1.31.2011

Sahabatku, Kamu tidak Lupa kan ya?

Kamu memang salah satu yang sangat aku tunggu ucapannya ketika usiaku beranjak ke 19. Iya, aku tidak berharap kamu telat mengucapkan lagi seperti tahun kemarin. Aku justru berharap kamu menjadi yang pertama mengucapkan.
Sahabatku, kamu kenapa? Kamu tidak lupa kan ya?
Jujur saja, aku sempat marah dan kecewa sekecewa-kecewanya karena hal itu. Sepele memang. Akan tetapi, aku telanjur menganggapmu begitu istimewa. Diam-diam, aku kangen jalan bersama denganmu menelusuri jalanan di kota Solo itu, dari SGM sampai gramed. Diam-diam lho. Mungkin kamu tidak menyadari hal itu.
Ah, mungkin saja kamu sedang sibuk, karena masa-masa sekarang nampaknya kamu sedang sangat sibuk dengan aktivitas kampusmu. Iya kan?
Yang jelas, kamu tidak lupa kan ya?
Kamu hanya belum mengucapkan secara langsung saja kan ya?
Semoga kamu baik-baik disana sayang… Aku akan tetap meminjamkan pundakku untuk tempat bersandarmu ketika kau butuh. Tapi tolong jangan hanya datang kepadaku ketika kamu butuh saja yaa… Datanglah kepadaku kapanpun dan berikan senyuman terhangatmu itu hanya untukku. Salam rindu dan cinta dari Jogja untuk Bandung.
(30102011, kontrakan)

Tanggal 19 Itu, Tepat Aku 19 Tahun


Tinggal 1 tahun lagi aku berkepala dua. Ya, aku sudah 19 tahun sekarang. Satu tahun ini mungkin banyak aku habiskan untuk rapat, syuro’, minta tanda tangan, dan sebagainya. Banyak sekali waktu-waktu berharga dalam rentang miladku yang ke-18 menuju ke-19. Banyak juga kejutan-kejutan indah dari Allah Swt., yang ternyata membawa perubahan besar dalam kehidupanku. Allah memang selalu baik kepada setiap hambaNYA. Di perjalanan menuju 19-ku, aku telah bisa mengendarai motor dengan baik dan benar di jalan raya. Awalnya sepele, mencoba menaiki motor mio milik salah seorang sahabat, berlanjut ingin belajar meskipun sedikit demi sedikit, lalu keadaan memaksaku untuk mengendarai motor bahkan dengan membawa nyawa lain. Di jalan raya pula. Hahaha… Puncaknya adalah saat masa-masa sebelum idul adha, aku banyak sekali belajar membawa motor saat itu, dengan segala tantangannya. Keadaan memang terkadang membuat seseorang menjadi kuat. Ups, bukan! Lebih tepatnya adalah bahwa islam mendidik seseorang menjadi kuat. InsyaAllah… Itu hikmah pertama yang semoga menjadi bekalku di 19 ini. Aaaamiin…
Sebentar, baru saja aku meneguk teh yang sudah agak hilang hangatnya, akan tetapi tetap terasa nikmatnya. Seperti sebuah persaudaraan islam yang aku dapatkan di perjalanan menuju 19-ku. Meskipun tidak terangkum dalam satu lembaga lagi, nikmatnya ukhuwah masih tetap aku rasai hingga detik ini. Indah, seperti warna pelangi sore hari di balik bukit hijau. Itulah ukhuwah, tak menuntutmu lebih, justru ia menenangkan hatimu dan menguatkanmu untuk selalu istiqomah. Cukup dengan senyuman hangat dan jabat tangan erat ketika bertemu. Hikmah kedua, peliharalah ukhuwah maka hatimu akan tenang dan istiqomah. Semoga juga menjadi bekalku di 19 ini. Aaaamiin…
Jadi teringat waktu itu, saat hanya ada aku dan Pemilikku. Hanya ada aku dan Allah. Waktu itu adalah waktu yang paling berharga selama perjalanan hidupku. Ya, waktu itu. Aku akan mengingat waktu itu. InsyaAllah. Karena waktu paling berharga itu, karena pengalaman-pengalaman yang aku jalani, sekarang aku tahu dan benar-benar tahu, bahwa menggapai cinta Allah sama saja dengan menggapai cinta yang lain. Karena dengan menggapai cinta Allah, maka dunia dan seisinya akan mengikutimu. Sungguh, cinta Allah adalah tujuan utama hidup mati kita. Semoga juga menjadi bekalku di 19 ini. Aaaamiin…
Cita-citaku untuk banyak berorganisasi pun terlaksana di usia 18 tahunku, 3 amanah aku jalani secara bersamaan. Aku telah mencoba menjalaninya secara all out, jadi apapun hasilnya menurutku itulah yang terbaik. 3 amanah itu pun akhirnya selesai, namun sepertinya aku masih harus belajar banyak, sehingga Allah memberiku amanah yang baru. Hmm… Semoga aku dapat menjalani dengan baik, menjadi pemimpin yang baik bagi teman-teman terbaikku. Aaaamiin…
Aku sekarang adalah perajut mimpi. Aku telah mempunyai impian-impian untuk masa depanku kelak. Semoga Allah meridloi. Aaaamiin…
Sudah ah, itu dulu. Yang jelas terimakasih untuk ‘Rembulan Tenggelam di Wajahmu’ ya Vidiots dan kawan-kawan buat dedek bontot, juga untuk pembungkusnya yang ‘lucu’ (hahaha), juga untuk blackforest ‘asin’nya, dan untuk ‘telur-minyak-air’nya yang bikin amiissss… Luph u full…
Untuk bapak, ibu, mb tika… Ah, selalu banyak cinta dari kalian buat ‘adek’. Terimakasih, dan ini satu kecupan hangat untuk kalian. ^o^ hehehehehe…
dan untuk semua sahabat... kalianlah yang selalu membuatku tersenyum...
(30102011, kontrakan)

1.29.2011

Dalam Cerita: Jogja, Blitar, Malang #1

Tanggal 20 Januari 2011, satu hari setelah aku genap berusia 19 tahun.
Malam itu adalah saatnya technical meeting perjalanan esok hari, perjalanan yang sudah direncanakan seperti ini:

hahaha... ribet, ruwer, dan rumiit banget pembahasan piknik kita kali ini (agak berlebihan). Tapi, itulah seninya...
Dan besoknya kita akan segera merealisasikan impian kecil kita itu. Mobil punya Bpaknya Rena sudah siap dipinjam, rumahnya apalagi sudah siap untuk dijadikan tumpangan. Pun begitu dengan rumah dindud. Yess... Alhamdulillah...
Sejauh ini lancar, tinggal packing dan besok pagi berangkat pagi2 bener naik kereta ke blitar, tapi sebagian langsung ke Malang.
Hmm, tapi ada sedikit yang mengganjal di hati.
Sore sebelum TM malam ini, singkat cerita, kami (aku dan uneng) tidak diizinkan untuk meninggalkan agenda yang penting esok harinya. Awalnya kita tidak terlalu ambil pusing, toh kita juga sudah pernah meminta izin ke yang lain (mungkin beliau tidak tahu). Karena masih ada yang mengganjal entahlah, kami meminta izin lagi melalui sms (dengan nada memelas), ups, justru makin membuat tidak enak hati meninggalkan pelantikan saudara seperjuangan kita. Pedes deh.
"Aku udah ga bisa neh kalo kayak gini, mending aku nyusul aja berangkatnya," kira-kira seperti itu perdebatan kita malam itu. Udah ga tenang

Akhirnya, kita memutuskan untuk menghadiri pelantikan dan nyusul ke Blitar pake bus.
Dan semakin banyak cerita karena itu...
nekat, nekat wes... hahaha...

Esok harinya, 21 januari 2011 (Hari Jum'at yang penuh berkah).
Hadir ke palantikan dan mengejutkan orang-orang,
"Lhoh,kok ga jadi berangkat e kalian???"
Dan kami hanya menjawabnya dengan isyarat-isyarat penuh arti... haha...

Siangnya, dengan diantar dua sahabat, kami pun melaju ke Giwangan, mengawali perjalanan "nekat" menyusul rombongan menuju Blitar.
Arahan sudah jelas dari rena dan tambahan dari rosi sebagai wong Nganjuk.
"Naik bus Sumber K******, turun nganjuk, ganti bus Kawan K*ta ke arah Blitar, ganti lagi.... bla, bla, bla....
Tapi, arahannya lalu berubah, lebih simple.
Jogja-Kertosono-Tulungagung. Yeaaaahhh... lebih mudah nampaknya.
Ok, kami memutuskan naik bus MIR*, setelah sebelumnya mengira bapak-bapak pemberi kartu langganan (kartu diskon) sebagai calo. Hahaha, parah!
Bapaknya sampai bilang, "Ojo, ojo, mbak e wedi kui lho," Waduuuh, maafkan aku pak...
Dan kami juga sudah berpesan ke pak kenek untuk diturunkan di Kertosono. Setelah itu, setiap ada pemberhentian, kami selalu tanya "Kertosononya pak?". Memalukan, kuliah sudah di tingkat 3, belum ngerti juga gimana bepergian jauh.
"Liat di tiketnya itu mbak, ada..." Bapaknya menjawab dengan nada sudah bosan karena kami tanyai berkali-kali...
Dan seterusnya sampai akhirnya tiba di Kertosono, arahan dari pak Kenek yang baik hati sudah sangat jelas sampai ke tarif busnya. Tenang sekarang...
Blitar telah menanti...

1.17.2011

ALLAH Begitu Baik...

Oke, aku temukan inspirasi.
Setelah meninggalkan tempat monoton ini untuk mencari pencerahan. Hahaha. (opo to?)
Lagi-lagi, aku ingin bercerita lagi tentang betapa baiknya Allah Swt. kepadaku, kepadamu, kepada dia, kepada mereka semua.

Yaa, Allah begitu baik, kalian pasti tahu itu.
Allah menghadirkan kebaikanNya di setiap waktu, di setiap tempat, di setiap kesempatan.
Lewat embun pagi yang selalu menemani anak manusia memulai peraduan di dunia. Hmmm... itulah, sebuah hadiah teristimewa saat fajar mulai menengok mesra.
Sekarang aku menyebutnya 'hadiah fajar'. Sederhana tapi begitu menggugah selera untuk bersemangat sepanjang hari.
Kemudian, lewat hujan yang turun perlahan mengisi ruang-ruang di antara dedaunan hijau dan akhirnya jatuh membasahi tanah berpijaknya manusia. Sederhana juga, tetapi menyuguhkan kesegaran tak terperi bagi seluruh makhluk di muka bumi. Dan aku menyebutnya 'bingkisan hujan'. Setelah itu, cobalah menengadahkan wajahmu ke arah hujan itu berasal, yaitu langit dan nikmati butir demi butir hujan.
Lagi, Allah menghadirkan kebaikanNya melalui orang-orang baik di sekitar kita yang menyertai langkah kita dalam menjalani kehidupan. Ah, tapi ya begitulah kita, begitu banyak uluran tangan dari sekitar kita, tapi masih saja kita enggan berterimakasih. Padahal, berterimakasih artinya bersyukur bukan?
Allah begitu baik... Karena meskipun kita jarang berterimakasih dan bersyukur, Allah tetap melimpahkan rahmatNya untuk kita.

Sudah dulu ya, InsyaAllah tulisan ini berlanjuut...

ga jelas

Sudah lama rasanya tidak memainkan jemari di depan layar kaca kotak ini.
ah, tapi aku bingung...
No inspiration! haha..
yawislah...
semoga segera dapat inspirasi.