2.10.2011

Yeee, aku juara dua!

Senyuman itu masih aku ingat jelas, sebuah senyuman dari seorang anak keren, yang luar biasa itu, di sebuah perlombaan menyambut 'tujuhbelasan'.
Lomba makan krupuk, lomba yang sangat umum dan udah dari jaman dulu kala, tapi masih eksis di kalangan masyarakat Indonesia.
hmm, kali ini kategori anak, yup, lima anak berbaris rapi itu telah siap sedia ikut berlomba, krupuk kuning telah terpasang dengan indahnya, dengan sehelai tali rafia mengikatnya, siap!
Lomba pun dimulai...
Hap-Hap-Hap, mleset, kena, mleset lagi, hap! Kena!
semakin dimakan, semakin berjingkat (jinjit-red)...
Mulut menganga disertai juluran lidah, eiitss,,, tangan ga boleh ikut...
Ga lama setelah lomba dimulai, eh, udah ada yang abisss... Yup, juara 1 dapet!
lomba berlangsung lagi,, makin alot!
Hap! Si anak keren tadi ternyata sudah menghabiskan jatah kerupuknya...
Hanya senyuman dan lompatan-lompatam kecil yang mengekspresikan kemenangannya...
"Yeee... aku juara dua!" mungkin begitulah eksperesi hatinya saat mendapat nomor 2 di kompetisi kerupuk itu... Semangat luar biasa yang dihadirkan si anak keren yang juga luar biasa ternyata membuat banyak orang ikut tersenyum dan bangga dengan si anak...


Senyummu benar-benar mengalihkan duniaku sobat!


*sebuah inspirasi sore dari pitulasan.

Jenenge Wong Ndeso

Subhanallah.. Malam ini begitu berharga pelajaran yang aku dapatkan,jd ingat sebuah m0tivasi yang q dptkan brsama tman2 kamis lalu, bahwa manusia adalah pembelajar sampai kapanpun.. Hmm.. Dan hikmahpun tercecer dimana-mana.. Terbingkai apik dgn ornamen2nya.. Malam ini,mgkin baru 1 jam an yang lalu,aku ikut serta dalam aksi cuci piring bersama setelah acara mendak 1 tahunan mbah putri, doa bersama u/ mendoakan ibu dari ibuku,agar dilapangkan kuburnya dan diberi tempat terindah di sisiNya.. Amiin..
Kembali lagi-- jenenge wong ndeso, setiap orang pasti ingin ikut serta dalam pekerjaan apapun kalo ada 'w0ng duwe gawe'.. Dalam hal ini salah satu pekerjaan utamanya 'isah-isah' (cuci piring).. "jenengan geser,kula tak sing nyabuni" "mpun,mboten sah, jenengan ngurusi sanesipun maw0n, isah2e beres"
yaa,begitulah sdkit cuplikan pckapan ibu2 paruh baya itu.. Bkan brarti mau rebutan kerjaan,tapi rasa ingin 'ngrewangi' itulah yang ada.. Mungkin tak tega ketika melihat sodara2nya yang harus j0ngkok, ngurusin yg kotor2, dll.. Jenenge w0ng ndeso,ga isoh nt0n k0nc0ne susah..
Satu lagi,mereka baru akan mengisi perut setelah pekerjaan itu selesai.. G0ng e ngunu..

Peninggalan saat Pelangi dulu...

Ini bukan tentang mewujudkan proker-proker departemen saudaraku, tapi ini tentang mewujudkan tali ukhuwah yang semakin kuat di antara kita.
Ini bukan tentang menarik jumlah peserta acara yang banyak, tapi ini tentang saling menghargai saudara kita.
Ini bukan tantang megahnya sebuah acara, tapi ini tentang megahnya senyuman hangat yang kita persembahkan untuk saudara kita.
Ini bukan tentang aku jalan dan kamu tidak jalan, tapi ini tentang bagaimana aku bisa menggandengmu untuk berjalan bersama denganku.
Ini bukan hanya tentang tanggung jawab yang kita pikul di pundak-pundak kita, tapi ini tentang bagimana kita bisa menjadi sandaran pundak teman kita yang kelelahan.
Ini bukan tentang kelelahan kita saja, tapi ini tentang mengobati kelelahan saudara kita dengan uluran tangan yang kita berikan untuknya.
Ini pun bukan hanya tentang banyaknya keringat yang kita keluarkan demi berlangsungnya sebuah acara, tapi ini tentang banyaknya keringat yang keluar untuk membantu saudara kita...


Sekali lagi, ini semua tentang kita, yang sedang belajar bersama.


*untuk Kalian yang tak kenal lelah ^_^

2.09.2011

Eh, Ada Sekaten!

Segala rupa hiburan ada di sini. Di sebuah event tahunan bernama 'sekaten' yang digelar di alun-alun utara Yogyakarta. Ah, menyenangkan sekali berada di tengah kerumunan orang-orang dengan wajah-wajah sumringah ini. Yaaa, sumringah menyambut sebuah pesta rakyat yang meriah tiada tara.
Pelataran alun-alun utara pun disesaki dengan orang-orang yang berusaha mengais keberuntungan dengan berjualan aneka rupa jajanan, mainan anak kecil, hingga pelayanan jasa berupa wahana permainan.
Aduhaii, kapan lagi bisa menikmati ini semua secara lengkap kecuali bukan di sekaten.
Layaknya sore tadi, menemani tiga orang sahabat yang sedang berkunjung ke Jogja, kami pun mencoba menjejakkan kaki di sekaten dengan hati riang gembira.
Dengan bermodal dua ribu perak per orang, kami pun melangkah pasti menuju pusat perhatian warga jogja beberapa minggu terakhir ini.
Disambut dengan murotal yang indah dari loadspeaker yang dipasang tinggi dengan tiang bambu.
Subhanallah... teduh jadinyaa...

Berjalan lagi, dan akan semakin banyak ditemui hal-hal baru khas Indonesia...
komidi putar, ombak laut (mainan juga) yang digerakkan sekumpulan remaja- seperti tarian-tarian, tongsetan, rumah hantu, kerak telor khas betawi, cilok, gudeg jogja, baju irfan bachdi*, barang-barang serba 1.000 atau serba 12.000, hingga tempat rokok plus korek apinya. Ah, dahsyat pokoknyaaa...

Yang menarik lagi, setiap orang yang di sana berusaha bagaimana caranya memeriahkan acara ini dengan keunikannya masing-masing. Salah satunya adalah penjual es goreng yang 'beken' itu, yaaa, beken gara-gara kemampuannya bermain kata dalam menawarkan es goreng kepada pengunjung. Dengan sedikit bantuan microphone, es goreng pun sukses membumi di sebagian alun-alun lor. Ah, begitulah, cara menghidupi keluarga yang unik...

Ada lagi, lelaki paruh baya yang entahlah apa tujuannya berdiri di tempat itu (dan tidak pergi-pergi). Apa yang beliau lakukan? Sederhana. Hanya meniup gelembung udara dengan alat sederhananya. Hanya itu. Dan berkali-kali. Aku pikir awalnya "Oh, pedagang mainan anak kecil", tapi kemudian "Mana dagangannya yang lain?". Hmm, aku sudah bisa menyimpulkan seketika itu juga, diselingi canda tawa anak kecil manis yang dengan cerianya menangkap gelembung-gelembung itu.

Lagi, mas-mas penjaga sebuah wahana yang masih 'sepi' itu. Mungkin karena sepi atau saking enaknya musik yang diperdengarkan speaker, badannya pun bergerak-gerak mengikuti alunan musik itu. Menghibur diri atau pun menghibur kawan-kawannya.

Lain anak muda lain lagi bapak yang satu itu. Beliau adalah penjual sebuah alat kesehatan yang entah apa namanya, yang jelas untuk kepala, mungkin untuk metode pijat kepala secara sederhana. Mungkin. Tapi bukan itunya. Yang penting adalah senyumannya. Senyuman yang begitu ikhlas dihadirkan menggoda anak kecil yang mendatanginya. Hanya sebuah senyuman, yang cukup untuk meluluhkan hati anak manusia...


Tu kan? Apa kubilang? Setiap orang punya cara sendiri untuk membahagiakan saudaranya bukan?

2.06.2011

I Love Sukoharjo Makmur!

Sudah sejak usia 2 tahun aku tinggal dan besar di sebuah kabupaten di Selatan Solo, bernama Sukoharjo. Usut diusut, Sukoharjo termasuk kabupaten yang luas wilayahnya sempit di provinsi Jawa Tengah, ya biar keren kita sebut saja Sukoharjo dengan kota kecil lah yaaa... Sekarang aku begitu senangnya menyebut kota makmur ini ketika di perantauan. Hahaha... Dan, selalu ada penyambutan sederhana ketika memasuki kota kecil ini:

ah, senang sekali rasanya... Meskipun tak banyak tempat wisata seperti di kota-kota lain (bahkan kota tetangga), tapi aku bangga dengan Sukoharjo makmur.
Makmur tak sekedar makmur lho...
M = Maju
A = Aman
K = Konstitusional
M = Mantap
U = Unggul
R = Rapi
Hahaha, masih inget waktu SMP dulu sempat diajarin nyanyi lagu Sukoharjo Makmur.

Kenapa aku ingin menulis tentang kota yang mana paling banyak dijumpai lahan persawahan di daerah ini?
Yaa, karena kemarin, aku merasakan feel Sukoharjo lagi...

Ketika mencari-cari rumah seorang sahabat di daerah Mulur, menikmati pemandangan kanan kiri yang begitu menyenangkan dan diselingi dengan senyuman ramah orang-orang yang berpapasan.

Ketika menyusuri jalanan di sepanjang rel kereta api. Ah, bunga warna-warni ikut mengindahkan sore itu. Rel beralih fungsi menjadi tempat 'angon wedhus', artinya mengembalakn kambing oleh seorang nenek yang sudah berusia senja. Hati ikut damai ketika menyaksikan damainya sang simbah mengembalakan peliharaannya.
Melewati jalanan sepanjang rel itu, jadi ingat waktu mbolos TPA saat duduk di bangku sekolah dasar dulu. Ga jadi TPA, malah sepedaan... Hahaha...

Ataupun ketika menyaksikan stasiun bertuliskan 'Sukoharjo' yang sedang mulai dibangun. Ah, nanti mungkin saja aku bisa naik kereta dari Jogja ke Sukoharjo. Aku akan turun di stasiun ini.

Sukoharjo, oh Sukoharjo...
I Love Sukoharjo Makmur!