4.15.2011

Sore, Terima Kasih!

Sungguh, aku rindu berlarian di tengah hujan. Sore ini gelap, sungguh gelap. Namun, aku tetap suka sore. Aku suka sore karena dia akan mendengarkan kegelisahanku hari ini, dia akan memeluk kelelahanku hari ini, dan dia akan memarahiku ketika aku tak berguna hari ini.
Sore itu kawan baik yang akan ikut bersedih ketika mendengar cerita sedihku sore ini, yang senang ketika melihat kegembiraan terpancar dari senandung-senandung sore ini, yang bahkan turut menangis meskipun air matamu tak pernah tumpah...

Sore ini, ya benar, sore ini aku ingin menumpahkan semuanya kepadamu wahai sore yang selalu tenang...
Aku ingin menjadi setenang engkau, yang kau tau hanyalah bersujud kepada Rabb Yang Maha Agung, Allah Swt. Yang kau tahu hanya itu bukan?
Sungguh, bukankah kita seharusnya tak pernah merasa gelisah dengan apa yang sedang kita hadapi? Dari mana kegelisahan itu?
Aku malu wahai sore, aku malu karena aku tak bisa sepertimu yang selalu menghadapi semuanya dengan tenang, dengan selalu bersujud kepada Rabb mu yang teramat sangat engkau cintai...

Sebenarnya dari mana kegelisahan itu hadir? Dari setan bukan? Jadi apakah aku boleh mengikuti kegelisahanku ini? TIDAK bukan?
Iyaa, aku tidak boleh menuruti kegelisahan karena apa yang sedang aku hadapi ini. Aku hanya boleh menghadapinya dengan senyuman dan ketenangan seperti yang engkau miliki.

Wahai sore yang selalu tenang, terima kasih karena kau selalu mengajarkan keikhlasan. Kau tak pernah berontak ketika orang-orang mencercamu dengan segala rupa cercaan. Kau tetap tenang, kau tetap tunduk, kau tetap BERSUJUD... Dan kau pun akan tetap istimewa di hadapan Allah yang selalu mengajarkan ketenangan padamu, padaku, dan pada semua makhluk.


Untuk sore dan segalanya tentang sore ini.