan yang hadir begitu saja beberapa hari ini.

Ah, aku sebenarnya malu membuat tulisan ini, apalagi di forum kompasiana seperti ini. Tapi, ini jujur. Bahkan aku ingin agar kau pun turut membacanya dan kemudian segera memberi jawabannya.

Aku pun tak tahu, kenapa sosokmu yang aku pikirkan beberapa sehari kamarin, mungkin karena ini kerinduan yang tidak biasa, yang ada karena telah lama tangan-tangan kita tidak berjabat, bibir-bibir kita tak saling bercerita berbagai kegalauan, atau kaki-kaki kita yang tak menapak bersama demi sebungkus nasi kucing di angkringan depan itu. Ah, mungkin saja.

Ini bukan kerinduan yang aku buat-buat. Aku sudah lama tak mendengar kisahmu, sahabat… Bagaimana kabarmu di tanah rantau itu? Amanahmu masih undercontrol? Kos baru gimana? Kapan rencana lulus? Ah, bahkan kau tak pernah lagi membalas sms ku yang ‘basa-basi’ atau sekedar memberi kabar lewat facebook?

Jika kau tahu, aku begitu ingin berlibur bersama di kotamu itu, barang 3-4 hari. Tentu saja bersama denganmu. Sudah terlintas di kepalaku saat-saat kita makan di cafe jadul di sudut kotamu, atau hanya berjalan kaki menikmati sore khas di kotamu, atau sekadar berfoto bersama di depan mall-mall megah kotamu…

Satu yang terlupa, apakah kau masih seperti dahulu?

Sosok yang begitu mengagumkan kecerdasannya, yang begitu menyenangkan celoteh-celotehnya (namun kadang pedas menggigit), yang begitu rapuh ketika masalah datang bertubi-tubi, yang suka salah tingkah kalau bertemu dengan Mr. X yang ga habis-habisnya anak-anak ‘jodoh2in’… Haha, apakah kau masih seperti itu, sahabatku?

Sekali lagi, ini jujur. Bahwa aku rindu…

6.10.2011

Pagi ini Spesial!

Pagi ini luar biasa. Sungguh. Aku benar-benar mendapati alam begitu bersuka cita dan aku pun ikut bersuka cita karenanya.
Pagi ini, ya, pagi ini langit begitu bersih, biru membiru. Dan seakan kapas-kapas lembut beterbangan di sela-selanya. Kapas putih yang suci, tak terkotori oleh apapun. Sungguh, pemandangan yang luar biasa mengagumkan. Untaian kapas itu seakan ditiup lembut oleh sang bayu dan melukiskan kebijaksanaan pagi. Siapa yang melihatnya seketika itu juga akan mengaguminya.

Untaian tasbih yang terucap rasanya tak akan cukup untuk menyuarakan kekagumanku akan ciptaanNya ini. Kekaguman yang tak terbendung, hingga senyuman pun tak pernah lekang dari wajahku dan tentunya sahabat-sahabatku itu.

Inilah pagi yang teramat istimewa.

Gunung yang kokoh berdiri kokoh bak tiang-tiang penyangga itu pun turut mewarnai pagi ini. Dengan asap yang mengepul lembut dan mengisi ruang-ruang kosong lembah. Terlukis lembut bersama awan menggambarkan betapa alam ini megah, super megah. Lebih megah daripada gemerlap lampu-lampu kuning jalanan ibukota ataupun lampu-lampu kafe. Iya benar, alam ini begitu megah. Maka seketika itu juga kita akan mengagumi kemegahan alam ini.

Inilah pagi yang terlanjur spesial.

Tak ditutupi, pagi ini terlanjur spesial untuk orang-orang yang menikmatinya. Siapapun. Pagi ini menghilangkan semua kesedihan, meringankan semua beban, dan memberi kehangatan bagi jiwa-jiwa yang beku oleh dunia.

Pagi ini spesial.

http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/06/10/pagi-ini-spesial/