11.13.2010

Begitu Hangat

… Patrick dengar aku, ini aku spongebob, aku butuh bantuanmu…
Itu adalah nada dering handphone-ku untuk panggilan masuk dan untuk alarm. Meskipun suara si spongebob sudah sangat lantang, tetepi biasanya aku tidak terpengaruh. Tetap saja mendengkur, terlelap dalam indahnya pulau kapuk. Padahal dua waktu saat nyawa kita ada di tangan Allah adalah saat kita mati dan tidur. Bedanya, saat tidur Allah akan mengembalikan nyawa kita lagi ke dalam raga. Itulah mengapa sebelum tidur kita dianjurkan berdo’a, mendekat kepada Allah, agar Allah meridloi tidur kita.
Huuff… Rasanya sulit sekali bagiku untuk mengerjakan hal sederhana seperti itu. Padahal Allah begitu baik karena masih memberi nafas di hari kemudian, masih mengembalikan ruh ke dalam raga. Pun beberapa hari ini, rasanya suara spongebob yang ‘menganggu’ karena agak cempreng itu terasa tidak cempreng lagi. Namun, bukan masalah cempreng atau tidak cemprengnya, tapi ini tentang bagaimana Allah begitu baik mengembalikan kesadaran hambaNya yang satu ini. Allah membangunkanku dengan cara yang begitu hangat. Pun aku kembali mendengkur.
Ya Allah, maafkan hamba.
(13112010-kontrakan)

Sudah Jam Dua Siang

Itulah ibuku. Wanita yang selalu membuatku bangga dan bersyukur karena aku selama 9 bulan lebih berada di rahimnya yang suci mulia. Yang oleh Allah Swt. dilindungi dengan 3 kegelapan, diberi nutrisi yang kemudian menjadikan semua tahapan berlangsung baik hingga aku lahir, diberi kehangatan, ditiupkan kehidupan setelah 4 bulan perkembangan air mani di dalam tempat yang kukuh itu. Hmm… Aku tahu, Allah menitipkan “aku” kepada ibuku yang seorang guru SD kelas 5 itu karena memang tangan suci ibuku itulah yang akan mendidikku menjadi manusia seutuhnya, yang menyadari siapa dirinya.
Pun Allah mengulurkan kasih sayang, cinta, perhatian, perlindungan, pertolongan, dan nikmat-nikmat lain melalui ibuku. Melalui ASI yang diberikan dengan penuh cinta hingga aku umur 2 tahun. Melalui kecupan sayang ketika aku akan berangkat sekolah. Melalui rintihan doa yang mengalun lembut usai menegakkan sholat. Melalui marahnya. Melalui senyumnya. Melalui kerja kerasnya mengajar ke tempat di lereng pegunungan yang jauh dari tempat tinggal, lalu pindah ke tempat yang sama jauhnya, lalu pindah lagi ke tempat yang jauh dari kota namun dekat dengan rumah kontrakan waktu itu hingga sampai saat ini menetap di sebuah sekolah di kabupaten seberang yang ditempuhnya dengan antar jemput oleh bus besar ataupun angkot. (Itulah ibuku, guru SD yang gigih menjaga dan memperbaiki moral murid-muridnya agar tidak terseret arus modernisasi seperti sekarang ini.) Ataupun melalui manisnya kue brownies yang khusus dibuat ketika anaknya pulang. Hahaha… Ah, senangnya… Melalui nikmatnya “Jangan Lombok” yang membuat ketagian itu meskipun hanya dimakan dengan krupuk beras (karak-red). Atau melalui selimut yang diselimutkan ke anak-anaknya ketika sudah terlelap.
Ibuku memang luar biasa bukan? Makanya Allah menitipkanku kepada bu Purwati, ibuku tercinta itu. “Wes jam 2 lho nduk, gek ndang maem,” itu salah satu bukti cintanya, tak menginginkan anaknya telat makan. Sudah jam dua siang, segera makan!
(12112010-kontrakan)

Tak Lengah Meski Lelah

Pemandangan yang selalu menyejukkan hati adalah pemandangan tentang anak dan orang tua. Selalu penuh cinta. Selalu membuat bahagia.
Lagi-lagi, cerita dari barang kotak panjang bernama kereta.
Seorang wanita muda sedang asyik bermain-main handphone-nya yang sekelas Black berry. Sedikit menarik perhatian, aku pun memperhatikan wanita (karier sepertinya) yang ada di depanku itu. Oh, ternyata bermain facebook. Ada yang menarik, meskipun mbak yang satu itu asyik bermain di dunia maya, tangan keibuannya tetap erat memegang anak kecil laki-laki di sampingnya. Dari gelagatnya, anak laki-laki nan ganteng itu putra semata wayang wanita cantik di depanku. Ah, pemandangan yang mengagumkan. Belum lagi senyuman hangat yang dipersembahkan dari wanita cantik yang masih muda itu, khusus untuk anak tercinta yang sesekali memeluknya penuh manja.
Seperti tak mau kalah dengan belaian sayang mbak di depanku tadi, seorang bapak paruh baya yang duduk tak jauh dari tempatku berdiri pun menyuguhkan cinta yang indah. Bapak paruh baya itu ditemani dua anak kecil, dengan perawakan cukup berisi (gendut-red). Hahaha. Mungkin kalau di sekolah mereka bisa dipanggil gembul oleh teman-temannya. Meski tertidur pulas menikmati perjalanan kereta Jogja-Solo, kedua tangannya tak pernah lepas dari dua anak kecil di kanan kirinya itu. Hmm… Pertanda penjagaan yang luar biasa. Tak lengah meski lelah.
(25102010 & 12112010, kontrakan)

Pak Kenek yang OKE punya!

Orang memilki cara masing-masing untuk terhindar dari kebosanan rutinitasnya. Seperti yang dilakukan oleh para kenek bus yang aku temui beberapa hari ini. Kenek bus Wahyu Putra yang melaju dari Solo menuju Sukoharjo. Hahaha… Ia menghibur dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya dengan bertegur sapa kepada semua orang. Salah satunya adalah segerombolan penumpang yang masih remaja sore itu. Bus sudah penuh sesak oleh penumpang. “Ayo, maju, maju, maju tak gentar!!!”, teriak sang kenek penuh semangat. Sederhana dan jayus memang. Akan tetapi, agaknya jurus itu cukup manjur untuk membuat para penumpangnya itu tersenyum bahagia dan mau maju demi rapinya deretan penumpang. Lain lagi sapaan yang beliau berikan pada ibu-ibu di pasar Gemblekan, “Halo bu mertua…”, hahahaha, padahal rasa-rasanya bukan ibu itu mertuanya. Lagi. Ketika ada seorang nenek mau turun dari bus, sapaan yang dilontarkan sang kenek beda lagi, “Awas, awas, perawan e meh mudun”. Hahaha. Ada-ada saja si bapak satu ini… Itulah, cara menghibur diri sendiri karena jelas saja kebosanan selalu menghampiri pekerjaan yang monoton, yang dijalani sepanjang hari dan setiap hari, seperti profesi kenek ini. Moga-moga rame terus pak bis e…
(25102010, 19.30 – kontrakan)

11.11.2010

Semoga kau lekas sembuh ya, Merapi...

Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan kepadamu, merapi. Hmm, melihatmu batuk-batuk selama dua minggu lebih ini membuatku selalu bertanya-tanya, sebenarnya apa yang sedang kau rasakan? 
Adakah pesan yang ingin kau sampaikan? 
Teman, keluarga, dan saudara-saudaraku sampai mengkhawatirkanku karena kau masih saja belum sembuh dari batukmu itu, padahal aku tidak kenapa-kenapa. Ada apa sebenarnya denganmu, wahai merapi?
Bahkan kau sudah membuat rumah-rumah itu menjadi serba putih atau bahkan ambruk karena hembusan 'hangat' dari puncakmu, hewan-hewan ternak yang menjadi sumber penghidupan mereka pun ikut terpanggang, pohon-pohon tumbang karena tak kuat menahan butiran-butiran yang jatuh berguguran, dan kini tempat-tempat di kota menjadi singgasana sementara masyarakat yang hidup di lerengmu. Aku tahu dan semua orang juga tahu, kau ingin menyampaikan sesuatu atas semua yang terjadi ini. 
Kau menyiratkan sesuatu atas tingkah lakumu yang tak biasa itu bukan?
Kau pasti ingin menyampaikan perintah ALLAH, Tuhan Seru Sekalian Alam, dalam keheningan malam, sejuknya pagi, dan hangatnya siang dengan aktivitasmu sekarang ini...
Kau memang selalu punya cara untuk menunjukkan kekuasaan Allah Yang Maha Agung.
Bahkan dalam diammu, kau pun menyampaikan pesan betapa Kuasanya Allah atas alam ini. 
Dengan keberadaanmu, bumi menjadi punya pondasi kan?
Banyak nyawa yang melayang meninggalkan raga, ternak-ternak kebanggaan warga pun tak jadi kebanggaan lagi karena tak kuat menahan panasnya awan panas, yang masih diberi kesempatan hidup ada yang tergusur dari rumahnya karena kau dikatakan masih mengancam. 
Apakah itu semua karena kami terlalu mencintai sesuatu yang sebenarnya bukan milik kami?
Ya, memang seharusnya kami tidak terlalu mencintai segala rupa hal yang melekat di diri kami. Karena itu semua hanyalah titipan ALLAH bukan? 

Terkadang kami sudah diberi nikmat oleh Allah yang begitu melimpah, tapi sepertinya masih banyak yang belum bersyukur. 
Apakah itu pula yang ingin kau sampaikan?
Bahwa kami harus lebih bersyukur?

Kini, banyak air mata yang tumpah...
Namun, banyak pula jiwa-jiwa penolong yang hadir, jiwa-jiwa yang rela membagi waktu, tenaga, dan hartanya untuk membantu saudara-saudaranya yang sedang dilanda musibah ini...
Apakah ini yang ingin kau sampaikan?
Agar kami belajar meringankan beban saudara kami...

Ya Allah, jadikan kami hambaMu yang senantiasa belajar dan bersyukur atas semua kejadian. Amiin..
Semoga kau lekas sembuh ya, Merapi...