12.24.2011

Kalau ini Sore yang Hijau!

Aku ingin menulis sepuasnyaaaa...
Udah lama banget rasanya ga ada momen yang menurutku 'sangat spesial' seperti ini.
Ini adalah sabtu sore, weekend. Jogja tetap istimewa saja kok meskipun hari sabtu. Ini tidak panas pun tidak pula dingin. Sore yang tenang, super tenang. Dan aku sendiri... Menikmati sore.
Akhirnyaaaa, aku suka 'menikmati sore' ini.
Apalagi di kampusku, ini sore yang HIJAU.
Tak jauh dari sini, tak dengarkah kau, suara-suara burung kecil kelaparan, riuh rendah menanti para induk pulang.
Tak jauh lagi, hei dengarlah itu, suara angin, yang sesuka hati menerbangkan dedaunan, sedikit berisik, bersautan dengan deru kendaraan bersautan.
Aaah, alam selalu membisikkan ceritanya...
Maka, bersyukurlah ketika masih dapat mendengar bisikan alam...

Tentang Sore yang Syahdu

Hmmm... Ini sore yang syahdu. Benar-benar syahdu.
Entahlah, berita tadi subuh sebenarnya cukup menyedihkan dan membuat banyak orang terluka, akan tetapi aku pun tak tahu mengapa justru terbesit ketenangan yang berbeda. Setenang sore di kampusku ini.
Terkadang atau mungkin selalu, Allah senantiasa menyertakan ketenangan setelah kesedihan. Ketika bersedih atau ketika kalah, Allah menunjukkan betapa indah mengingat-Nya, betapa indah bertawakal kepadaNya, betapa indah bersabar, dan betapa indah semakin mendekatkan diri kepadaNya.

Yang jelas dan yang aku tahu saat ini, bahwa kita harus BERBENAH. Mulai dari diri sendiri, kemudian keluarga, kemudian orang-orang terdekat, masyarakat, dan seterusnya.
BERBENAH untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan di sana-sini, menutup lubang-lubang yang sudah sejak lama tak terurus, mempercantik taman-taman hati yang mungkin sudah sejak lama terlena, dan kembali meluruskan niat...

Ya Allah... jalan ini masih panjang dan sangat sangat sangat berliku, maka kuatkanlah kaki, tangan, jiwa raga kami untuk dapat bertahan sampai hari terang itu datang menjelang. Aamiin... :D

12.06.2011

absurd.

Dan aku sekarang ingin menulis. Sudah sekian lama dan rasanya jutaan kata-kata sudah ingin meluap-luap bersama pagi, bersama sepi. Hei, apa kabar hati? Apakah selalu sesegar pagi? Semesra pagi? Sehangat pagi? Ah, ini semua tentang hati. Sekuat apa hatimu dapat menopang lelahnya ragamu.
Karena dalam hal ini hati yang menjadi komandan. Maka selalu berdamailah dengan hatimu, karena damai itu indah.


*ini tulisan apa deeeh

11.23.2011

#1: Annisa Khumaira


Selamat hari lahir Annisa Khumaira. 
22 tahun sudah kamu menjejakkan kaki ke dunia ini, pastilah banyak hal yang kau jajaki. Tidak banyak yang bisa aku berikan, hanya bait-bait do’a yang mengalir bersama kehangatan persahabatan kita di Mikrobiologi ini.
Ehm, semoga apa yang menjadi cita-citamu adalah yang terbaik bagimu, maka semoga ia menjadi kenyataan di suatu ketika nanti. Aku masih ingat, kau pernah berujar bahwa kau ingin menjadi pengusaha dan tidak ingin menjadi pegawai. Semoga terwujud yaaa... Bersemangatlah untuk meraihnya!
Semoga semakin banyak kebijaksanaan yang kau berikan untuk sekitar, agar sekitar pun ikut menjadi bijaksana sepertimu. Pun ditambah dengan pengetahuanmu yang sangat luaaaasss... Itu akan menjadi kombinasi luar biasa, sobat.
Semoga hanya senyuman terhangatmu yang terhadirkan ketika banyak batu menghadang jalanmu menuju tujuan (baca: penelitian). haha. 
Semoga kebaikan dalam segala hal senantiasa mengiringimu dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari, hingga tahun ke tahun. Ini cukup mengungkapkan semuanya. 
Lalu, semoga mata, hati, telinga, lidah, tangan, dan kaki semakin terjaga.
Dan semoga keberkahan tak lelah mengiringi perjalananmu, dunia hingga akhirat kelak.

Sekali lagi, Selamat hari Lahir, cha... 


*ini yang pertama dari 18 lainnya. Microers 08. Kalian yang tak kenal lelah. :)

11.22.2011

prolog

mengapa di ujung pertemuan selalu banyak cerita, selalu banyak hal-hal mengesankan, dan selalu ada perpisahan?
ah, ini sudah hampir satu tahun, dan aku semakin mencintai tempat ini, ingin berada lebih lama dan mewarnai dengan warna paling cerah yang aku punya.
aku makin mencintai tempat ini, dan aku belum ingin berpisah, wahai PERMAHAMI-ku sayang...

11.15.2011

Momentum dan Kesiapan.

Apakah kau tahu satu teori yang mengatakan bahwa terkadang momentum datang jauh lebih cepat dari kesiapan. Yaa, aku sangat sepakat. Karena memang demikianlah hidup, terkadang kehidupan membutuhkanmu berlari pada saat kamu sedang belajar merangkak. Mungkin ketika kamu sedang belajar merangkak dan kamu dipaksa untuk berlari, kamu bisa jadi terjatuh karena tidak seimbang. Mungkin juga banyak kesenanganmu dalam merangkak yang menguap bersama keringat. Aaaah, namun dunia tidak butuh mendengarkan kemungkinan-kemungkinan itu. Dunia hanya membutuhkanmu untuk siap ketika momentum itu datang. Karena siapa lagi yang harus lebih siap dibandingkan kamu? Siapa?
Itulah momentum---hanya semacam kejutan dari Sang Pemberi Kejutan.
Maka momentumlah yang akan mempersiapkanmu, cepat atau lambat.
Momentumlah yang membuatmu belajar.
Momentumlah yang mendewasakanmu.
Momentum yang membuatmu harus SIAP.

Mungkin terkadang kamu berfikir bahwa dunia terlalu kejam atau semena-mena karena memaksamu untuk siap ketika kamu merasa belum siap atau bahkan belum merasa perlu 'bersiap'. Yaaa, aku bilang itu wajar. Karena setiap manusia diciptakan dengan potensinya masing-masing,  tidak semuanya dapat dengan cepat bersiap ketika momentum datang atau justru sudah bersiap jauh-jauh hari sebelumnya. Itu sangat wajar. Namun, semuanya kembali lagi kepada aku, kamu, dan siapapun yang diharuskan bersiap. Untuk apa atau siapa kah kita bersiap? Hanya untuk sebuah momentum? Hanya demi dunia?
Tentu tidak... Dan kita pasti tahu jawabannya.

11.14.2011

Sssst... Ini Rahasia!

Aku ingin menulis disini, saat ini, karena aku ingin mencatat apa yang aku impikan hari ini. Agar suatu ketika nanti, aku ingat untuk mewujudkannya menjadi kenyataan--kapan pun itu.
Meskipun ini bukan yang utama, tapi aku sangat menginginkannya. hahaha

Aku ingin menjadi guru untuk anak-anak kecil di pedalaman negeriku, di manapun itu. Lebih tepatnya mungkin di pulau-pulau terpencil. Aaaaah, karena luar biasa sekali bisa menjadi seperti itu.
Menatap senyuman-senyuman tanpa beban dan tanpa tuntutan sambil menikmati dinginnya pagi yang menggigit serta embun yang membasahi dedaunan nan menghijau.
Atau bersendau gurau dengan anak-anak saat mentari mulai menyengat kulit dan semilir angin dari laut mulai berkunjung sambil menyaksikan ibu-ibu yang mengurus dagangannya.
Atau menikmati purnama sambil membicarakan masa depan desa ditemani makanan khas yang disajikan oleh para gadis, membicarakan bahwa desa ini harus terus maju, harus berpendidikan, harus bersemangat.
Atau berkejaran berlarian bersama anak-anak ketika sore menghampiri lalu sibuk mempersiapkan maghrib di masjid yang selalu makmur, sholat berjama'ah lalu mengaji bersama.
Atau duduk sendirian di atas bukit hijau sambil menatap langit, dan mengingat-ingat apa yang telah aku lakukan hari ini.

Alasan utama aku menginginkan itu semua karena : Anak-anak Indonesia (terlalu) istimewa untuk dicintai!

Semoga Allah meridloi jika ini memang yang terbaik. Aamiin. ^_^

karena mereka harus memahami cara mewarnai hidup mereka.

11.10.2011

Cerita si Berbaju Pink!

Aaaaa, hari ini memang sesuatu sekali deeeeh!
Dimulai dengan ujian yang padet (2 kali aja sih, tapi yaa untuk mahasiswa tingkat akhir gini kan udah bisa dibilang padet, haha). Sampe akhirnya makan2 (traktiran) dua orang sahabatku yang syukuran atas beasiswa mereka. Alhamdulillah... ^,^
Setelah beristirahat barang 1 jam, aku pun beranjak mencari tambahan keuangan ke tempat anak laki-laki kelas 4 SD, yang udah 1 bulanan lalu menjadi murid privat setiaku. Si gendut, imut, cerdas, dan (agak) nyebeliiiin. hahahaha...
Sedikit pingin cerita nih tentang si Rafi (namanya). Kalau aku menjadwal les pas siang hari (sekitar jam 2an), baru pulang sekolah dan kadang sempet maen dulu, trus keringatnya belum menguap sempurna, pasti masih bau matahari (haha, mungkin baunya kayak aku dulu yang habis maen bola siang bolong atau main apapun dah yang bikin keringetan). Kalau sore sih kadang mandi dulu, jadi lebih segaaaaar...
Terus, si jagoan satu ini kayaknya cerdas, terbukti dia menduduki ranking 4 di kelasnya, padahal (tampaknya) agak males belajar. Dan keliatan, kalo disuruh ngitung apa aja (kayak pembagian, penjumlahan, dll) ga suka pake coret2an, lebih suka *mengawang-awang* gitu. Aduuuuuh, tapi jadi lamaaaaaa....
Dan ini salah satu yang harus membuatku mengeluarkan jurus merayu anak kecil yang EKSTRA.

Termasuk hari ini. Aaaaaaa, ini anak bikin gemes, jengkel, tapi juga bikin ketawaaaaa.
Hari ini aku datang sore, kangen, udah beberapa hari ga ketemu. Dan si bos gendut ini pake baju pink. Hahaha, matching sama kulit putihnya.
Pertama belajar IPA, trus IQRO', trus (agak ogah2an karena aku kasih PR sebelumnya) MATEMATIKA. Hahahaha, awalnya bener2 males buat belajar MTK, tapi yaa gimana lagi, dipaksa dengan jurus maut sih (lebay kalo ini). Dan PRnya belum dikerjain, dan disuruh ngerjain bareng ga mau, kembali harus dipaksa dengan jurus maut. Aduhaaaaiiii.... T.T

Eh, tapi kekesalanku tergantikan sudah, hari ini gajian (ternyata si ibunda memilih untuk menggajiku di awal, alhamdulillah, tau aja kalo butuh, haha).
Yak, dan ini gajian keduaku (meski beda kondisi)...

Alhamdulillah...



10.31.2011

Jangan Menunda Kebaikan!

Wahai, hari ini benar-benar kelabu, mendung menghimpit kotaku. Kelabu yang sendu. Lihatlah, sendu seperti wajah seorang ibu paruh baya itu, yang mungkin secara fisik tidak tampak terlalu lemah, tapi entah bagaimana kondisi kehidupannya. Mungkin keluarganya yang sangat kekurangan, mungkin dia punya penyakit dalam, mungkin dia harus membayar hutang keluarganya yang menggunung, mungkin dia baru saja kecopetan saat ingin menjenguk anaknya, mungkin juga 5 anaknya harus masuk sekolah, mungkin dia ditinggal pergi suaminya dan seluruh hartanya dibawa, dan mungkin-mungkin yang lain.
Sayang, seribu kali sayang, kemungkinan yang banyak itu tidak ada dalam pikiranku di sore mendung itu. Aku pergi begitu saja ketika sang ibu berada di depan gedung tempat aku baru saja mengikuti acara tentang Palestine. Aku pergi begitu saja, hanya menyisakan tatapan iba (mungkin) dan niat untuk memberikan snack yang masih utuh di dalam tasku (hanya NIAT), tapi niat itu segera menguap bersama mendung--bersama keangkuhan.
Aaaah, dan aku tidak merasa bersalah atau merasa meninggalkan sebuah kesempatan emas berbuat kebaikan. Aku tidak menyesal! Aku pulang dengan senyum tetap tersungging manis.
Tak berapa lama, sampailah aku di kontrakan mungil yang aku tinggali bersama 4 orang sahabatku. Mungkin disinilah aku (sedikit) menyadari bahwa aku harus berbagi dalam keadaan apapun, hanya sedikit. Dan akhirnya aku membagi jatah snack-ku itu untuk salah satu orang rumah. Tapi masih tersisa sebuah 'arem-arem'. Karena masih belum merasa lapar, aku pun belum memakannya.
Singkat cerita, di pagi hari aku menemukan si 'arem-arem' tak berdosa itu sudah berlendir. Aaaaaa, di saat itu juga aku baru menyesal sedalam-dalamnya, mengapa aku tak membagi saja dengan ibu pengemis sore itu? Mengapa aku harus menunda sebuah kebaikan, padahal kebaikan itulah yang mendatangiku?


#hikmahnampol.

10.19.2011

Tentang Hujan


Hujan itu meneduhkan, karena matahari sedang beristirahat menemani langkah kaki anak manusia.
Hujan itu pembawa berita kerinduan, karena terlalu banyak waktu yang kita habiskan bersama orang-orang tercinta saat hujan.
Hujan itu kawan setia sang mendung dan sang bayu, karena mereka berjalan beriringan demi menjatuhkan bulir-bulir banyu. Menyegarkan.
Hujan itu perihal rasa syukur, karena sadar tak sadar, hujan membuat kita ingat akan langit, langit di atas langit, langit di atas langit lagi, dan lagi, dan lagi, hingga berhenti pada Sang Pemilik Langit.
Itulah hujan, hujan yang bijaksana. Menyapa manusia di saat yang tepat (tentunya), meski tak semua orang mengerti akan kebijaksanaan itu.
Hujan itu perihal cinta dan kasih. Ah, ini agak sulit. Namun terkadang, hujan itu meluluhkan dendam, menghapus kebencian, menyembuhkan luka hati, dan menghadirkan cinta.
Hujan itu kawan baik pelangi (juga). Pelangi, yang selalu dinanti setelah hujan.

Lelaki Rendah Hati itu Bernama Abdulloh

Rasululloh SAW pernah mengangkat seorang sahabat Abdulloh bin Rowahah R.A. untuk menduduki sebuah jabatan panglima dalam perang Mu'tah, namun pada saat itu Abdulloh bin Rowahah RA. menerimanya dengan tangis dan cucuran air mata.
Lalu para sahabat lainnya bertanya: "Apa gerangan yang membuat engkau menangis wahai Abdulloh?"
Ia pun menjawab: "Tidak ada pada diriku cinta dunia dan keinginan untuk dielu-elukan oleh kalian, tetapi aku hanya teringat ketika Rasululloh mengingatkanku dengan firman Alloh SWT: 'Dan tidaklah dari kalian melainkan akan mendatanginya (neraka jahannam) adalah yang demikian itu bagi Tuhanmu (Ya, Muhammad) merupakan ketentuan yang telah ditetapkan' (QS. Maryam: 71)".


*ini nampol bangeeeeet...

Selalu LURUSKAN NIAT!

--Jika kau pernah menjadi orang yang paling menginginkan syurga, maka apakah layak syurga untukmu jika engkau tidak melakukan amalan para perindu syurga?--

Sang Tuan Mendung

Gelap, langit kian menggelap malam ini.
Ya, karena sang tuan embun mengunjungi kotaku dua tiga hari terakhir.
Mana bintang gemintang?
Hilang ditelan sang tuan kah?
Ah, tidak aku rasa.
Mungkin mereka malu.
Mungkin juga mereka sengaja bersembunyi.
Tapi, mengapa harus bersembunyi?
Bukankah banyak orang yang menanti kehadirannya?
Ah, tidak juga.
Bintang gemintang pasti tahu kapan harus berkunjung kepada malam.
Malam gelap yang tepat untuk menunjukkan sinarnya.
Tapi kapan?
Suatu nanti, saat cawan-cawan emas telah siap mengumpulkan sinar gemintang.
Dan malam tak akan gelap lagi.  
Ups, bagaimana dengan sang tuan mendung?
Biarkanlah, mendung tak selamanya kelabu bukan?
Tunggu saja sampai pagi datang, dan butir-butir air mulai berjatuhan.
Lalu biarkan sinar matahari sekarang yang menyapanya.
Akan menjadi mejikuhibiniu bukan?


#lagi pingin sok sastrawan 

10.17.2011

purnama!

Aku ingin bercerita tentang purnama.
Purnama kali itu sangat berbeda (dalam arti sebenarnya). Besar. Super besar. Waktu itu, aku sedang melakukan perjalanan pulang dari rumah mewah calon anak didik lesku (tapi batal). Bahkan aku sampai terkejut ketika itu, belum pernah melihat purnama sebesar dan secemerlang ini. Subhanallah...
Itu purnama paling sempurna yang pernah Allah hadiahkan untukku, maka aku ingin mencatat hari itu, Kamis (13/10).
Maka selalu ada penyeimbang atas apapun, dan purnama kali itu adalah penyeimbang peluh yang menghampiri.

10.11.2011

Wahai, Ini Benar Rindu!

Aku merasa pas sekali ketika melihat tulisan Helvy Tiana Rosa, "Ibu, boleh saya minta dipeluk?". Aah, itu juga yang aku rasakan kemarin sore (10/10) sepulang mencari nafkah. Hari sudah mulai agak menggelap waktu itu, pun dibumbui mendung yang tidak terlalu aku suka. Semburat mendung, samar menutupi rembulan yang hampir purnama. Indah. Tak ada yang mengelak, rembulan memang selalu nikmat dipandangi, dan itulah salah satu cara kita bersyukur. Ya, menatap rembulan.
Aku teringat rumah saat itu. saat dimana aku seolah berjalan sendirian di ramai riuh orang-orang kota pulang 'ngantor'. Aku rindu, benar-benar rindu... Aku rindu rumahku, aku rindu ibuku, aku rindu bapakku, aku rindu mbak tika, aku rindu suara burung panthet depan rumah, aku rindu minum teh bersama, aku rindu bercengkrama dan aku yang menjadi objek pembicaraan atau mbak tika, aku rindu pergi bersama-sama ke tempat simbah, aku rindu mencuci bersama, aku rindu memasak nasi goreng kepedesan atau terlalu asin, aku rinduuuuu...
Dan Allah, jalanan, rembulan, sore, serta motor merahku yang menjadi saksi.
Aku rindu karena terakhir kali pulang 2 minggu yang lalu, aku hanya bersua tidak lebih dari 6 jam dengan bapak ibu. Dan 3 minggu yang lalu pun, tak jauh berbeda. Hanya sebentar. Wahai, ini belum cukup untuk mengobati kerinduan.
Dan sekarang, aku benar-benar ingin pulang... :(

10.07.2011

"Tiadalah sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini, 
selain rasa cinta yang telah mengharu biru di hati kami,
menguasai perasaan kami, 
menguras habis air mata kami, 
dan mencabut rasa kantuk dari pelupuk,
Kami adalah milik kalian, wahai saudara-saudara tercinta..."


"Da'wah yang tenang, namun lebih gemuruh 
Dari tiupan topan yang menderu...
Da'wah yang rendah hati, namun lebih perkasa
Dari keangkuhan gunung yang menjulang...
Da'wah yang dekat, namun lebih luas dari belahan bumi seluruhnya..."


(Hasan Al-Banna)


10.05.2011

Kantin Kita, Asap Rokokmu!

Yah, demikianlah kisah yang cukup ironis tentang tempat makan kita ini, kantin di sebuah fakultas kampusku. Aku, kamu, dia, dan kita pasti sering makan di tempat ini, meskipun agak mahal harganya. Ahh, sebenarnya tidak terlalu enak juga, tapi tidak ada pilihan lain untuk makan (plus nongkrong). Udah lama yah kayaknya ga makan di tempat ini. Sekalinya kesini lagi, asap rokok mengepul dimana-mana. Gilaaaaaa... Mungkin bisa dihitung berapa orang yang tidak bermain-main dengan batang penuh racun ini.
Rasanya pingin marah, terus pingin berorasi pake megaphone tentang bahaya merokok, terus pingin menghilangkan semua asap rokok kantin. Atau terus nempel peraturan segede kantinnya, DILARANG MEROKOK! Ini tempat umum broooo!!!!
Tapi ya semuanya butuh proses, semoga para pembuat kebijakan mendengar. :)

9.29.2011

Si Motor Butut

Semakin berisi, semakin merunduk.

Jogja yang ramai. Siang bolong seperti ini adalah saatnya kembali dari segala aktivitas yang melelahkan. Tak ayal, jalanan-jalanan utama di kotaku ini pun dijejali kendaraan bermotor berbagai merk terkini. 
Namun, ada satu yang mengalihkan pandanganku. Si motor butut itu. Motor warna merah yang seolah tidak kuat menopang para penumpang (hanya 2 orang sih). Sudah lusuh dan ban belakang tampak 'oleng'. Sang pembonceng adalah seorang siswi berseragam putih biru dan yang membonceng adalah bapak paruh baya, yang saya prediksi itu adalah ayahnya. 
Aaah, ini pemandangan luar biasa. 
Hanya demi seorang gadis perempuan belianya, sang bapak rela berpanas-panas dan menaiki motor tuanya tanpa mempedulikan mobil beribu-ribu cc yang mengelilinginya dari samping kanan kiri, depan belakang. Mungkin rasa malu itu ada, tapi tergantikan dengan semangat memperjuangkan pendidikan anaknya.
Aku yakin, ayahnya adalah ayah yang hebat dan kelak gadis berseragam putih biru itu akan menjadi orang hebat pula. Yang juga akan memperjuangkan pendidikan anaknya, cucu dari ayah hebat pemakai motor butut itu. Dan anak dari anak gadis berseragam putih biru itu pun akan menjadi orang hebat pula seperti kakek buyutnya pemakai motor butut itu. Dan seterusnya... 


Jadi teringat bapak tercintaku...
Dulu, aku pun diantar menggunakan motor Alfa yang sangat berat. Meskipun tidak selalu, aku sering diantar menggunakan motor plat merah itu ke sekolah SD, SMP, bahkan hingga SMA-ku, sekalian bapak berangkat ngantor. Okelah, mungkin untuk jarak tempuh SD dan SMP hanya sekitar 2 km. Namun, untuk SMA, cukup hanya sekitar 15 km. Sekali lagi, hanya demi pendidikan anaknya, yang mungkin di sekolahan ridak sesuai harapan beliau. Adduuuuh, jadi malluuuuu...
Dan itulah mengapa semakin kita diberi banyak kesuksesan, semakin haruslah kita merendah, karena pasti di balik kesuksesan kita semakin banyak pula tangan-tangan yang terlibat. Maka, pandai-pandailah berterimakasih, meskipun itu sulit. Sangat sulit.

9.28.2011

Sang Tangguh di Usia Senja

Yang indah akan terlihat indah.

Terlalu banyak pelajaran dari sekitar. Terlalu banyak hikmah yang tercecer sia-sia. Terlalu banyak sikap yang meluluhkan hati. Terlalu banyak karuniaNYA yang diberikan untuk aku, kamu, mereka, kita semua.

Hari itu, aku berkesempatan mengikuti event massal yang digelar di 'kotaku', event pemilihan pemimpin daerah. Pagi yang datang berkunjung, hangat menyapa anak-anak manusia menjalani hiruk pikuk aktivitasnya yang padat merayap. Ini adalah saatnya menentukan pilihan. Maka tentu saja akan banyak orang berbondong-bondong menggunakan haknya.

Satu per satu datang orang-orang dalam keadaan ringanu, atau berat. Salah satu, dua, tiga, dan banyaknya adalah para kakek nenek usia lanjut itu. Ah, malu rasanya menyaksikan mereka yang semangatnya mengalahkan pemuda-pemudi yang usianya jelas jauh di bawah mereka. Ada yang datang sendiri atau ditemani putra-putrinya. Menggelitik memang. Ada yang lupa tidak membawa undangan, ada yang salah lokasi, ada yang tidak membawa karti identitas pemilih, dan sebagainya. Namun, meskipun demikian, mereka mencoba dan terus mencoba hingga akhirnya coblosan pun dapat sukses diberikan.

Tak jauh berbeda dengan kakek nenek usia lanjut itu, bahkan ada yang datang menggunakan kursi roda. Atau ada yang memiliki ke-spesial-an di kedua tangannya, dan yang menakjubkan, dia melakukan itu semua sendiri. Hanya demi calon pemimpin yang mereka idam-idamkan.
Calon pemimpin yang belum jelas apakah janji-janji mereka akan benar-benar terpenuhi setelah menjadi pemimpin yang sebenarnya?
Aaah, rakyat kecil memang hanya bisa menengadahkan tangan, berdoa semoga para pemimpin yang mereka idam-idamkan nanti akan datang di waktu yang tepat.

9.26.2011

9 Opini tentang Pemimpin

Menjadi pemimpin itu tidak mudah. Sangat. Bukan hanya tenaga dan pikiran, tetapi yang lebih besar adalah hati. Lebih tepatnya, kesiapan hati untuk menghadapi segala hujatan, caci maki, dan celotehan yang menghampiri. Ah, bagi beberapa orang tentu itu semua tidak begitu berarti karena masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Namun, bagi sebagian yang lain, masuk kuping kanan nembus ke hati, dan entah mau keluar entah tidak. Yah, demikianlah. Orang selalu punya cara sendiri-sendiri untuk menghadapinya. Mungkin hanya karena satu kali tidak nampak pada sebuah acara, pun bisa jadi bahan protes para pasukan. Dan sebagainya. Hati harus siap kapanpun. Banyak hal ya yang bisa diceritakan tentang pemimpin. Ini adalah 9 opiniku tentang pemimpin. satu. Pemimpin selalu memiliki cara tersendiri dalam memimpin. Iya kan? So, lead with your style, guys! Karena menjadi diri sendiri, itu artinya kau telah jujur dengan keadaan. Dan keadaan pun akan jujur kepadamu. dua. Pemimpin adalah orang pertama yang harus tau keadaan pasukannya. Dan ini tidak mudah. Namun, setidaknya selalu banyak cara untuk itu. tiga. Pemimpin harus selalu tampak tenang, ketika pasukannya sedang bingung atau galau atau gundah. Dan yang terpenting, pemimpin tidak perlu menunjukkan kegalauannya apabila memang si galau itu datang menghadang. Dan lagi-lagi, itu sangat-sangat tidak mudah. Ujung-ujungnya adalah situs-situs sosial tempat menyampah, padahal namanya juga situs sosiall, tentu jadi banyak orang yang mengetahui. empat. Pemimpin harus selalu punya ide-ide cerdas dalam setiap kesempatan. Yah, tentu saja untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang datang, baik iseng ataupun serius. Dan, dilarang telmi alias telat mikir (baca: aku, haha). Aduuuuuh, ini susah juga kaaaan? lima. Pemimpin harus siap menjadi perantara antara pasukannya dengan banyak pihak luar. Ini mutlak diperlukan lah yaaahh... :D enam. Pemimpin itu harus siap mata, hati, dan telinga untuk menampung apapun keluh kesah pasukannya. Dan tataplah pasukan dengan tatapan CINTA. tujuh. Pemimpin harus rela waktu-waktunya untuk hal yang ia senangi berkurang dan waktu-waktu untuk urusan orang banyak bertambah. Misal nih ya, teman-teman sepermainan mengajak hang out (haha, sok gaol men) kemana gitu, eeeh, padahal waktu itu adalah waktunya rapat atau hanya koordinasi sekenanya. Nah, mustahil kan aku memilih hang out. delapan. Pemimpin harus siap serba salah. Ini adalah kondisi yang terjadi saat genting. Saat masalah menerpa. sembilan. Pemimpin itu merdeka. Artinya dia menyadari siapa dirinya. Meskipun dia pemimpin, dia pun dipimpin. Pemimpin juga manusia. Dan karena manusia hanyalah hamba, maka aturan-aturan NYA yang kemudian memimpin langkahnya. ALLAHUAKBAR!

Senja Punya Cerita

Lampu-lampu kota Solo mesra menyambut kedatanganku di stasiun Purwosari senja ini, 25 September 2011. Yah, masih harus menunggu penjemput. Aku pun berjalan ringan menuju depan stasiun dan langsung mencari posisi duduk paling nyaman untuk menikmati senja. Yak, dan ini benar-benar nyaman. Iseng, aku memutar beberapa lagu di handphone butut-ku, #first song: Rabithah, next song: Untukmu Teman. Ahhh, ini perasaan yang sungguh tiba-tiba menelusup dalam dan memutar memoar-memoar masa lalu hingga sekarang. Hingga detik ini, aku merasa beruntung dipertemukan dengan kalian, saudara-saudari seperjuangan. Perjalanan 3 tahun terakhir adalah pelajaran yang sedikit banyak telah mentransformasi hidup dan kehidupanku. Terimakasih. **** Di sini kita pernah bertemu Mencari warna seindah pelangi Ketika kau menghulurkan tanganmu Membawaku ke daerah yang baru Kini dengarkanlah Dendangan lagu tanda ikatanku Kepadamu teman Agar ikatan ukhuwah kan Bersimpul padu Kenangan bersamamu Takkan ku lupa Walau badai datang melanda Walau bercerai jasad dan nyawa Mengapa kita ditemukan Dan akhirnya kita dipisahkan Munkinkah menguji kesetiaan Kejujuran dan kemanisan iman Tuhan berikan daku kekuatan Mungkinkah kita terlupa Tuhan ada janjinya Bertemu berpisah kita Ada rahmat dan kasihnya Andai ini ujian Terangilah kamar kesabaran Pergilah derita hadirlah cahaya *** Mungkin aku juga ingin menuliskan ini untuk kalian. Dan bagiku persahabatan layaknya secangkir cokelat hangat di pagi hari. Selalu nikmat, meskipun tak selalu ada suka cita disana. Itu saja. Sederhana. Sesederhana cinta yang hadir melalui senyuman-senyuman hangat mereka, para sahabat. Sederhana. Sesederhana luka yang tergores di lubuk hati terdalam, yang menelusup menyisakan perih, namun, akan segera terobati dengan kerinduan untuk bertemu berbagi cerita. Sederhana. Sesederhana mimpi-mimpi yang dibangun dan jerih payah yang dilakukan bersama. Aku ingin menjadi ini, kamu ingin menjadi itu, dan nanti kita ingin menjadi seperti demikian. Nanti, suatu nanti yang akan selalu ditunggu. Akan menjadi seperti apa kita nanti~ Tidak cukup memang ratusan kata yang dapat menggambarkan rasa cinta kepada saudara, saudara seperjuangan. Semoga rabithah-rabithah yang mengalir setiap pagi cukup membuat hati-hati kita semakin terikat dan jalan di depan masih sangat-sangat panjang. Selamat berjuang di jalan masing-masing, saudaraku! Yang jelas, akan selalu ada pundak-pundak yang siap setia menjadi sandaran ketika kelelahan menghampiri. :D

9.11.2011

Hanya Senyum

Aku yakin bahwa Allah telah mengatur semua ini dengan begitu sempurna. Hingga hanya senyuman yang dapat aku persembahkan kepada sore, pagi, siang, dan malam yang berkunjung menyapa hati. Ya, hari-hari terakhir ini, ketika pertanyaan 'akan seperti apa hari ini?' terjawab. :D Terimakasih ya Allah. Terimakasih. Terimakasih.

Air Mata di Hari Terakhir

Air mata pun menetes di hari terakhir itu. Tepatnya saat detik-detik terakhir penerimaan mahasiswa baru Fakultasku. Entah apa yang membuat rasanya dada ini bergetar, ketika suara menggelegar dari 400-an mahasiswa baru meneriakkan "Hidup Mahasiswa! Hidup Mahasiswa Indonesia!". Sungguh, tiba-tiba teringat waktu hampir 4 bulanan yang dihabiskan demi merancang semua ini. Aku tahu, kemungkinan meneteskan air mata saat hari-hari terakhir memang ada, namun aku tidak menyangka seterharu ini (lebay). Mungkin inilah puncak semuanya, kelelahan, emosi, pertentangan di sana-sini, missing di sana-sini, amarah, dan banyak yang lain. Dan bukan karena 4 bulan ini saja, aku merasa bahwa inilah generasi-generasi baru itu. Generasi-generasi penerus itu. Generasi yang kini memikul beban yang sama dengan kita, amanat bangsa. Merekalah para tangguh yang akan menghadapi modernisasi zaman. Semoga, mereka, aku, kamu, dan kita semua pun tangguh menghadapi modernisasi ini.

8.27.2011

Merdeka Itu (?)

17 Agustus belum terlalu lama lewat.
Hiruk pikuk penyambutannya pun berbeda-beda di berbagai tempat.
Penayangan acara di televisi pun beraneka rupa. Mulai dari film-film yang begenre kebangsaan (nasionalisme), acar live musik yang semuanya serba merah putih, talkshow-talkshow yang mengundang para pejuang veteran, dan sebagainya. Dan kata-kata yang paling sering disebut adalah merdeka--dan turunannya.

MERDEKA?
Merdeka munurutku menyadari siapa diri kita.
Bahwa kita adalah manusia. Seutuhnya kita adalah makhluk yang diciptakan oleh Sang Khalik dengan sangat sempurna. Kita tak akan tahu bukan, esok akan jadi seperti apa? Bahkan siapa yang tahu kondisi kita 1 jam kedepan, 1 menit ke depan, bahkan 1 detik ke depan. Kita hanya manusia yang hanya bisa menerka-nerka. Intinya: manusia itu lemah. Fakta ya tak dapat dipungkiri bukan meskipun banyak yang memungkiri?

Maka, ketika kita menyandarkan semua urusan hanya kepadaNya-lah, kita baru disebut merdeka (ini menurutku).
Tapi bukankah memang demikian, bahwa siapakah yang lebih menguasai urusan-urusan kecil sampai besar kecuali Sang Pencipta?
Merdeka berarti semua urusan kita dikerjakan sesuai arahan Pemiliknya.
Maka, bangsa merdeka adalah bangsa yang hanya bersandar pada Sang Pemberi Sandaran. Jelas bukan para penjajah yang baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi menjajah negeri. Bukan negara-negara (kaya) itu kan? Bukan pula investor-investor asing yang sibuk mengeruk kekayaan yang kita miliki. Jelas.

Inilah kemerdekaan jiwa raga yang dinanti-nanti.

8.15.2011

Karena Persahabatan adalah Kepompong!

Ah, malam itu aku melepaskan kepergian kalian, lebih tepatnya keberangkatan kalian menuju tempat nun jauh disana. Bantal dan selimut di bus cukup mewah itu semoga bisa menemani malam kalian, tentu saja dengan TV yang menyala nyaring. Aku tak cukup uang nih untuk membelikan sekadar bekal perjalanan. Hanya roti isi kelapa yang aku bawa untuk kalian waktu itu (itu pun dikasih orang, hehe). Aku hanya menyelipkan do’a teramat dalam untuk kalian, agar kalian diberi kelancaran dalam segala hal di sana. Itu saja. Dan tentu saja beriringan dengan senyuman termanis yang aku persembahkan menemani keberangkatan kalian.

Sungguh, malam itu rasanya baru mengantar keluarga pergi merantau. Malam yang anginnya begitu lembut membelai wajah-wajah kita–para pembelajar yang berusaha menjadi pemberani. Lembut, selembut cinta yang kalian miliki.

Satu per satu dari kita pun meninggalkan kota kita–Yogyakarta.
Medan, Malang, Lampung, Salatiga, Bogor, Jakarta…

Ini saatnya merantau dari tanah rantau (kecuali yang asli Jogja).

Masih ingat betapa ribetnya persiapan menuju pemberangkatan ini. Ada yang mau bawa bibit (seledri ya akhirnya?), kompor, benang rajutan, kaca mata gaol, tas yang misah-misahin buat sebelum mandi dan setelah mandi, buku laporannya kakak angkatan, HPnya adek, telur, beras, magic com, setrika, dan segala rupa barang-barang kerumahtanggaan… Hahaha, lucuuuuu…

Lanjuut…

Selesai melepas kalian di Terminal itu, aku merasa ada sesuatu. Ada sesuatu yang pergi sementara waktu. Dan satu hal yang menyebabkan perasaan ini ada, karena ada persahabatan. Aku tahu, dan sangat tahu, melalui raut-raut wajah, senyuman, keringat yang bercucuran, derap langkah yang tergesa-gesa, kantong kering, dan semuanya, aku tahu bahwa kalian telah banyak berjuang. Dan itu tidak mudah.

Satu per satu aku mulai memahami bagaimana khas kalian dalam berjuang. Yang masing-masing begitu menarik untuk diikuti layaknya sinetron striping (bener ga ni nulisnya?). Dan aku bisa bilang bahwa kalian adalah calon-calon sukses. Aku ingin meng-aaamiin-i setiap mimpi-mimpi kalian. Semoga terwujud di suatu waktu nanti.

Karena Persahabatan adalah Kepompong! yang mengubah ulat menjadi kupu-kupu.


ini langit Jogja yang pernah aku ceritakan beberapa waktu lalu.
ini yang selalu membuat rindu setiap meninggalkannya.
ini yang selalu mendengarkan cerita kegembiraan maupun kegelisahan.
ini yang selalu jujur menanggapi setiap bualan.
langit yang biru membiru-sang sahabat sejati.

8.11.2011

Kota yang Orang Bilang “Kejam”

Pertama kali aku menginjakkan kaki di tanah ini adalah saat aku bersekolah di kelas 6 SD. Saat itu kalau tidak salah aku singgah di stasiun Manggarai untuk melanjutkan perjalanan menggunakan kereta menuju Bogor. Yang aku ingat saat itu di samping kiri kanan lintasan kereta rumah-rumah berjajar memadat dan berdesakan serta ada tanah yang berwarna merah, batinku saat itu mungkin ini kenapa ada suatu tempat di kota ini yang dinamakan ‘Tanah Abang’.

Kemudian aku ingat lagi, aku menginjakkan kaki di Jakarta adalah saat karyawisata SMA, waktu itu aku ingat aku singgah di gedung DPR-MPR, daerah dekat Monas dan PLN, yaitu dekat kedutaan Amerika karena pada saat itu memang sedang akan mengunjungi kedutaan Negara adidaya itu, lalu Dufan. Beranjak saat menjadi mahasiswa semester 4, aku kembali menyinggahi kota yang orang bilang ‘kejam’ ini. Saat itu aku hanya menginjakkan kaki di wisma atlet Ragunan, Pt. Indomilk, PT. Yakult, dan ITC. Yaah, tapi namanya juga karyawisata, pastilah bersama rombongan dengan segudang fasilitas transport yang ditawarkan sang agen perjalanan.

Kali ini aku kembali menginjakkan tanah yang dimiliki para abang none ini. Jakarta. Yang berbeda dalam kesempatan ini adalah tujuan dan sarana prasarana-nya. Yak, diantar oleh APV Hitam kepunyaan travel yang aku bilang ‘seharga 170 ribu’, kami (aku dan uneng) pun menginjakkan kaki untuk kesekian kalinya di tanah Jakarta. Tempat yang pertama kali menyambut kami adalah kampus STIS di Jalan Otista Raya. Alhamdulillah ada sahabat yang berkenan menemani, jadi kami lebih tenang. Yak, setelah ini perjalanan akan dimulai, gang-gang sempit pun mulai membiasakan mata untuk memandang, bau-bau comberan mulai mengorientasi hidung untuk mencium, dan klakson-klakson angkot-kopaja-busway mulai mengakrabkan diri dengan telinga kami. Lengkap sudah. Yaa begono…

Tapi, jangan harap senyuman lebar selebar daun kelor dan semanis kue-kue pukis yang dijajakan di jalanan, akan disambut dengan senyuman yang sama. Karena memang mungkin demikianlah orang-orang yang tinggal di Jakarta (sebagian saja mungkin) terlalu terlena dengan segudang aktivitas yang beradu meminta untuk dikerjakan. Sibuk! Namun ada pula yang baik dan ramahnya setengah dewa (agak lebay). Oiya, satu lagi catatan tentang orang-orang yang tinggal di Jakarta, ketika ditanya mengenai arah jalan dengan baik, mereka pun akan menjawab dengan baik, dan kami belum pernah menemui yang tak mau menjawab dan harus disogok barang goceng (seperti kata beberapa orang).

Masuk ke gang sempit tak pelak memaksamu bau-bau tak menyenangkan dari saluran yang banyak sampah nyangkut (atau sengaja disangkutkan?). Dan ini bukan bau sembarangan, karena terkadang di dalam rumah pun masih harus mencium bau ini. Rumah-rumah disini kebanyakan 2 lantai, karena semakin sempitnya lahan untuk pemukiman. Ah, iya, lahan-lahan di sini mungkin sudah terlalu banyak yang dibangun dengan mall-mall, supermarket, dan sejenisnya. Mau tak mau memang kondisi membuat warga Jakarta mulai tertanamkan bibit-bibit konsumtif (sama saja: tidak semuanya seperti itu). Bersambung…

Woy, Bapak Berkacamata!



Malam belum terlalu larut, tapi sudah saatnya orang-orang kantoran kembali ke habitatnya masing-masing, menemui istri dan anak-anak tercintanya. Seperti halnya bapak separuh baya itu.

Dengan peluh yang membuat mengkilat wajahnya dan gelagat agak tergesa-gesa, bapak itu menghentikan angkot pertanda meminta untuk diantarkan ke tempat tujuannya. Nampaknya pekerjaannya cukup berat hari ini, tas ransel besar plus tas jinjing cukup besar menemani kepulangannya, ditambah aksesoris menarik topi. Lengkap sudah dengan kemeja rapi dan celana bahan rapi pula.

Yak, sepertinya mata para penumpang angkot cukup tersedot dengan kehadiran bapak berkaca mata itu. Entahlah, sepertinya duduknya di angkot yang tak cukup luas ini agak tak tenang. Mungkin karena kelelahan yang menggelayutinya atau kemungkinan yang lain.

Setelah mengeluarkan uang untuk membayar angkot sebesar dua ribu perak, bapak yang kira-kira berusia 40 tahunan ini mengeluarkan kertas dari kantongnya yang terksean penuh. Hanya selembar kertas yang kemudian ia lepas dengan anggunnya ke JALAN RAYA.
Jalan raya. Besar memang, tapi ini bukan tempat sampah wooy!

Ah, tak habis pikir, seseorang yang tampaknya sudah berjuta-juta kali makan asam garam, tampak cerdas, pekerja keras, dan pintar, ternyata melupakan sesuatu yang apabila itu dicontoh oleh orang yang melihat tindakan sepele itu dan yang mencontoh itu dicontoh lagi oleh yang lain, dan yang mencontoh mencontoh itu dicontoh oleh yang lagi, dan seterusnya sampai terbentuk rantai contoh-mencontoh hal yang kurang patut. Hmm, semoga tak hanya korupsi yang diberantas di negeri ini, namun orang-orang yang tampaknya cerdas tapi berkelakuan kurang cerdas seperti itu…

Mari sama-sama memperbaiki diri dan memberi contoh baik untuk sekitar, sekecil apapun itu!

Seikat Inspirasi dari Isna



Nah, ini adalah alasan mengapa aku sengaja mem-post tulisan tentang anak kecil yang penuh semangat seperti Azra itu. Gadis mungil yang aku temui di Stasiun Tugu.

Sorot matanya begitu jernih, bola mata yang berwarna biru, dengan rambut ikal yang bergoyang kesana kemari ketika tertiup angin. Itu adalah sosok yang aku ingat dari Aisha Delisa, gadis fiktif yang disusguhkan dengan apik oleh Tere Liye. Yang sungguh akan membuat orang terharu ketika Delisa mengucapkan, “Ummi, Delisa cinta Ummi karena Allah”. Maka Meulaboh, tempat tinggal Delisa seolah baru saja mendapatkan karunia terindah sepanjang masa karena memiliki gadis semulia Delisa.

Di novel ada Aisha Delisa, di Stasiun ada Azra, dan di Jakarta ada Isna.

Ini bukan fiktif.
Gadis dengan rambut ikal mengkilat, pun apabila terkena angin akan bergoyang riang seriang gerak lincah kaki-kakinya. Dialah Isna, gadis mungil yang juga masih duduk di Taman Kanak-Kanak, yang memberikan inspirasi berbeda di tempatku sekarang berdiri.

Sederhana saja, secara kasat mata, tak terlalu banyak yang istimewa dari gadis ikal itu. Namun, satu hal sederhana yang membuatku tercengang adalah berikut ini:
Saat itu, kami mengajak gadis itu untuk sholat maghrib berjama’ah, tak banyak bicara, ia pun langsung mengambil mukena ungu kesayangannya di rumah, dan tentu saja meminta izin kepada ibunya. Kemudian singkat cerita, kami pun sholat berjama’ah. Setelah ditutup dengan salam, kami pun mengajaknya bersalaman dan mencoba mengakrabinya, karena aku yakin ke depan akan banyak berinteraksi. Tak lama kita ngobrol kesana kemari, dia pun mengucapkan kalimat yang sungguh membuat bangga dan kagum,

“Kak, belum Astaghfirullohal’adziim…”—artinya belum berdzikir!

Dan, setelah itu, kami pun terdiam dalam ‘astaghfirullohal’adziim’ kita masing-masing.

Sungguh, pesan yang sederhana tapi menggugah dari seorang anak kecil yang usianya jauh di bawah kita.

Cerita Gadis Pinggir Kali



Pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya, aku sudah mempersiapkan semuanya. Mempersiapkan sarapan pagi istimewaku. Seperti biasanya pula, sekitar pukul 8 pagi, sepiring piring kecil dengan lauk berganti-ganti telah menantiku. Ibundaku tercinta yang menyiapkannya.

Ini sekilas tentang aku.

Aku adalah gadis kecil yang hidup bahagia di rumah kecilku, rumah (bukan) idaman banyak orang karena rumahku ini tergolong SSS (Sangat Super Sederhana). Yah, maklum, ayahku kerjanya hanya memunguti botol-botol bekas dan ibuku –ehm, mengupas bawang merah setoran pasar. Rumahku ini terletak di ujung gang sempit ibu kota, yang disampingnya mengalir tenang sungai yang warnanya berubah-ubah menyesuaikan air buangan yang tertampung di dalamnya.

Seperti pagi ini, sungai yang tenang aliranyya ini berwarna putih pekat dengan sedikit rona hitam. Jangan membayangkan sungai ini tak berabau atau bahkan berbau wangi ya. Aduh, aku saja sering melihat kakak-kakak yang lewat depan rumahku hampir selalu menutup hidung. tau kan baunya seperti apa?

Tak hanya dekat sungai, rumah SSS-ku ini dekat dengan tempat sampah, yang biasanya menampung sampah-sampah masyarakat (arti sebenarnya). Aku tidak membenci tempat ini. Terkadang sewaktu senja hadir, aku bermain-main di atasnya, entahlah menemukan atau tidak menemukan apapun. Yang penting aku senang. Pun demikian dengan ayahku, yang kadang sibuk menghabiskan waktu di tempat itu. Bahkan terkadang beliau masih suka asyik di tempat itu.

Dan malam hari biasanya menjadi malam yang cukup sibuk karena ayah dan ibuku biasanya memilah-milah botol bekas di emperan rumah. Ah, daripada mengganggu, mungkin lebih baik aku main saja kalau urusan ini.

Oia, tetanggaku adalah tetangga yang baik-baik. Teman-teman sepantaranku juga. Setiap maghrib datang, mereka berbondong-bondong ke masjid untuk berjama’ah maghribnya. Asyik bukan?

Itulah sekilas tentang kehidupanku.

Kembali lagi ke pagi ini, pagi spesial dengan sarapan spesial. Berlauk tempe greng dengan ukuran jumbo, aku sangat menikmati sarapan ini. Ah, tapi ada si ayam nih di sampingku, sdikit mengganggu memang, tapi apa daya. Dan ada juga tuh si anjing mungil yang dari tadi mengamatiku. Hahaha, aku jadi malu…

#Inspirasi saat berangkat ke tmpat Kerja Lapangan pagi tadi. Seperti biasa, aku selalu melintasi gang-gang sempit itu. Serng mendapat nspirasi dari semua yang aku lewati. Salah satunya gadis itu, gadis pinggir sungai yang aku tak tahu namanya. Gadis dengan rambut pirang alami karena kurang terawat, gadis dengan keseharian suka bermain di atas tumpukan sampah, dan gadis yang senantiasa menikmati sarapan paginya yang spesial di emperan rumah sempitnya. Gadis yang menginspirasi.

6.24.2011

?

Kali ini aku menyerah...
Aku hanya ingin menangis dan mencurahkan semuanya kepada malam.
Aku hanya ingin menangis.
Aku ingin menangis sepuasnya, sepuasnya, sampai air ini kering dan menguap hingga membawa semuanya pergi.

6.21.2011

14 Juni 2011

(Untuk Dede Imas Masudah, Adinda Faradilla, Sri Martina W., dan Sheila)

Ah, memang tidak selamanya apa yang kita anggap baik, dianggap baik pula oleh yang lain. Tidak selamanya, bahkan orang terdekat sekalipun. Salah satunya adalah sahabat. Benar kata Sindentosca, persahabatan bagai kepompong, yang mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Itulah, persahabatan selalu menjadi proses pendewasaan dan pebaikan diri, hingga suatu ketika ia telah menjadi kupu-kupu, ia ingat akan perjalanannya saat menjadi kepompong. Dan bagiku persahabatan layaknya secangkir cokelat hangat di pagi hari. Selalu nikmat, meskipun tak selalu ada suka cita disana. Itu saja. Sederhana. Sesederhana cinta yang hadir melalui senyuman-senyuman mesra mereka, para sahabat. Sederhana. Sesederhana luka yang tergores di lubuk hati terdalam, yang menelusup menyisakan perih, namun, akan segera terobati dengan kerinduan untuk bertemu berbagi cerita. Sederhana. Sesederhana mimpi-mimpi yang dibangun dan jerih payah yang dilakukan bersama. Aku ingin menjadi ini, kamu ingin menjadi itu, dan nanti kita ingin menjadi seperti demikian. Nanti, suatu nanti yang akan selalu ditunggu. Akan menjadi seperti apa kita nanti wahai sahabatku? Ini hanya tulisan sederhana yang ingin coba aku utarakan kepada kalian semua, bahwa aku menikmati semua proses yang kita lalui selama ini, suka duka marah benci senang ricuh ramai galau, semuanya. Aku mencintai setiap proses yang aku lalui bersama kalian semua. Ups, bukan, mungkin lebih tepatnya bahwa AKU MENCINTAI KALIAN, semenyenangkan apapun, sebawel apapun, seramai apapun, semenyebalkan apapun, sejahat apapun, sebaik apapun, sepintar apapun, sekurangpintar apapun, seceria apapun, seperti apapun kalian, AKU TETAP CINTA. Itu saja. Ini hanya ungkapan cinta paling sederhana di dunia, tapi ini sungguh. Suatu saat nanti, ketika kita sudah sama-sama menggendong cucu, aku ingin kalian tetap menjadi SAHABATKU. Sahabat terbaik yang pernah aku miliki.

Apa Kabar?

Ini adalah tentang kerinduan yang hadir begitu saja beberapa hari ini.

Ah, aku sebenarnya malu membuat tulisan ini, apalagi di forum kompasiana seperti ini. Tapi, ini jujur. Bahkan aku ingin agar kau pun turut membacanya dan kemudian segera memberi jawabannya.

Aku pun tak tahu, kenapa sosokmu yang aku pikirkan beberapa sehari kamarin, mungkin karena ini kerinduan yang tidak biasa, yang ada karena telah lama tangan-tangan kita tidak berjabat, bibir-bibir kita tak saling bercerita berbagai kegalauan, atau kaki-kaki kita yang tak menapak bersama demi sebungkus nasi kucing di angkringan depan itu. Ah, mungkin saja.

Ini bukan kerinduan yang aku buat-buat. Aku sudah lama tak mendengar kisahmu, sahabat… Bagaimana kabarmu di tanah rantau itu? Amanahmu masih undercontrol? Kos baru gimana? Kapan rencana lulus? Ah, bahkan kau tak pernah lagi membalas sms ku yang ‘basa-basi’ atau sekedar memberi kabar lewat facebook?

Jika kau tahu, aku begitu ingin berlibur bersama di kotamu itu, barang 3-4 hari. Tentu saja bersama denganmu. Sudah terlintas di kepalaku saat-saat kita makan di cafe jadul di sudut kotamu, atau hanya berjalan kaki menikmati sore khas di kotamu, atau sekadar berfoto bersama di depan mall-mall megah kotamu…

Satu yang terlupa, apakah kau masih seperti dahulu?

Sosok yang begitu mengagumkan kecerdasannya, yang begitu menyenangkan celoteh-celotehnya (namun kadang pedas menggigit), yang begitu rapuh ketika masalah datang bertubi-tubi, yang suka salah tingkah kalau bertemu dengan Mr. X yang ga habis-habisnya anak-anak ‘jodoh2in’… Haha, apakah kau masih seperti itu, sahabatku?

Sekali lagi, ini jujur. Bahwa aku rindu…

6.10.2011

Pagi ini Spesial!

Pagi ini luar biasa. Sungguh. Aku benar-benar mendapati alam begitu bersuka cita dan aku pun ikut bersuka cita karenanya.
Pagi ini, ya, pagi ini langit begitu bersih, biru membiru. Dan seakan kapas-kapas lembut beterbangan di sela-selanya. Kapas putih yang suci, tak terkotori oleh apapun. Sungguh, pemandangan yang luar biasa mengagumkan. Untaian kapas itu seakan ditiup lembut oleh sang bayu dan melukiskan kebijaksanaan pagi. Siapa yang melihatnya seketika itu juga akan mengaguminya.

Untaian tasbih yang terucap rasanya tak akan cukup untuk menyuarakan kekagumanku akan ciptaanNya ini. Kekaguman yang tak terbendung, hingga senyuman pun tak pernah lekang dari wajahku dan tentunya sahabat-sahabatku itu.

Inilah pagi yang teramat istimewa.

Gunung yang kokoh berdiri kokoh bak tiang-tiang penyangga itu pun turut mewarnai pagi ini. Dengan asap yang mengepul lembut dan mengisi ruang-ruang kosong lembah. Terlukis lembut bersama awan menggambarkan betapa alam ini megah, super megah. Lebih megah daripada gemerlap lampu-lampu kuning jalanan ibukota ataupun lampu-lampu kafe. Iya benar, alam ini begitu megah. Maka seketika itu juga kita akan mengagumi kemegahan alam ini.

Inilah pagi yang terlanjur spesial.

Tak ditutupi, pagi ini terlanjur spesial untuk orang-orang yang menikmatinya. Siapapun. Pagi ini menghilangkan semua kesedihan, meringankan semua beban, dan memberi kehangatan bagi jiwa-jiwa yang beku oleh dunia.

Pagi ini spesial.

http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/06/10/pagi-ini-spesial/

5.31.2011

Terkadang Demikian.

Terkadang gadis belia itu merasa harus menjadi orang paling sabar sedunia karena begitu banyak himpitan di kanan kirinya. Tetapi sebenarnya lebih banyak yang harus lebih sabar dari orang-orang di dunia karena himpitan yang lebih menghimpit di kanan kiri depan belakang. Dan benar, kesabarannya belum ada apa-apanya dari orang-orang di seluruh dunia. Dan semua hal di kanan kirinya yang dirasa menghimpitnya, ternyata hanyalah nyanyian pengiring sore yang membawa pelajaran.

Terkadang gadis belia itu merasa harus menjadi orang paling bijaksana sedunia entah karena apa. Tetapi sebenarnya tak ada sedikitpun kebijaksanaan yang ia berikan kepada dunia. Terlalu banyak orang di dunia ini yang lebih bijak dalam banyak hal atau bahkan ia tidak bijak sama sekali.

Terkadang gadis belia itu merasa menjadi orang yang paling harus memikul beban di seluruh dunia. Padahal apa sih beban yang ia pikul? Bukankah balita-balita di palestina itu telah berani memegang pedang demi mempertahankan keluarganya? Dan benar, sebenarnya tak ada beban apapun yang sedang ia pikul.

Terkadang gadis belia itu merasa bahwa ia perlu istirahat dari semua ini karena kerja keras yang sudah ia lakukan. Padahal di sampingnya ada pekerja tangguh yang pekerjaannya lebih keras dan lebih menjenuhkan. Istirahat seperti apa yang ia minta? Ah, ternyata benar lagi, bahwa selama ini ia tidak bekerja apa-apa.


Si gadis belia itu memang masih belum banyak belajar. Selama ini ia merasa bisa banyak belajar, padahal pelajaran apa yang sudah ia dapatkan? Nol Besar bukan?

Ya Allah, ternyata gadis itu sungguh membutuhkan bimbinganMu.

5.28.2011

Bolehkah Sedikit 'Jenuh'?

"Ya Allah, Kau adalah segalanya. Dan aku tidak memiliki yang lain. Tidak.". Itulah kata-kata mujarab yang mampu menepis semua kegalauan yang hadir. Yakin bahwa semua akan baik-baik saja karena sudah ada pengaturan yang maha sempurna oleh Sang Pengatur. Keyakinan itu akan mengobati segala keraguan, mengobati ketika kejenuhan datang, dan mengobati sejuta kerinduan.
Pada intinya, tidak boleh jenuh dan proses ini harus dinikmati dengan senikmat-nikmatnya. Proses ini adalah layaknya coklat hangat di pagi hari yang disajikan bersama brownies dengan coklat meleleh di dalamnya. Itu saja. Nikmat bukan? Nikmat di awal dan nikmat di akhir. Meski perih, pahit, dan payah, semua akan terasa nikmat.

Aaah, seandainya saja di hadapanku adalah tempat seperti itu... Tenang saja, karena jannahNya pasti jauh lebih indah dari itu... :D

5.24.2011

Oooooh, Pagi ini Dahsyat!

Subhanallah...
semburat jingga dari arah timur seakan tak tahan menyuguhkan senyum termanisnya, mempesona, sungguh. Diselimuti biru yang lembut menentramkan.
Langit begitu jernih pagi ini. Alhamdulillah,karena seorang teman memintaku mengantarkannya ke bandara, aku jadi bisa menikmati pagi ini dengan sepuasnya.
Angin pun sejuk sekali, berbeda dengan 2-3 jam setelah ini.
Pun suasana pagi semakin diramaikan dengan orang-orang yang sudah mulai beraktivitas masing-masing. Tak peduli langit masih gelap, yang mereka tahu bahwa mereka harus mencari uang untuk makan keluarganya.
Ah, itulah mengapa aku bilang pagi selalu hangat dengan kehadirannya yang mesar membawa kebijaksanaan.
Karena pagi ini, pagi mengajariku banyak hal.

5.15.2011

Sedikit Ingin Berujar: Untuk KALIAN, Guys!

MICROFEST2011. Ini adalah hal yang menjadi perhatianku beberapa bulan terakhir. Akhirnya, hari-hari yang dinanti pun datang tanpa diundang. Sungguh, banyak kegalauan di sana-sini berpikir apakah acara ini akan sukses, banyak pesertanya, atau cukup dananya? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering menghantui tiap malam, pagi, maupun siang. Mendengarkan keluhan sana sini, merumuskan hal-hal urgent malam hari, rapat sampai panas dan berlarut-larut, benar-benar membuatku belajar banyak hal. Tentang bagaimana menjadi pemimpin seharusnya, tentang bagaimana menyikapi sesuatu dengan menyeluruh dan bijaksana, dan merencanakan sesuatu beserta pernak-perniknya...
Demikianlah, terkadang memang sulit mencapai suatu tujuan yang kita mimpikan, banyak tahapan yang harus dilalui. A-Z harus dipikirkan dengan matang, belum lagi hubungan antara komponen A-Z itu, jangan sampai ada miss disana-sini.
Yang jelas, aku tahu, kerja keras luar biasa dari sahabat-sahabat Mikrobiologi UGM, sungguh patut diacungi jempol sebanyak-banyaknya...


Namun, satu hal yang menjadi garis bawahku untuk kera-kerja ke depan:
MARI BEKERJA DENGAN HATI... :D


Dan yang pasti, dalam semua hal, Menjadilah BERANI seberani karang menghadapi ombak, namun tetap Menjadilah tenang, setenang senja yang membawa perubahan, dan menjadilah hangat, sehangat pagi yang hadir mesra menyuguhkan kebijaksanaan...

4.15.2011

Sore, Terima Kasih!

Sungguh, aku rindu berlarian di tengah hujan. Sore ini gelap, sungguh gelap. Namun, aku tetap suka sore. Aku suka sore karena dia akan mendengarkan kegelisahanku hari ini, dia akan memeluk kelelahanku hari ini, dan dia akan memarahiku ketika aku tak berguna hari ini.
Sore itu kawan baik yang akan ikut bersedih ketika mendengar cerita sedihku sore ini, yang senang ketika melihat kegembiraan terpancar dari senandung-senandung sore ini, yang bahkan turut menangis meskipun air matamu tak pernah tumpah...

Sore ini, ya benar, sore ini aku ingin menumpahkan semuanya kepadamu wahai sore yang selalu tenang...
Aku ingin menjadi setenang engkau, yang kau tau hanyalah bersujud kepada Rabb Yang Maha Agung, Allah Swt. Yang kau tahu hanya itu bukan?
Sungguh, bukankah kita seharusnya tak pernah merasa gelisah dengan apa yang sedang kita hadapi? Dari mana kegelisahan itu?
Aku malu wahai sore, aku malu karena aku tak bisa sepertimu yang selalu menghadapi semuanya dengan tenang, dengan selalu bersujud kepada Rabb mu yang teramat sangat engkau cintai...

Sebenarnya dari mana kegelisahan itu hadir? Dari setan bukan? Jadi apakah aku boleh mengikuti kegelisahanku ini? TIDAK bukan?
Iyaa, aku tidak boleh menuruti kegelisahan karena apa yang sedang aku hadapi ini. Aku hanya boleh menghadapinya dengan senyuman dan ketenangan seperti yang engkau miliki.

Wahai sore yang selalu tenang, terima kasih karena kau selalu mengajarkan keikhlasan. Kau tak pernah berontak ketika orang-orang mencercamu dengan segala rupa cercaan. Kau tetap tenang, kau tetap tunduk, kau tetap BERSUJUD... Dan kau pun akan tetap istimewa di hadapan Allah yang selalu mengajarkan ketenangan padamu, padaku, dan pada semua makhluk.


Untuk sore dan segalanya tentang sore ini.

3.19.2011

Bicara tentang Hidup?



Bukankah hidup memang selalu penuh dengan tanda tanya dan pencarian jawaban atas pertanyaan itu.
Bukankah terlalu sering kita mempertanyakan keadaan hidup kita, apakah bahagia? apakah cukup? dan apakah-apakah yang lain.
Ada yang bilang bahwa hidup ini adalah perjalanan mencari kebahagiaan sekaligus kehilangan kebahagiaan yang lain.
Ada pula yang mengatakan bahwa kita hidup tak akan pernah menanam apapun dan tak akan pernah kehilangan apapun.
Begitulah, orang selalu berbeda-beda dalam menyikapi hidup.
Seperti yang aku katakan, hidup memang selalu penuh dengan tanda tanya, oleh karena itu manusia dibekali akal oleh Allah Yang Maha Kuasa untuk mencari jawabannya.
Dan ketika satu jawaban telah ditemukan, akan selalu ada pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang menyusul. Begitu seterusnya hingga terjadi siklus kehidupan yang selalu membuat orang belajar tentang bagaimana menjadi bijaksana.
Bukankah perjalanan manusia nantinya akan membawa kita pada suatu kebenaran yang hakiki, jawaban atas semua pertanyaan. jawaban di atas semua jawaban.
Ya, kebenaran yang hakiki mungkin belum kita temukan saat ini, tapi suatu saat nanti, ketika pintu-pintu langit telah terbuka, dan semua pertanyaan akan terjawab. tanda tanya akan lenyap. Pada suatu ketika yang dinanti.
Maka berjalanlah di muka bumi ini dengan rendah hati, berjalanlah dengan kebenaran yang engkau yakini, berjalanlah menuruti kata hatimu, berjalanlah hingga hari-hari terang mereka bicarakan itu datang...

3.08.2011

Aku Ingin Seperti Anak-Anak Kecil Itu...

Selalu ada banyak hal-hal menarik yang menyenangkan di luar sana. Selalu ada banyak hal-hal yang menentramkan di luar sana. Termasuk dengan menatap rembulan misalnya. Hmm, paling tidak itu yang aku dapatkan dari "Rembulan tenggelam di Wajahmu", novel karya TereLiye yang dahsyat.
Atau dengan fotografi, seperti yang sangat disukai teman-teman.
Yang lain mungkin dengan menulis, mungkin. Karena menulis bisa mengalihkan duniamu. Menulis adalah obat manjur untuk hati yang gulana atau terlalu bahagia.

Allah memang selalu memberikan keseimbangan di setiap ciptaanNya bukan?
Ketika sedih, maka selalu ada pelipur lara yang bisa menghilangkan kesedihan itu.
Pun ketika sakit, maka Allah juga akan memberi obatnya.

Allah juga menjadikan langit agar ia bisa menjadi penyejuk hati anak manusia yang selalu 'sibuk' dengan urusan-urusan yang melenakan. Agar kembali ingat tentang Penguasanya.
Ya, ternyata bagiku langit adalah hal yang menyenangkan yang aku bicarakan di depan tadi. Langit selalu menentramkan. Langit adalah teman bercerita, pendengar setia.

Namun, ada yang lebih menyenangkan dari menatap langit. Adalah anak-anak, yang selalu menggairahkan untuk diamati lekat-lekat.
Karena keceriaan mereka spanjang hari, bahkan tangis mereka, adalah tanda penerimaan yang luar biasa terhadap segala nikmat yang diberikan kepada mereka.
Anak-anak tak pernah peduli berapa pun teman yang dipunyainya, yang ia tahu bahwa ia sedang bahagia.
Anak-anak tak pernah peduli berapa kali ia terjatuh karena bermain, yang ia tahu bahwa ia sedang bahagia.
Anak-anak tak pernah peduli berapa kali ia dipelototi tetangga karena keonaran yang dibuatnya, yang ia tahu bahwa ia sedang bahagia.
Pun, anak-anak tak peduli berapa banyak tepuk tangan yang diberikan orang-orang ketika ia sedang ikut lomba menyanyi, yang ia tahu bahwa ia sedang bahagia.
Bahkan ketika ia menangis ketika ditinggal jauh oleh teman-temannya, ia hanya menangis karena takut, dan setelah menangis ia pun bahagia kembali.

Aku ingin slalu bahagia seperti mereka, seperti anak-anak kecil di serambi masjid itu...

Hanya Ingin Menatapmu Lama

Boleh tidak, kali ini aku sedikit tidak bersahabat kepada sekitar?
Mungkin mereka semua justru balik bertanya, memang kamu sudah bersahabat dengan sekitar?

Aaaah... Aku bingung...
Bahkan aku bingung dengan apa yang sedang terjadi saat ini, aku sendiri bingung dengan perasaan ini, perasaan gelisah tak menentu, yang semakin aku cari tahu, aku tak temui jawabnya.
Lagi-lagi, aku ingin minta maaf kepada sapaan lembut matahari, angin mesra pagi hari, dedaunan nan menghijau, dan segala yang menyambutku hari ini dan beberapa hari sebelumnya...
Ya Allah... maafkan hamba...

Apakah ini yang dinamakan futur? Tak bersemangat dalam banyak hal?
Ah, aku pun bingung...
Slogan yang biasa aku pakai, "tenang dan tersenyumlah" rasanya tak berarti.

Sebenarnya, apa yang ingin langit ceritakan kepadaku? Apa maksud di balik semua ini?
Maka, jika aku diberi kesempatan menatap langit hari ini, aku ingin menceritakan semuanya... Aku rindu menatapnya lama.
Dan semoga aku temui jawabnya.

3.01.2011

bingung mau nulis apa

Melamuni sore memang menyenangkan. Apalagi di jalanan yang tak pernah sepi itu. Berbagai cerita selalu dihadirkan jalanan ketika akan menjemput gelap sang malam. Jalanan yang mungkin akan aku ingat bertahun-tahun ke depan.
Orang-orang beramai-ramai mengurusi urusannya masing-masing yang tak kunjung usai. n
Begitulah... kelelahan bisa terobati dengan memperhatikan sekitar...
Ahhh...

2.10.2011

Yeee, aku juara dua!

Senyuman itu masih aku ingat jelas, sebuah senyuman dari seorang anak keren, yang luar biasa itu, di sebuah perlombaan menyambut 'tujuhbelasan'.
Lomba makan krupuk, lomba yang sangat umum dan udah dari jaman dulu kala, tapi masih eksis di kalangan masyarakat Indonesia.
hmm, kali ini kategori anak, yup, lima anak berbaris rapi itu telah siap sedia ikut berlomba, krupuk kuning telah terpasang dengan indahnya, dengan sehelai tali rafia mengikatnya, siap!
Lomba pun dimulai...
Hap-Hap-Hap, mleset, kena, mleset lagi, hap! Kena!
semakin dimakan, semakin berjingkat (jinjit-red)...
Mulut menganga disertai juluran lidah, eiitss,,, tangan ga boleh ikut...
Ga lama setelah lomba dimulai, eh, udah ada yang abisss... Yup, juara 1 dapet!
lomba berlangsung lagi,, makin alot!
Hap! Si anak keren tadi ternyata sudah menghabiskan jatah kerupuknya...
Hanya senyuman dan lompatan-lompatam kecil yang mengekspresikan kemenangannya...
"Yeee... aku juara dua!" mungkin begitulah eksperesi hatinya saat mendapat nomor 2 di kompetisi kerupuk itu... Semangat luar biasa yang dihadirkan si anak keren yang juga luar biasa ternyata membuat banyak orang ikut tersenyum dan bangga dengan si anak...


Senyummu benar-benar mengalihkan duniaku sobat!


*sebuah inspirasi sore dari pitulasan.

Jenenge Wong Ndeso

Subhanallah.. Malam ini begitu berharga pelajaran yang aku dapatkan,jd ingat sebuah m0tivasi yang q dptkan brsama tman2 kamis lalu, bahwa manusia adalah pembelajar sampai kapanpun.. Hmm.. Dan hikmahpun tercecer dimana-mana.. Terbingkai apik dgn ornamen2nya.. Malam ini,mgkin baru 1 jam an yang lalu,aku ikut serta dalam aksi cuci piring bersama setelah acara mendak 1 tahunan mbah putri, doa bersama u/ mendoakan ibu dari ibuku,agar dilapangkan kuburnya dan diberi tempat terindah di sisiNya.. Amiin..
Kembali lagi-- jenenge wong ndeso, setiap orang pasti ingin ikut serta dalam pekerjaan apapun kalo ada 'w0ng duwe gawe'.. Dalam hal ini salah satu pekerjaan utamanya 'isah-isah' (cuci piring).. "jenengan geser,kula tak sing nyabuni" "mpun,mboten sah, jenengan ngurusi sanesipun maw0n, isah2e beres"
yaa,begitulah sdkit cuplikan pckapan ibu2 paruh baya itu.. Bkan brarti mau rebutan kerjaan,tapi rasa ingin 'ngrewangi' itulah yang ada.. Mungkin tak tega ketika melihat sodara2nya yang harus j0ngkok, ngurusin yg kotor2, dll.. Jenenge w0ng ndeso,ga isoh nt0n k0nc0ne susah..
Satu lagi,mereka baru akan mengisi perut setelah pekerjaan itu selesai.. G0ng e ngunu..

Peninggalan saat Pelangi dulu...

Ini bukan tentang mewujudkan proker-proker departemen saudaraku, tapi ini tentang mewujudkan tali ukhuwah yang semakin kuat di antara kita.
Ini bukan tentang menarik jumlah peserta acara yang banyak, tapi ini tentang saling menghargai saudara kita.
Ini bukan tantang megahnya sebuah acara, tapi ini tentang megahnya senyuman hangat yang kita persembahkan untuk saudara kita.
Ini bukan tentang aku jalan dan kamu tidak jalan, tapi ini tentang bagaimana aku bisa menggandengmu untuk berjalan bersama denganku.
Ini bukan hanya tentang tanggung jawab yang kita pikul di pundak-pundak kita, tapi ini tentang bagimana kita bisa menjadi sandaran pundak teman kita yang kelelahan.
Ini bukan tentang kelelahan kita saja, tapi ini tentang mengobati kelelahan saudara kita dengan uluran tangan yang kita berikan untuknya.
Ini pun bukan hanya tentang banyaknya keringat yang kita keluarkan demi berlangsungnya sebuah acara, tapi ini tentang banyaknya keringat yang keluar untuk membantu saudara kita...


Sekali lagi, ini semua tentang kita, yang sedang belajar bersama.


*untuk Kalian yang tak kenal lelah ^_^

2.09.2011

Eh, Ada Sekaten!

Segala rupa hiburan ada di sini. Di sebuah event tahunan bernama 'sekaten' yang digelar di alun-alun utara Yogyakarta. Ah, menyenangkan sekali berada di tengah kerumunan orang-orang dengan wajah-wajah sumringah ini. Yaaa, sumringah menyambut sebuah pesta rakyat yang meriah tiada tara.
Pelataran alun-alun utara pun disesaki dengan orang-orang yang berusaha mengais keberuntungan dengan berjualan aneka rupa jajanan, mainan anak kecil, hingga pelayanan jasa berupa wahana permainan.
Aduhaii, kapan lagi bisa menikmati ini semua secara lengkap kecuali bukan di sekaten.
Layaknya sore tadi, menemani tiga orang sahabat yang sedang berkunjung ke Jogja, kami pun mencoba menjejakkan kaki di sekaten dengan hati riang gembira.
Dengan bermodal dua ribu perak per orang, kami pun melangkah pasti menuju pusat perhatian warga jogja beberapa minggu terakhir ini.
Disambut dengan murotal yang indah dari loadspeaker yang dipasang tinggi dengan tiang bambu.
Subhanallah... teduh jadinyaa...

Berjalan lagi, dan akan semakin banyak ditemui hal-hal baru khas Indonesia...
komidi putar, ombak laut (mainan juga) yang digerakkan sekumpulan remaja- seperti tarian-tarian, tongsetan, rumah hantu, kerak telor khas betawi, cilok, gudeg jogja, baju irfan bachdi*, barang-barang serba 1.000 atau serba 12.000, hingga tempat rokok plus korek apinya. Ah, dahsyat pokoknyaaa...

Yang menarik lagi, setiap orang yang di sana berusaha bagaimana caranya memeriahkan acara ini dengan keunikannya masing-masing. Salah satunya adalah penjual es goreng yang 'beken' itu, yaaa, beken gara-gara kemampuannya bermain kata dalam menawarkan es goreng kepada pengunjung. Dengan sedikit bantuan microphone, es goreng pun sukses membumi di sebagian alun-alun lor. Ah, begitulah, cara menghidupi keluarga yang unik...

Ada lagi, lelaki paruh baya yang entahlah apa tujuannya berdiri di tempat itu (dan tidak pergi-pergi). Apa yang beliau lakukan? Sederhana. Hanya meniup gelembung udara dengan alat sederhananya. Hanya itu. Dan berkali-kali. Aku pikir awalnya "Oh, pedagang mainan anak kecil", tapi kemudian "Mana dagangannya yang lain?". Hmm, aku sudah bisa menyimpulkan seketika itu juga, diselingi canda tawa anak kecil manis yang dengan cerianya menangkap gelembung-gelembung itu.

Lagi, mas-mas penjaga sebuah wahana yang masih 'sepi' itu. Mungkin karena sepi atau saking enaknya musik yang diperdengarkan speaker, badannya pun bergerak-gerak mengikuti alunan musik itu. Menghibur diri atau pun menghibur kawan-kawannya.

Lain anak muda lain lagi bapak yang satu itu. Beliau adalah penjual sebuah alat kesehatan yang entah apa namanya, yang jelas untuk kepala, mungkin untuk metode pijat kepala secara sederhana. Mungkin. Tapi bukan itunya. Yang penting adalah senyumannya. Senyuman yang begitu ikhlas dihadirkan menggoda anak kecil yang mendatanginya. Hanya sebuah senyuman, yang cukup untuk meluluhkan hati anak manusia...


Tu kan? Apa kubilang? Setiap orang punya cara sendiri untuk membahagiakan saudaranya bukan?

2.06.2011

I Love Sukoharjo Makmur!

Sudah sejak usia 2 tahun aku tinggal dan besar di sebuah kabupaten di Selatan Solo, bernama Sukoharjo. Usut diusut, Sukoharjo termasuk kabupaten yang luas wilayahnya sempit di provinsi Jawa Tengah, ya biar keren kita sebut saja Sukoharjo dengan kota kecil lah yaaa... Sekarang aku begitu senangnya menyebut kota makmur ini ketika di perantauan. Hahaha... Dan, selalu ada penyambutan sederhana ketika memasuki kota kecil ini:

ah, senang sekali rasanya... Meskipun tak banyak tempat wisata seperti di kota-kota lain (bahkan kota tetangga), tapi aku bangga dengan Sukoharjo makmur.
Makmur tak sekedar makmur lho...
M = Maju
A = Aman
K = Konstitusional
M = Mantap
U = Unggul
R = Rapi
Hahaha, masih inget waktu SMP dulu sempat diajarin nyanyi lagu Sukoharjo Makmur.

Kenapa aku ingin menulis tentang kota yang mana paling banyak dijumpai lahan persawahan di daerah ini?
Yaa, karena kemarin, aku merasakan feel Sukoharjo lagi...

Ketika mencari-cari rumah seorang sahabat di daerah Mulur, menikmati pemandangan kanan kiri yang begitu menyenangkan dan diselingi dengan senyuman ramah orang-orang yang berpapasan.

Ketika menyusuri jalanan di sepanjang rel kereta api. Ah, bunga warna-warni ikut mengindahkan sore itu. Rel beralih fungsi menjadi tempat 'angon wedhus', artinya mengembalakn kambing oleh seorang nenek yang sudah berusia senja. Hati ikut damai ketika menyaksikan damainya sang simbah mengembalakan peliharaannya.
Melewati jalanan sepanjang rel itu, jadi ingat waktu mbolos TPA saat duduk di bangku sekolah dasar dulu. Ga jadi TPA, malah sepedaan... Hahaha...

Ataupun ketika menyaksikan stasiun bertuliskan 'Sukoharjo' yang sedang mulai dibangun. Ah, nanti mungkin saja aku bisa naik kereta dari Jogja ke Sukoharjo. Aku akan turun di stasiun ini.

Sukoharjo, oh Sukoharjo...
I Love Sukoharjo Makmur!

1.31.2011

Sahabatku, Kamu tidak Lupa kan ya?

Kamu memang salah satu yang sangat aku tunggu ucapannya ketika usiaku beranjak ke 19. Iya, aku tidak berharap kamu telat mengucapkan lagi seperti tahun kemarin. Aku justru berharap kamu menjadi yang pertama mengucapkan.
Sahabatku, kamu kenapa? Kamu tidak lupa kan ya?
Jujur saja, aku sempat marah dan kecewa sekecewa-kecewanya karena hal itu. Sepele memang. Akan tetapi, aku telanjur menganggapmu begitu istimewa. Diam-diam, aku kangen jalan bersama denganmu menelusuri jalanan di kota Solo itu, dari SGM sampai gramed. Diam-diam lho. Mungkin kamu tidak menyadari hal itu.
Ah, mungkin saja kamu sedang sibuk, karena masa-masa sekarang nampaknya kamu sedang sangat sibuk dengan aktivitas kampusmu. Iya kan?
Yang jelas, kamu tidak lupa kan ya?
Kamu hanya belum mengucapkan secara langsung saja kan ya?
Semoga kamu baik-baik disana sayang… Aku akan tetap meminjamkan pundakku untuk tempat bersandarmu ketika kau butuh. Tapi tolong jangan hanya datang kepadaku ketika kamu butuh saja yaa… Datanglah kepadaku kapanpun dan berikan senyuman terhangatmu itu hanya untukku. Salam rindu dan cinta dari Jogja untuk Bandung.
(30102011, kontrakan)

Tanggal 19 Itu, Tepat Aku 19 Tahun


Tinggal 1 tahun lagi aku berkepala dua. Ya, aku sudah 19 tahun sekarang. Satu tahun ini mungkin banyak aku habiskan untuk rapat, syuro’, minta tanda tangan, dan sebagainya. Banyak sekali waktu-waktu berharga dalam rentang miladku yang ke-18 menuju ke-19. Banyak juga kejutan-kejutan indah dari Allah Swt., yang ternyata membawa perubahan besar dalam kehidupanku. Allah memang selalu baik kepada setiap hambaNYA. Di perjalanan menuju 19-ku, aku telah bisa mengendarai motor dengan baik dan benar di jalan raya. Awalnya sepele, mencoba menaiki motor mio milik salah seorang sahabat, berlanjut ingin belajar meskipun sedikit demi sedikit, lalu keadaan memaksaku untuk mengendarai motor bahkan dengan membawa nyawa lain. Di jalan raya pula. Hahaha… Puncaknya adalah saat masa-masa sebelum idul adha, aku banyak sekali belajar membawa motor saat itu, dengan segala tantangannya. Keadaan memang terkadang membuat seseorang menjadi kuat. Ups, bukan! Lebih tepatnya adalah bahwa islam mendidik seseorang menjadi kuat. InsyaAllah… Itu hikmah pertama yang semoga menjadi bekalku di 19 ini. Aaaamiin…
Sebentar, baru saja aku meneguk teh yang sudah agak hilang hangatnya, akan tetapi tetap terasa nikmatnya. Seperti sebuah persaudaraan islam yang aku dapatkan di perjalanan menuju 19-ku. Meskipun tidak terangkum dalam satu lembaga lagi, nikmatnya ukhuwah masih tetap aku rasai hingga detik ini. Indah, seperti warna pelangi sore hari di balik bukit hijau. Itulah ukhuwah, tak menuntutmu lebih, justru ia menenangkan hatimu dan menguatkanmu untuk selalu istiqomah. Cukup dengan senyuman hangat dan jabat tangan erat ketika bertemu. Hikmah kedua, peliharalah ukhuwah maka hatimu akan tenang dan istiqomah. Semoga juga menjadi bekalku di 19 ini. Aaaamiin…
Jadi teringat waktu itu, saat hanya ada aku dan Pemilikku. Hanya ada aku dan Allah. Waktu itu adalah waktu yang paling berharga selama perjalanan hidupku. Ya, waktu itu. Aku akan mengingat waktu itu. InsyaAllah. Karena waktu paling berharga itu, karena pengalaman-pengalaman yang aku jalani, sekarang aku tahu dan benar-benar tahu, bahwa menggapai cinta Allah sama saja dengan menggapai cinta yang lain. Karena dengan menggapai cinta Allah, maka dunia dan seisinya akan mengikutimu. Sungguh, cinta Allah adalah tujuan utama hidup mati kita. Semoga juga menjadi bekalku di 19 ini. Aaaamiin…
Cita-citaku untuk banyak berorganisasi pun terlaksana di usia 18 tahunku, 3 amanah aku jalani secara bersamaan. Aku telah mencoba menjalaninya secara all out, jadi apapun hasilnya menurutku itulah yang terbaik. 3 amanah itu pun akhirnya selesai, namun sepertinya aku masih harus belajar banyak, sehingga Allah memberiku amanah yang baru. Hmm… Semoga aku dapat menjalani dengan baik, menjadi pemimpin yang baik bagi teman-teman terbaikku. Aaaamiin…
Aku sekarang adalah perajut mimpi. Aku telah mempunyai impian-impian untuk masa depanku kelak. Semoga Allah meridloi. Aaaamiin…
Sudah ah, itu dulu. Yang jelas terimakasih untuk ‘Rembulan Tenggelam di Wajahmu’ ya Vidiots dan kawan-kawan buat dedek bontot, juga untuk pembungkusnya yang ‘lucu’ (hahaha), juga untuk blackforest ‘asin’nya, dan untuk ‘telur-minyak-air’nya yang bikin amiissss… Luph u full…
Untuk bapak, ibu, mb tika… Ah, selalu banyak cinta dari kalian buat ‘adek’. Terimakasih, dan ini satu kecupan hangat untuk kalian. ^o^ hehehehehe…
dan untuk semua sahabat... kalianlah yang selalu membuatku tersenyum...
(30102011, kontrakan)

1.29.2011

Dalam Cerita: Jogja, Blitar, Malang #1

Tanggal 20 Januari 2011, satu hari setelah aku genap berusia 19 tahun.
Malam itu adalah saatnya technical meeting perjalanan esok hari, perjalanan yang sudah direncanakan seperti ini:

hahaha... ribet, ruwer, dan rumiit banget pembahasan piknik kita kali ini (agak berlebihan). Tapi, itulah seninya...
Dan besoknya kita akan segera merealisasikan impian kecil kita itu. Mobil punya Bpaknya Rena sudah siap dipinjam, rumahnya apalagi sudah siap untuk dijadikan tumpangan. Pun begitu dengan rumah dindud. Yess... Alhamdulillah...
Sejauh ini lancar, tinggal packing dan besok pagi berangkat pagi2 bener naik kereta ke blitar, tapi sebagian langsung ke Malang.
Hmm, tapi ada sedikit yang mengganjal di hati.
Sore sebelum TM malam ini, singkat cerita, kami (aku dan uneng) tidak diizinkan untuk meninggalkan agenda yang penting esok harinya. Awalnya kita tidak terlalu ambil pusing, toh kita juga sudah pernah meminta izin ke yang lain (mungkin beliau tidak tahu). Karena masih ada yang mengganjal entahlah, kami meminta izin lagi melalui sms (dengan nada memelas), ups, justru makin membuat tidak enak hati meninggalkan pelantikan saudara seperjuangan kita. Pedes deh.
"Aku udah ga bisa neh kalo kayak gini, mending aku nyusul aja berangkatnya," kira-kira seperti itu perdebatan kita malam itu. Udah ga tenang

Akhirnya, kita memutuskan untuk menghadiri pelantikan dan nyusul ke Blitar pake bus.
Dan semakin banyak cerita karena itu...
nekat, nekat wes... hahaha...

Esok harinya, 21 januari 2011 (Hari Jum'at yang penuh berkah).
Hadir ke palantikan dan mengejutkan orang-orang,
"Lhoh,kok ga jadi berangkat e kalian???"
Dan kami hanya menjawabnya dengan isyarat-isyarat penuh arti... haha...

Siangnya, dengan diantar dua sahabat, kami pun melaju ke Giwangan, mengawali perjalanan "nekat" menyusul rombongan menuju Blitar.
Arahan sudah jelas dari rena dan tambahan dari rosi sebagai wong Nganjuk.
"Naik bus Sumber K******, turun nganjuk, ganti bus Kawan K*ta ke arah Blitar, ganti lagi.... bla, bla, bla....
Tapi, arahannya lalu berubah, lebih simple.
Jogja-Kertosono-Tulungagung. Yeaaaahhh... lebih mudah nampaknya.
Ok, kami memutuskan naik bus MIR*, setelah sebelumnya mengira bapak-bapak pemberi kartu langganan (kartu diskon) sebagai calo. Hahaha, parah!
Bapaknya sampai bilang, "Ojo, ojo, mbak e wedi kui lho," Waduuuh, maafkan aku pak...
Dan kami juga sudah berpesan ke pak kenek untuk diturunkan di Kertosono. Setelah itu, setiap ada pemberhentian, kami selalu tanya "Kertosononya pak?". Memalukan, kuliah sudah di tingkat 3, belum ngerti juga gimana bepergian jauh.
"Liat di tiketnya itu mbak, ada..." Bapaknya menjawab dengan nada sudah bosan karena kami tanyai berkali-kali...
Dan seterusnya sampai akhirnya tiba di Kertosono, arahan dari pak Kenek yang baik hati sudah sangat jelas sampai ke tarif busnya. Tenang sekarang...
Blitar telah menanti...